Kamis, 09 Juli 2015

PUISI "MUNCUL SAATNYA"

Mungkin ini adalah tradisi
Setiap waktu-waktu akhir
Ada suatu ketenangan
Mungkin ini terlalu subjektif
Tapi ini yang kutangkap

Sebelum tutup usia
Hari ini aku lupa mencoret
Coret-moret di atas ruang
Aku lupa nasihat sang hari
kutulis ini pun saat yang lain

ah sudahlah...
Aku mau tenggelam
Sendirian
Sampai saatnya muncul

Oleh: Arkadus Ianuar Guntur_LudungKole.blogspot.com

(ditulis pada sebuah malam yang tenang di bawah kabut desa Mataloko, Ngada - Flores, NTT. Selasa, 26 Mei 2015) 



MENCARI HERUCOKRO DALAM ‘LUMPUR’GLOBALISASI



Kepengarangan
Remy Sylado adalah salah satu dari nama samaran yang digunakan oleh Japi Panda Abdiel Tambayong (samaran lain yang biasa digunakannya ialah Dova Zalit, Alit Danya Munsyi, Juliana C. Panda, dan Jubal Anak Perang Immanuel) . Pria ini lahir di tanah para penakluk lautan, Makassar, pada tanggal 12 Juni 1945.   
Remy juga dikenal sebagai seorang Munsyi (ahli di bidang bahasa). Dalam karya fiksinya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.
Ia memulai kariernya sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi.
Selain aktif sebagai penulis, dia juga aktif mengajar teater, senirupa, music, dan agama. Karya tulisnya banyak diterjemahkan ke bahasa Jerman, Australia, Belanda, Amerika, dan Jepang.
Karya-karya yang sudah dipublikasikan, antara lain. 
  • Orexas.
  • Gali Lobang Gila Lobang.
  • Siau Ling
  • Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa), 1999; diangkat menjadi film Ca Bau Kan yang disutradarai Nia di Nata dan dirilis tahun 2002.
  • Kerudung Merah Kirmizi, 2002
  • Kembang Jepun, 2003
  • Parijs van Java, 2003
  • Menunggu Matahari Melbourne 2004
  • Sam Po Kong, 2004?
  • Puisi Mbeling 2005
  • Rumahku di Atas Bukit
  • 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing
  • Drama Musikalisasi Tarragon "Born To Win"
  • Novel Pangeran Diponegoro

Filmografi
  • Pesta (1991)
  • Tutur Tinular IV (1992)
  • Capres (Calo Presiden) (2009)   
Hubungan Buku dengan Tema Aktual
Menurut Plato, suatu komunitas harus diperintah oleh individu yang lebih unggul. Indonesia telah menjalani masa penjajahan selama 350 tahun yang penuh dengan penderitaan (Soelaeman, M. Munandar. 2000.  Ilmu Sosial Dasar. Hal 148). Dalam hal ini apa yang dikatakan oleh Plato menjadi benar bahwa bangsa koloni (Belanda) memang memiliki keunggulan yang sangat menonjol dibandingkan dengan bangsa Indonesia.  Oleh karena itu, mereka memerintah komunitas Indonesia selama lebih dari 3 abad.
Seiring berjalannya waktu, perubahan masyarakat tradisional pun terjadi dalam jejak langkah menuju kemerdekaan. Perubahan menuju masa modern itu ditandai dengan perubahan pola pikir yang pada akhirnya dapat disatukan untuk menuntaskan penderitaan yang selama ini disebabkan oleh para penjajah. Hasil dari perjuangan para pahlawan kita waktu itu begitu terasa pada kata ‘merdeka’. Sayangnya, realita yang terjadi pada kehidupan masyarakat Indonesia abad ke 21 ini menjadi antitesis dari kemerdekaan. Kata ‘merdeka’ dijadikan pajangan dan hanya menjadi catatan sejarah yang disimpan rapi dalam lemari kaca yang dihias indah. ‘merdeka’ menjadi sebuah kata yang tidak bermakna di tengah arus globalisasi, karena saat ini masyarakat Indonesia kembali dijajah oleh arus global yang sering di-sama-artikan dengan perkembangan teknologi.
Teknologi yang berkembang pesat, meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Masa sekarang tampaknya sulit memisahkan kehidupan manusia dengan teknologi, bahkan sudah merupakan kebutuhan manusia. Awal perkebambangan teknik yang sebelumnya merupakan bagian dari ilmu atau bergantung dari ilmu, sekarang ilmu dapat pula bergantung dari teknik. (Soelaeman, M. Munandar. 2000.  Ilmu Sosial Dasar. Hal 217). Sungguh sangat disayangkan melihat realita miris yang terjadi pada zaman modern ini. Seolah rasa nasionalisme dan patriotisme para pejuang yang darahnya tertumpah ketika merebut kemerdekaan, digantikan perannya dengan teknologi. Dengan kata lain rasa kebangsaan kita sudah dibutakan oleh teknologi.
Menanggapi realita miris ini, Japi Tambayong (=Remy Sylado) mencoba mencambuki masyarakat Indonesia saat ini agar sadar dan kembali meresapi apa arti dari rasa kebangsaan. Melalui sosok Pangeran Diponegoro yang menjadi salah satu tokoh pejuang kemerdekaan yang cendekia dan mawas menanggapi zaman, Japi ingin menunjukkan betapa seorang pejuang dulu begitu meresapi arti dari kemerdekaan. Jika ditanyakan mengapa digunakan tokoh Pangeran Diponegoro, saya kira jawabannya adalah karena kita semua yang hidup di bumi Indonesia ini adalah seorang pejuang, kita adalah Herucokro. Namun, tidak bisa disangkal pula bahwa Japi mengundang kembali sosok pahlawan baru, sosok seorang Herucokro yang mampu mengatasi masalah-masalah politik, sosial, budaya, keamanan, teknologi, dan kemanusiaan yang terjadi terang-terangan di depan mata kita dan sampai detik ini masih menjajah bangsa Indonesia. Perihal undangan ini dapat dihayati lebih khidmat melalui judul bukunya ini, ‘…, Menggagas Ratu Adil.’           
  
Sinopsis
Menjadi seorang Ratu Adil merupakan satu tugas yang sudah mendarah daging dalam dirinya. Sejak masa kecilnya, di dalam dirinya sudah ditanamkan ilmu-ilmu nan luhur yang kiranya akan digunakannya nanti saat memimpin perang sucinya. Dia adalah Ontowiryo putra dari Gusti Raden Mas Suroyo. Awal perjumpaannya dengan penjajah Belanda saat umurnya masih sangat belia. Ketika itu ia sedang memancing di seberang kali Winongo di desa Tegalrejo, dan tiba-tiba muncul seorang Belanda. Spontan ia pun berteriak bahwa Belanda tersebut adalah setan.
Sejak kecil ia dibesarkan oleh eyang buyutnya, Ratu Ageng, istri dari Hamengku Buwono I. Eyangnya ini sangat ingin agar Ontowiryo menjadi Herucokro yang mampu membebaskan masyarakat bangsa Jawa dari kolonialisme dan imperialisme Belanda. Oleh karena itu, Ontowiryo disekolahkan di Perdikan Mlangi. Di sinilah Ontowiryo tumbuh semakin cendekia dalam usia yang masih belia.
Semakin hari, semakin tumbuh dan berkembanglah ia. Baik itu dalam hal iman yang eyangnya sendiri yang menjadi mandornya dan ilmu dari Perdikan Mlangi maupun dari buku-buku yang dibacanya. Demikian, pamannya, Pangeran Bei, melatihnya untuk mahir dalam bermain galah, pedang, keris, serta alat-alat perang lainnya. Semakin hari, ia semakin mahir. Tetapi, anehnya hatinya pun semakin merendah.
Di sisi lain, Patih Danurejo II berfoya-foya dengan persekongkolannya dengan Belanda. Dia membeberkan semua rencana perlawanan yang dibuat oleh Hamengku Buwono II. Namun, kepicikannya itu segera terbongkar. Orang dibalik itu semua adalah toleknya (=penerjemah bahasa) sendiri, Raden Mas Sunarko. Kala itu Danurejo II dan Raden Mas Sunarko sebagai tolek, serta Jan Willem Van Rijnst sebagai ilmuwan Belanda yang ahli juga dalam bahasa, membeberkan lebih luas rencana perlawanan Kraton kepada Gubernur Jendral Daendels. . Setelah pertemuannya dengan Gubernur Jendral baru, Herman Willem Daendels di Buitenzorg (Sekarang Istana Bogor), Danurejo langsung mendapatkan hadiah pahit ketika tiba di Kraton, sebab dia langsung ditangkap oleh Adipati Anom (Ayah Ontowiryo) dan dieksekusi mati dihadapan seluruh masyarakat Kraton. Semua ini dilakukan atas perintah Sultan Sepuh (Hamengku Buwono II) kepada Adipati Anom.
Lama setelah matinya Danurejo II, Daendels bersama seluruh pasukannya datang menuju Kraton dengan maksud untuk memakzulkan Sultan Sepuh. Hal ini juga merupakan hasil dari hasutan Residen Weise dan Van Rijnst. Namun, maksud kehadirannya tidak sejalan dengan perkiraan Sultan Sepuh. Dia berkipir bahwa, Gubernur Jendral Daendels datang untuk bersilahturahmi. Segera setelah tiba, Daendels memerintahkan pasukannya untuk segera menangkap Sultan Sepuh dan memakzulkan dia. Ontowiryo yang sempat hadir pun merasa sangat marah dengan kelakuan Gubernur tersebut. Hampir saja dia menyarangkan kerisnya ke leher Gubernur, syukurlah bahwa pamannya, Pangeran Mangkubumi, dan ibunya, Raden Ajeng Mangkarawati,  berhasil menahan amarahnya. Sultan Sepuh pun digantikan oleh anaknya Adipati Anom, dengan gelar Hamengku Buwono III, juga bahwa dia langsung ditunjuk oleh Daendels dihadapan semua warga Kraton untuk menggantikan ayahnya itu.
Sesuai dengan nazar yang pernah diberitahukannya kepada neneknya, Ratu Ageng. Ayah Ontowiryo. Dia akan memberikan gelar kepada Ontowiryo. Saat ditanyakan langsung oleh ayahnya itu, Ontowiryo ingin menggunakan nama moyangnya, Pangeran Sungkawa : Pangeran Diponegoro. Sejak saat itulah dia dikenal dengan nama barunya itu.
             
Penilaian
Keunggulan
·         Novel Sejarah
Novel yang ditulis oleh remy Sylado ini merupakan novel ilmiah yang seluruh isinya merupakan ulasan rinci kehidupan Pangeran Diponegoro. Dimulai dari masa kecilnya hingga masa saat Diponegoro menemukan makna kehidupan. Novel ini termasuk dalam novel dokumenter, karena melukiskan kembali sebuah sejarah. Novel ini menjadi representasi perkataan Soekarno saat pidato perdananya, “JAS MERAH” (=JAngan Sekali-sekali MElupakan sejaRAH). Dari sini, jelas bahwa Remy meng-amin-kan perkataan Soekarno, karena dengan adanya sejarah kita bisa hidup lebih baik di masa depan. Artinya, sejarah merupakan sumber reflektif yang paling baik terutama bila sejarah itu meninggalkan bekas luka yang cukup dalam. Joseph Campbell pernah berkata, “hanya bila kita jatuh ke dalam jurang, kita akan temukan harta kehidupan. Di tempat kita tersandunglah harta itu terletak. Gua dalam yang tidak berani kamu masuki sesungguhnya menjadi tempat yang selama ini kamu cari.” Sejarah kelam akan membangkitkan semangat kita untuk berubah ke arah yang lebih baik.
·         Bahasa Penulisan yang Unik
Dalam setiap karya tulisnya, Remy Sylado sering mengenalakan kata-kata bahasa Indonesia yang lama yang sangat jarang dipakai. Oleh karena itu, Remy dikenal sebagai Munsy atau ahli bahasa. Cara unik Remy ini menunjukkan secara gambling kecintaannya pada tanah air. Konsistensinya dalam menggunakan bahasa Indonesia yang jarang dipakai menggambarkan rasa nasionalisme dan patriotisme seorang pejuang bangsa. Penggunaan kata-kata tersebut juga membawa pembaca untuk lebih dalam menyelami kehidupan Pangeran Diponegoro. Dari sini pula, kita diajak untuk menumbuhkan kembali rasa nasionalisme seorang pujuang, Herucokro di zaman global ini. Memang sulit untuk meniru gaya Remy, tetapi setidaknya sejarah harus betul-betul diresapkan di dalam hati dan menunjukkan rasa nasionalisme dan patriotisme seorang Herucokro.
·         Sosok Herucokro yang tampak melalui sosok Pageran Diponegoro dan Sunan Kalijogo
Pangeran Diponegoro merupakan sosok Herucokro secara jasmani maupun rohani. Sejak kecil ia sudah dilatih untuk taat pada agama, terbukti dari pendalamannya di Perdikan Mlangi. Di sini, seperti halnya di sekolah, dia diajarkan ilmu-ilmu dasar yang membantunya berkembang ke arah kematangan iman. Nenek buyutnya pula turut membantunya dalam pembagunan imannya. Selain mahir dalam kerohaian, Diponegoro juga diajarkan oleh pamannya, Pangeran Bei dan Pangeran Mangkubumi, dalam hal penggunaan alat-alat perang. Pada tingkat kemahiran yang luar biasa yang juga diakui oleh kedua pamannya dan seluruh masyarakat di sana, Diponegoro justru merendah dengan menyucikan diri dengan bertapa. Sosok Herucokro ataupun Amirulmikminin Panatogomo Kalifatullah juga dibuktikan oleh Sunan Kalijogo dalam gagasannya mencipta Punokawan: Semar, Petruk, Gareng, Bagong, yaitu leluri Islam di atas leluri Hindu (Sylado, Remy. 2007. Novel Pangeran Diponegoro, Menggagas Ratu Adil. Hal 70)
·         Aspek-aspek kehidupan
Bijaksana. Seorang pemimpin harus bijaksana dalam bertindak, bersikap, mendengar, dan berkata. Aspek ini dapat ditemukan dalam sosok Ratu Ageng. Ratu Ageng adalah tokoh utama yang bergerak di balik layar. Dia memimpin Pangeran Diponegoro dan petinggi-petinggi lainnya di Kraton. Dia bersikap tegas menolak Belanda dan juga memberikan wejangan-wejangan yang sangat akurat untuk dilakukan oleh Diponegoro dan petinggi lainnya dalam menghadapi Belanda, tetapi sebagai tokoh yang berada di balik layar beliau tidak langsung adu fisik dengan Belanda. Seorang pemimpin harus bisa bijak dalam bertindak, bersikap, mendengar, dan berkata, seperti halnya ratu Ageng. Namun, sedikit penambahan pada keberanian untuk adu fisik dengan zaman ini juga suatu kreativitas yang patut ditambahkan.
Kejujuran. Dalam aspek ini, Raden Mas Sunarko menjadi sorotan utamanya, karena dapat diketahui dalam cerita bahwa dia sangat menjunjung nilai kejujuran. Terbukti dari eksekusi Patih Danurejo II. Dia adalah dalang dari keputusan tersebut. Dia sudah muak berada dalam permainan Danurejo II dengan Belanda, dan tidak sega-segan dia laporakan tindakan danurejo II itu kepada Ratu Ageng, Ontowiryo, Pangeran Bei dan Mangkubui, serta Hamengku Buwono II dan III. Menjadi pemimpin harus bisa tanggap terhadap setiap penipuan dengan sikap jujur. Jujur terhadap diri sendiri dan terhadap sesama.
Simpati dan empati. Ketika elihat mayat seorang petani yang sudah mulai membusuk di pematang sawah Ontowiryo lagsung menyuruh warga sekitar yang ketakutan untuk segera mengubur mayat tersebut secara layak. Pada bagian ini, secara tidak langsung Remy menggambarkan aspek simpati dan empati yang ditunjukka oleh Ontowiryo. Sang Herucokro ini merasa sangat marah ketika baru pulang dari pertapaannya menemukan salah seorang warganya tergeletak tanpa nyawa di pematang sawah dan membusuk adalah sikap simpati. Ketika ia memerintahkan warga untuk menguburkan mayat tersebut, dari sini dapat dilihat aspek simpati dan aspek empati. Merasakan dan bertindak adalah cirri khas yang digalang oleh sosok Herucokro ini, karena seorang Heruckro adalah sosok pemimpin yang harus bisa mendengarkan suara-suara kecil masyarakat yang bisu.
Tegas. Pada aspek ini, Remy tampaknya membuka ruang untuk pemeran antagonis, Herman Willem Daendels. Walaupun hadir dalam balutan tokoh yang jahat, tetapi nilai ketegasan merupakan nilai positif yang berhasil dibangunnya. Terbukti ketika pembuatan jalan raya Anyer-Panurukan, Daendels begitu tegas pada setiap perintahnya.
Berani untuk belajar. Tokoh antagonis kali ini adalah Van Rijnst. Dia menjadi sumber inspirasi para pemimpin untuk terus belajar. Ia adalah ilmuwan Belanda yang menurut Raden Mas Sunarko adalah ‘kutu loncat’, mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar. Terbukti dari kemampuannya untuk berbahasa Jawa, padahal ia baru tiga bulan di sana.     

Kekurangan
·         Kualitas Kertas
Kertas yang digunakan dalam novel Remy ini merupakan kertas daur ulang yang notabenenya berlatar gelap. Sehingga tulisan yang dicetak hitam menjadi sedikit sama dengan latarnya. Walaupun penggunaan kertas daur ulang ini adalah salah satu bentuk kepedulian lingkungan, tetapi ketika kepedulian itu menimbulkan masalah maka akan ada keluhan meskipun itu sedikit.   
·         Gelar Tokoh
Sebagai novel sejarah yang mempunyai tingkat akurasi waktu dan peristiwa yang bisa dipercaya, sudah sepantasnya Remy menuliskan apa adanya menurut sejarahnya. Namun, satu hal yang saya kira perlu diingat, yakni bukunya ini adalah novel. Novel mempunyai sifat menghibur. Oleh karena itu, sebaiknya nama ataupun gelar yang dipakai sebaiknya tidak terlalu banyak ataupun terlalu panjang. Seperti halnya Pangeran Diponegoro yang mempunyai nama Ontowiryo, Seh Ngabdulrohim, dan gelarnya Pangeran Diponegoro.  
·         Glosarium
Penggunaan kata-kata Arkai yang dipakai oleh Rey Sylado dalam setiap novelnya memang merupakan satu keunikan dan keunggulan dalam tulisannya. Namun, satu hal yang saya kira dilupakan oleh Remy adalah glosarium. Penggunaan kata-kata Arkai yang terlampau banyak dapat menyebabkan kebingungan bagi para pembaca. Bahkan pernah disampaikan oleh Rika Yunita dalam blog-nya yang mengupas tentang biografi Remy Sylado yang diposkan Selasa, 8 Mei 2012, demikian, “bahkan penggunaan kata istilah yang ada dalam karya tulis beliau belum tentu ada di kamus Bahasa Indonesia, sebab beliau menggunakan istilah kata dari beragam bahasa, seperti Bahasa Sansekerta, Jawa, Sunda, Menado, Betawi, Ambon, dan beberapa bahasa asing lainnya.”  
·         Latar Tempat
Latar tempat yang disajika dalam novel ini tidak dirincikan secara jelas. Sperti halnya desa Tegalrejo. Tempat ini tidak digambarkan letaknya secara jelas. Seperti letaknya di Pulau Jawa, berbatasan dengan apa, dan sebagainya. Hal ini menyulitkan para pembaca yang belum pernah menelusuri Pulau Jawa, juga akan mengalami kesulitan untuk lebih dalam menyelam ke dalam sejarah tempat tersebut.   

 Kesimpulan
Kebanyakan dari kita pernah belajar dan merasakan perubahan. Namun, berubah bukanlah suatu hal yang mudah. Begitu pula yang terjadi dalam sejarah Indonesia. Perubahan masyarakat tradisional ke arah modern menimbulkan pergeseran peran serta fungsi lama ke yang baru. Pergeseran-pergeseran tersebut melahirkan teori-teori baru dalam kehidupan bangsa. Namun, pada intinya kita tidak akan dihukum oleh perubahan, melainkan dididik. Kejadian apapun berpotensi mengubah diri kita. Demikian pula, setiap musibah berpotensi besar mengubah pemikiran. Bertindaklah seolah-olah setiap peristiwa memiliki tujuan, sehingga kamu juga mempunyai tujuan hidup. Ketahuilah mengapa kamu memerlukan pengalaman, mengatasinya sehingga kamu tidak memerlukannya lagi.
Berbicara tentang perubahan yang dialami oleh Indonesia, sosok Pangeran Diponegoro tampil sebagai Herucokro yang membawa perubahan besar dalam sejarah Indonesia. Perubahan yang nantinya menyesakkan napas Belanda ini berupa perang Diponegoro yang dilatarbelakangi oleh kemarahan warga dan Pangeran Diponegoro terhadap tingkah laku Belanda yang sewenang-wenang.
Mencari Herucokro dalam ‘lumpur’globalisasi. Frank LIoyd Wright pernah mengatakan, “segalanya tercapai kalau kamu yakin; keyakinanlah yang membuat segalanya tercapai.” Bertolak dari pernyataan Wright ini, Remy Sylado menampilkan sosok Diponegoro sebagai Herucokro yang dinanti-nantikan dan diyakini kemampuannya, baik oleh keluarganya maupun masyarakat Kraton dan Tegalrejo. Dia adalah Ratu Adil yang akan menyelamatkan masyarakatnya dari cengkraman Belanda. Berkaitan dengan ini, Remy yakin bahwa di dalam ‘lumpur’globalisasi yang menenggelamkan masyarakat Indonesia, aka nada seorang Herucokro yang mampu membersihkan masyarakat dari lumpur-’lumpur’globalisasi. Keyakinannya ini sekiranya sudah mendapatkan titik terang ketika muncul sosok pemimpin modern yang membersihkan sedikit ‘lumpur’tersebut. Sosok-sosok ini adalah Joko Widodo dan Tri Rismaharini.
Sosok Pangeran Diponegoro yang bijaksana terlihat dalam keputusan Jokowi yang tidak mengangkat anggota-anggota partai sebagai menteri-menterinya, tetapi justru mengangkat para wirausahawan/i. Hasilnya sekarang sudah bisa dirasakan. Sebut saja contohnya adalah Menteri Kelautan, Ibu Susi. Kapal-kapal asing yang masuk daerah Indonesia dan menangkap flora maupun fauna laut Indonesia langsung ditenggelamkan, dan saat ini para pelaut di Indonesia mulai melihat kembali cahaya di laut mereka.
Sosok Diponegoro yang selalu memperhatikan rakyat dapat ditemukan dalam diri Tri Rismaharini. Wanita dengan julukan Wagiman- Wanita gila taman- ini berhasil menghijaukan kota Surabaya. Kota Surabaya yang dulunya ber-‘lumpur’ kini menjadi kota hijau.
Keyakinan Remy Sylado ini memang sudah membuahkan hasil. Namun, hasil ini masih sangat sedikit, dibandingkan dengan ‘lumpur’ yang ada di masyarakat. Cambukan yang dibuat oleh Remy  dalam Novel Pangeran Diponegoro,… ini menuntut generasi muda untuk bisa memproduksi lebih banyak lagi Herucokro-herucokro layaknya Diponegoro. Kita harus belajar dari pengalaman. JAS MERAH!
   
 Rekomendasi
Novel sejarah yang ditulis oleh Remy Sylado ini sangat cocok bagi para remaja yang ingin hidupnya dipersembahkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. Selain itu, cocok juga bagi para pembaca yang ‘katanya’ anti sejarah, karena novel Remy ini dikemas sedemikian rupa sehingga menarik untuk dibaca. Bahkan, sekali baca dapat menyebabkan ketagihan untuk menelusuri sejarah lebih jauh. 


ARKADUS IANUAR GUNTUR, Sudah diikutsertakan dalam lomba resensi pada seminari menengah Mataloko, 5 Mei 2015 dalam rangka harkitnas.