Mungkin ini adalah tradisi
Setiap waktu-waktu akhir
Ada suatu ketenangan
Mungkin ini terlalu subjektif
Tapi ini yang kutangkap
Sebelum tutup usia
Hari ini aku lupa mencoret
Coret-moret di atas ruang
Aku lupa nasihat sang hari
kutulis ini pun saat yang lain
ah sudahlah...
Aku mau tenggelam
Sendirian
Sampai saatnya muncul
Oleh: Arkadus Ianuar Guntur_LudungKole.blogspot.com
(ditulis pada sebuah malam yang tenang di bawah kabut desa Mataloko, Ngada - Flores, NTT. Selasa, 26 Mei 2015)
Kamis, 09 Juli 2015
MENCARI HERUCOKRO DALAM ‘LUMPUR’GLOBALISASI
Kepengarangan
Remy Sylado adalah salah satu
dari nama samaran yang digunakan oleh Japi
Panda Abdiel Tambayong (samaran lain yang biasa digunakannya ialah Dova
Zalit, Alit Danya Munsyi, Juliana C. Panda, dan Jubal Anak Perang Immanuel) .
Pria ini lahir di tanah para penakluk lautan, Makassar, pada tanggal 12 Juni
1945.
Remy juga dikenal
sebagai seorang Munsyi (ahli di bidang bahasa). Dalam karya fiksinya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama
yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa,
selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya
didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin
ketik ini juga banyak
melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan
kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.
Ia memulai
kariernya sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi
Sinematografi Bandung (sejak 1971),
ketua Teater Yayasan
Pusat Kebudayaan Bandung. Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi,
dramaturgi, bahasa, dan teologi.
Selain aktif sebagai penulis, dia juga
aktif mengajar teater, senirupa, music, dan agama. Karya tulisnya banyak
diterjemahkan ke bahasa Jerman, Australia, Belanda, Amerika, dan Jepang.
Karya-karya yang sudah
dipublikasikan, antara lain.
- Orexas.
- Gali Lobang Gila Lobang.
- Siau Ling
- Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa), 1999; diangkat menjadi film Ca Bau Kan yang disutradarai Nia di Nata dan dirilis tahun 2002.
- Kerudung Merah Kirmizi, 2002
- Kembang Jepun, 2003
- Parijs van Java, 2003
- Menunggu Matahari Melbourne 2004
- Sam Po Kong, 2004?
- Puisi Mbeling 2005
- Rumahku di Atas Bukit
- 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing
- Drama Musikalisasi Tarragon "Born To Win"
- Novel
Pangeran Diponegoro
Filmografi
- Pesta (1991)
- Tutur Tinular IV (1992)
- Capres (Calo Presiden) (2009)
Hubungan Buku dengan Tema Aktual
Menurut Plato, suatu komunitas
harus diperintah oleh individu yang lebih unggul. Indonesia telah menjalani
masa penjajahan selama 350 tahun yang penuh dengan penderitaan (Soelaeman, M.
Munandar. 2000. Ilmu Sosial Dasar. Hal 148). Dalam hal ini
apa yang dikatakan oleh Plato menjadi benar bahwa bangsa koloni (Belanda)
memang memiliki keunggulan yang sangat menonjol dibandingkan dengan bangsa
Indonesia. Oleh karena itu, mereka
memerintah komunitas Indonesia selama lebih dari 3 abad.
Seiring berjalannya waktu,
perubahan masyarakat tradisional pun terjadi dalam jejak langkah menuju
kemerdekaan. Perubahan menuju masa modern itu ditandai dengan perubahan pola
pikir yang pada akhirnya dapat disatukan untuk menuntaskan penderitaan yang
selama ini disebabkan oleh para penjajah. Hasil dari perjuangan para pahlawan
kita waktu itu begitu terasa pada kata ‘merdeka’. Sayangnya, realita yang
terjadi pada kehidupan masyarakat Indonesia abad ke 21 ini menjadi antitesis
dari kemerdekaan. Kata ‘merdeka’ dijadikan pajangan dan hanya menjadi catatan
sejarah yang disimpan rapi dalam lemari kaca yang dihias indah. ‘merdeka’ menjadi
sebuah kata yang tidak bermakna di tengah arus globalisasi, karena saat ini
masyarakat Indonesia kembali dijajah oleh arus global yang sering
di-sama-artikan dengan perkembangan teknologi.
Teknologi yang berkembang pesat,
meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Masa sekarang tampaknya
sulit memisahkan kehidupan manusia dengan teknologi, bahkan sudah merupakan
kebutuhan manusia. Awal perkebambangan teknik yang
sebelumnya merupakan bagian dari ilmu atau bergantung dari ilmu, sekarang ilmu
dapat pula bergantung dari teknik. (Soelaeman, M. Munandar. 2000. Ilmu
Sosial Dasar. Hal 217). Sungguh sangat disayangkan melihat realita miris
yang terjadi pada zaman modern ini. Seolah rasa nasionalisme dan patriotisme para
pejuang yang darahnya tertumpah ketika merebut kemerdekaan, digantikan perannya
dengan teknologi. Dengan kata lain rasa kebangsaan kita sudah dibutakan oleh
teknologi.
Menanggapi realita miris ini,
Japi Tambayong (=Remy Sylado) mencoba mencambuki masyarakat Indonesia saat ini
agar sadar dan kembali meresapi apa arti dari rasa kebangsaan. Melalui sosok
Pangeran Diponegoro yang menjadi salah satu tokoh pejuang kemerdekaan yang
cendekia dan mawas menanggapi zaman, Japi ingin menunjukkan betapa seorang ‘pejuang
dulu’ begitu meresapi arti dari kemerdekaan. Jika ditanyakan mengapa digunakan
tokoh Pangeran Diponegoro, saya kira jawabannya adalah karena kita semua yang
hidup di bumi Indonesia ini adalah seorang pejuang,
kita adalah Herucokro. Namun, tidak
bisa disangkal pula bahwa Japi mengundang kembali sosok pahlawan baru, sosok
seorang Herucokro yang mampu
mengatasi masalah-masalah politik, sosial, budaya, keamanan, teknologi, dan
kemanusiaan yang terjadi terang-terangan di depan mata kita dan sampai detik
ini masih menjajah bangsa Indonesia. Perihal undangan ini dapat dihayati lebih
khidmat melalui judul bukunya ini, ‘…,
Menggagas Ratu Adil.’
Sinopsis
Menjadi seorang Ratu Adil merupakan satu tugas yang sudah
mendarah daging dalam dirinya. Sejak masa kecilnya, di dalam dirinya sudah
ditanamkan ilmu-ilmu nan luhur yang kiranya akan digunakannya nanti saat
memimpin perang sucinya. Dia adalah Ontowiryo putra dari Gusti Raden Mas
Suroyo. Awal perjumpaannya dengan penjajah Belanda saat umurnya masih sangat
belia. Ketika itu ia sedang memancing di seberang kali Winongo di desa
Tegalrejo, dan tiba-tiba muncul seorang Belanda. Spontan ia pun berteriak bahwa
Belanda tersebut adalah setan.
Sejak kecil ia dibesarkan oleh eyang buyutnya, Ratu
Ageng, istri dari Hamengku Buwono I. Eyangnya ini sangat ingin agar Ontowiryo
menjadi Herucokro yang mampu
membebaskan masyarakat bangsa Jawa dari kolonialisme dan imperialisme
Belanda. Oleh karena itu, Ontowiryo disekolahkan di Perdikan Mlangi. Di sinilah
Ontowiryo tumbuh semakin cendekia dalam usia yang masih belia.
Semakin hari, semakin tumbuh dan berkembanglah ia. Baik
itu dalam hal iman yang eyangnya sendiri yang menjadi mandornya dan ilmu dari
Perdikan Mlangi maupun dari buku-buku yang dibacanya. Demikian, pamannya,
Pangeran Bei, melatihnya untuk mahir dalam bermain galah, pedang, keris, serta
alat-alat perang lainnya. Semakin hari, ia semakin mahir. Tetapi, anehnya hatinya
pun semakin merendah.
Di sisi lain, Patih Danurejo II berfoya-foya dengan
persekongkolannya dengan Belanda. Dia membeberkan semua rencana perlawanan yang
dibuat oleh Hamengku Buwono II. Namun, kepicikannya itu segera terbongkar.
Orang dibalik itu semua adalah toleknya (=penerjemah bahasa) sendiri, Raden Mas
Sunarko. Kala itu Danurejo II dan Raden Mas Sunarko sebagai tolek, serta Jan
Willem Van Rijnst sebagai ilmuwan Belanda yang ahli juga dalam bahasa,
membeberkan lebih luas rencana perlawanan Kraton kepada Gubernur Jendral
Daendels. . Setelah pertemuannya dengan Gubernur Jendral baru, Herman Willem
Daendels di Buitenzorg (Sekarang Istana Bogor), Danurejo langsung mendapatkan
hadiah pahit ketika tiba di Kraton, sebab dia langsung ditangkap oleh Adipati
Anom (Ayah Ontowiryo) dan dieksekusi mati dihadapan seluruh masyarakat Kraton.
Semua ini dilakukan atas perintah Sultan Sepuh (Hamengku Buwono II) kepada
Adipati Anom.
Lama setelah matinya Danurejo II, Daendels bersama
seluruh pasukannya datang menuju Kraton dengan maksud untuk memakzulkan Sultan
Sepuh. Hal ini juga merupakan hasil dari hasutan Residen Weise dan Van Rijnst.
Namun, maksud kehadirannya tidak sejalan dengan perkiraan Sultan Sepuh. Dia
berkipir bahwa, Gubernur Jendral Daendels datang untuk bersilahturahmi. Segera
setelah tiba, Daendels memerintahkan pasukannya untuk segera menangkap Sultan
Sepuh dan memakzulkan dia. Ontowiryo yang sempat hadir pun merasa sangat marah
dengan kelakuan Gubernur tersebut. Hampir saja dia menyarangkan kerisnya ke leher
Gubernur, syukurlah bahwa pamannya, Pangeran Mangkubumi, dan ibunya, Raden Ajeng
Mangkarawati, berhasil menahan
amarahnya. Sultan Sepuh pun digantikan oleh anaknya Adipati Anom, dengan gelar
Hamengku Buwono III, juga bahwa dia langsung ditunjuk oleh Daendels dihadapan
semua warga Kraton untuk menggantikan ayahnya itu.
Sesuai dengan nazar yang pernah diberitahukannya kepada
neneknya, Ratu Ageng. Ayah Ontowiryo. Dia akan memberikan gelar kepada
Ontowiryo. Saat ditanyakan langsung oleh ayahnya itu, Ontowiryo ingin
menggunakan nama moyangnya, Pangeran Sungkawa : Pangeran Diponegoro. Sejak saat itulah dia dikenal dengan nama
barunya itu.
…
Penilaian
Keunggulan
·
Novel Sejarah
Novel yang ditulis oleh remy
Sylado ini merupakan novel ilmiah yang seluruh isinya merupakan ulasan rinci
kehidupan Pangeran Diponegoro. Dimulai dari masa kecilnya hingga masa saat Diponegoro
menemukan makna kehidupan. Novel ini termasuk dalam novel
dokumenter, karena melukiskan kembali sebuah sejarah. Novel ini menjadi representasi
perkataan Soekarno saat pidato perdananya, “JAS MERAH” (=JAngan
Sekali-sekali MElupakan sejaRAH). Dari sini, jelas bahwa Remy meng-amin-kan
perkataan Soekarno, karena dengan adanya sejarah kita bisa hidup lebih baik di
masa depan. Artinya, sejarah merupakan sumber reflektif yang
paling baik terutama bila sejarah itu meninggalkan bekas luka yang cukup dalam.
Joseph Campbell pernah berkata, “hanya bila kita jatuh ke dalam jurang, kita
akan temukan harta kehidupan. Di tempat kita tersandunglah harta itu terletak.
Gua dalam yang tidak berani kamu masuki sesungguhnya menjadi tempat yang selama
ini kamu cari.” Sejarah kelam akan membangkitkan semangat kita untuk berubah ke arah yang lebih baik.
·
Bahasa Penulisan yang Unik
Dalam setiap karya tulisnya, Remy
Sylado sering mengenalakan kata-kata bahasa Indonesia yang lama yang sangat
jarang dipakai. Oleh karena itu, Remy dikenal sebagai Munsy atau ahli bahasa. Cara unik Remy ini menunjukkan secara
gambling kecintaannya pada tanah air. Konsistensinya dalam menggunakan bahasa
Indonesia yang jarang dipakai menggambarkan rasa nasionalisme dan patriotisme
seorang pejuang bangsa. Penggunaan kata-kata tersebut juga membawa pembaca
untuk lebih dalam menyelami kehidupan Pangeran Diponegoro. Dari sini pula, kita
diajak untuk menumbuhkan kembali rasa nasionalisme seorang pujuang, Herucokro di zaman global ini. Memang
sulit untuk meniru gaya Remy, tetapi setidaknya sejarah harus betul-betul
diresapkan di dalam hati dan menunjukkan rasa nasionalisme dan patriotisme seorang
Herucokro.
·
Sosok Herucokro yang tampak melalui sosok Pageran Diponegoro dan Sunan Kalijogo
Pangeran Diponegoro merupakan
sosok Herucokro secara jasmani maupun
rohani. Sejak kecil ia sudah dilatih untuk taat pada agama, terbukti dari
pendalamannya di Perdikan Mlangi. Di sini, seperti halnya di sekolah, dia
diajarkan ilmu-ilmu dasar yang membantunya berkembang ke arah kematangan iman.
Nenek buyutnya pula turut membantunya dalam pembagunan imannya. Selain mahir
dalam kerohaian, Diponegoro juga diajarkan oleh pamannya, Pangeran Bei dan
Pangeran Mangkubumi, dalam hal penggunaan alat-alat perang. Pada tingkat
kemahiran yang luar biasa yang juga diakui oleh kedua pamannya dan seluruh
masyarakat di sana, Diponegoro justru merendah dengan menyucikan diri dengan
bertapa. Sosok Herucokro ataupun Amirulmikminin Panatogomo Kalifatullah juga dibuktikan
oleh Sunan Kalijogo dalam gagasannya mencipta Punokawan: Semar, Petruk, Gareng,
Bagong, yaitu leluri Islam di atas leluri Hindu (Sylado, Remy. 2007. Novel Pangeran Diponegoro, Menggagas Ratu
Adil. Hal 70)
·
Aspek-aspek kehidupan
Bijaksana. Seorang pemimpin harus
bijaksana dalam bertindak, bersikap, mendengar, dan berkata. Aspek ini dapat
ditemukan dalam sosok Ratu Ageng. Ratu Ageng adalah tokoh utama yang bergerak
di balik layar. Dia memimpin Pangeran Diponegoro dan petinggi-petinggi lainnya
di Kraton. Dia bersikap tegas menolak Belanda dan juga memberikan wejangan-wejangan
yang sangat akurat untuk dilakukan oleh Diponegoro dan petinggi lainnya dalam
menghadapi Belanda, tetapi sebagai tokoh yang berada di balik layar beliau
tidak langsung adu fisik dengan Belanda. Seorang pemimpin harus bisa bijak
dalam bertindak, bersikap, mendengar, dan berkata, seperti halnya ratu Ageng.
Namun, sedikit penambahan pada keberanian untuk adu fisik dengan zaman ini juga
suatu kreativitas yang patut ditambahkan.
Kejujuran. Dalam aspek ini, Raden Mas
Sunarko menjadi sorotan utamanya, karena dapat diketahui dalam cerita bahwa dia
sangat menjunjung nilai kejujuran. Terbukti dari eksekusi Patih Danurejo II.
Dia adalah dalang dari keputusan tersebut. Dia sudah muak berada dalam
permainan Danurejo II dengan Belanda, dan tidak sega-segan dia laporakan
tindakan danurejo II itu kepada Ratu Ageng, Ontowiryo, Pangeran Bei dan
Mangkubui, serta Hamengku Buwono II dan III. Menjadi pemimpin harus bisa
tanggap terhadap setiap penipuan dengan sikap jujur. Jujur terhadap diri
sendiri dan terhadap sesama.
Simpati dan empati.
Ketika elihat mayat seorang petani yang sudah mulai membusuk di pematang sawah
Ontowiryo lagsung menyuruh warga sekitar yang ketakutan untuk segera mengubur
mayat tersebut secara layak. Pada bagian ini, secara tidak langsung Remy menggambarkan
aspek simpati dan empati yang ditunjukka oleh Ontowiryo. Sang Herucokro ini merasa sangat marah ketika
baru pulang dari pertapaannya menemukan salah seorang warganya tergeletak tanpa
nyawa di pematang sawah dan membusuk adalah sikap simpati. Ketika ia
memerintahkan warga untuk menguburkan mayat tersebut, dari sini dapat dilihat
aspek simpati dan aspek empati. Merasakan dan bertindak adalah cirri khas yang
digalang oleh sosok Herucokro ini,
karena seorang Heruckro adalah sosok
pemimpin yang harus bisa mendengarkan suara-suara kecil masyarakat yang bisu.
Tegas. Pada aspek ini, Remy tampaknya
membuka ruang untuk pemeran antagonis, Herman Willem Daendels. Walaupun hadir
dalam balutan tokoh yang jahat, tetapi nilai ketegasan merupakan nilai positif
yang berhasil dibangunnya. Terbukti ketika pembuatan jalan raya Anyer-Panurukan,
Daendels begitu tegas pada setiap perintahnya.
Berani untuk belajar. Tokoh
antagonis kali ini adalah Van Rijnst. Dia menjadi sumber inspirasi para
pemimpin untuk terus belajar. Ia adalah ilmuwan Belanda yang menurut Raden Mas
Sunarko adalah ‘kutu loncat’, mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar.
Terbukti dari kemampuannya untuk berbahasa Jawa, padahal ia baru tiga bulan di
sana.
Kekurangan
·
Kualitas Kertas
Kertas yang digunakan dalam novel
Remy ini merupakan kertas daur ulang yang notabenenya berlatar gelap. Sehingga
tulisan yang dicetak hitam menjadi sedikit sama dengan latarnya. Walaupun
penggunaan kertas daur ulang ini adalah salah satu bentuk kepedulian
lingkungan, tetapi ketika kepedulian itu menimbulkan masalah maka akan ada keluhan
meskipun itu sedikit.
·
Gelar Tokoh
Sebagai novel sejarah yang
mempunyai tingkat akurasi waktu dan peristiwa yang bisa dipercaya, sudah
sepantasnya Remy menuliskan apa adanya menurut sejarahnya. Namun, satu hal yang
saya kira perlu diingat, yakni bukunya ini adalah novel. Novel mempunyai sifat
menghibur. Oleh karena itu, sebaiknya nama ataupun gelar yang dipakai sebaiknya
tidak terlalu banyak ataupun terlalu panjang. Seperti halnya Pangeran
Diponegoro yang mempunyai nama Ontowiryo, Seh Ngabdulrohim, dan gelarnya
Pangeran Diponegoro.
·
Glosarium
Penggunaan kata-kata Arkai yang
dipakai oleh Rey Sylado dalam setiap novelnya memang merupakan satu keunikan
dan keunggulan dalam tulisannya. Namun, satu hal yang saya kira dilupakan oleh
Remy adalah glosarium. Penggunaan kata-kata Arkai yang terlampau banyak dapat
menyebabkan kebingungan bagi para pembaca. Bahkan pernah disampaikan oleh Rika
Yunita dalam blog-nya yang mengupas tentang biografi Remy Sylado yang diposkan
Selasa, 8 Mei 2012, demikian, “bahkan penggunaan kata istilah yang ada dalam
karya tulis beliau belum tentu ada di kamus Bahasa Indonesia, sebab beliau
menggunakan istilah kata dari beragam bahasa, seperti Bahasa Sansekerta, Jawa,
Sunda, Menado, Betawi, Ambon, dan beberapa bahasa asing lainnya.”
·
Latar Tempat
Latar tempat yang disajika dalam
novel ini tidak dirincikan secara jelas. Sperti halnya desa Tegalrejo. Tempat
ini tidak digambarkan letaknya secara jelas. Seperti letaknya di Pulau Jawa,
berbatasan dengan apa, dan sebagainya. Hal ini menyulitkan para pembaca yang
belum pernah menelusuri Pulau Jawa, juga akan mengalami kesulitan untuk lebih
dalam menyelam ke dalam sejarah tempat tersebut.
Kesimpulan
Kebanyakan dari kita pernah
belajar dan merasakan perubahan. Namun, berubah bukanlah suatu hal yang mudah.
Begitu pula yang terjadi dalam sejarah Indonesia. Perubahan masyarakat tradisional
ke arah modern menimbulkan pergeseran peran serta fungsi lama ke yang baru.
Pergeseran-pergeseran tersebut melahirkan teori-teori baru dalam kehidupan
bangsa. Namun, pada intinya kita tidak akan dihukum oleh perubahan, melainkan
dididik. Kejadian apapun berpotensi mengubah diri kita. Demikian pula, setiap
musibah berpotensi besar mengubah pemikiran. Bertindaklah seolah-olah setiap
peristiwa memiliki tujuan, sehingga kamu juga mempunyai tujuan hidup.
Ketahuilah mengapa kamu memerlukan pengalaman, mengatasinya sehingga kamu tidak
memerlukannya lagi.
Berbicara tentang perubahan yang
dialami oleh Indonesia, sosok Pangeran Diponegoro tampil sebagai Herucokro yang membawa perubahan besar
dalam sejarah Indonesia. Perubahan yang nantinya menyesakkan napas Belanda ini
berupa perang Diponegoro yang dilatarbelakangi oleh kemarahan warga dan
Pangeran Diponegoro terhadap tingkah laku Belanda yang sewenang-wenang.
Mencari Herucokro dalam ‘lumpur’globalisasi. Frank LIoyd Wright pernah
mengatakan, “segalanya tercapai kalau kamu yakin; keyakinanlah yang membuat
segalanya tercapai.” Bertolak dari pernyataan Wright ini, Remy Sylado
menampilkan sosok Diponegoro sebagai Herucokro
yang dinanti-nantikan dan diyakini kemampuannya, baik oleh keluarganya
maupun masyarakat Kraton dan Tegalrejo. Dia adalah Ratu Adil yang akan
menyelamatkan masyarakatnya dari cengkraman Belanda. Berkaitan dengan ini, Remy
yakin bahwa di dalam ‘lumpur’globalisasi yang menenggelamkan masyarakat
Indonesia, aka nada seorang Herucokro yang
mampu membersihkan masyarakat dari lumpur-’lumpur’globalisasi. Keyakinannya ini
sekiranya sudah mendapatkan titik terang ketika muncul sosok pemimpin modern
yang membersihkan sedikit ‘lumpur’tersebut. Sosok-sosok ini adalah Joko Widodo
dan Tri Rismaharini.
Sosok Pangeran Diponegoro yang
bijaksana terlihat dalam keputusan Jokowi yang tidak mengangkat anggota-anggota
partai sebagai menteri-menterinya, tetapi justru mengangkat para
wirausahawan/i. Hasilnya sekarang sudah bisa dirasakan. Sebut saja contohnya adalah
Menteri Kelautan, Ibu Susi. Kapal-kapal asing yang masuk daerah Indonesia dan
menangkap flora maupun fauna laut Indonesia langsung ditenggelamkan, dan saat
ini para pelaut di Indonesia mulai melihat kembali cahaya di laut mereka.
Sosok Diponegoro yang selalu
memperhatikan rakyat dapat ditemukan dalam diri Tri Rismaharini. Wanita dengan
julukan Wagiman- Wanita gila taman- ini berhasil menghijaukan kota Surabaya.
Kota Surabaya yang dulunya ber-‘lumpur’ kini menjadi kota hijau.
Keyakinan Remy Sylado ini memang
sudah membuahkan hasil. Namun, hasil ini masih sangat sedikit, dibandingkan
dengan ‘lumpur’ yang ada di masyarakat. Cambukan yang dibuat oleh Remy dalam Novel
Pangeran Diponegoro,… ini menuntut generasi muda untuk bisa memproduksi
lebih banyak lagi Herucokro-herucokro layaknya
Diponegoro. Kita harus belajar dari pengalaman. JAS MERAH!
Rekomendasi
Novel sejarah yang ditulis oleh
Remy Sylado ini sangat cocok bagi para remaja yang ingin hidupnya
dipersembahkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. Selain itu, cocok
juga bagi para pembaca yang ‘katanya’ anti sejarah, karena novel Remy ini
dikemas sedemikian rupa sehingga menarik untuk dibaca. Bahkan, sekali baca
dapat menyebabkan ketagihan untuk menelusuri sejarah lebih jauh.
Langganan:
Komentar (Atom)