Jumat, 15 September 2017

SUKSES ADALAH PERJALAN,UNTUK ANAKKU DITO DAN ARKA

Sukses adalah perjalanan, demikian kata bijak yang terpatri dalam pikiranku. Setelah 6 tahun kedua putraku mencari jati diri di seminari Mataloko, kini mereka kembali ke pangkuan ayah ibu di Makassar, jeda sejenak dalam melanjutkan perjalan selanjutnya. Dalam jeda ini, keduanya memilih jalan yang berbeda yang kakak melanjutkan perjalan mencari jati diri ke Universitas Negeri Makassar dengan menekuni bidang Psikologi, sedangkan yang adik mencoba jajal bukit terjal panggilan ilahi via jembatan komunitas CICM. Kakak tengah berbulan madu dengan pilihannya, enjoy, asyiik, menggembirakan bagi dirinya, ini bisa dipahami karena sudah tahun yang ke dua melewati jembatan ini. Ayo, Aka, teruskan, fokus, dan nanti tak terasa akan tiba juga akhir babakannya.
Sebaliknya sang adik baru memulai tanggal 30 Agustus 17, memulai perjalannya yang penuh onak duri, bukit terjal menantang cita-citanya. Jembatan ini memang penuh dengan tantangan, butuh kesabatan yang luar biasa, fokus yang resolusi tingkat tinggi, sebab yang memegang kendali perintah adalah sang pemilik kehidupan. Tak boleh ada noktah hitam, sebaliknya lurus bagai kecepatan cahaya yang menghardik maya.
Sebagai orang tua, kami memberi dukungan 100% setiap pilihan kalian, tapi jangan lihat kebelakang, teruskan, buatlah visi terbaik, dan tentukan misi terbaik pula sehingga ananda tak putus ditengah jalan. Misi dan visi itulah yang menyemangati perjalanmu, teruskan, teruskan, sambil semuanya berserah kepada sang komando pemberi kehidupan.
Dua minggu tak terasa, ananda sudah berada awal perjalanmu nak, hatimu mashyul, gunda gulana dengan kehadiranmu dipelupuk mata kami tanpa semangat, sebaliknya justru mengeluh.... jalannya terlalu terjal, penuh onak dan duri, sehingga melahirkan rasa tak nyaman. Hukum keemasan berbunyi awal itu memang sukar, tapi ketika coba bertahan.....tahan....akan dijumpai titik keseimbangannya, dan ketika titik itu didapat disanalah dinikamti rasa nyamannya. Hidup ini perlu perjuangan, apapun pilihannya, selalu ada tantangan terjal, ketiaka bisa terlewati itulah nilai perjuangannya. Selamat berjuang anak ku. Anda pasti bisa................

Desember 2020 kemilau.
Hadiah terindah yang dapat bulan desember 2020 adalah selesainya studi strata 1 putra ke tiga kami Arka sehingga memperoleh gelar S.Psi. Perjuangan di meja kuliah secara resmi berakhir dengan memperoleh selembar kertas yang diberi nama SKL ( Surat Keterangan Lulus) dari Kampus Universitas Negeri Makassa berserta deretan mata kuliah yang sudah dipelajarinya yang juga membentuk intelektualnya. Selama 31/2 tahun ditempa, digembleng kampus kuninga gunung sari. Selain kemampuan intelktual diasah juga kemampuan menulis berita melalui majalah Psikognesisnya yang legendaris itu temat membentuk mental dan daya sensitivitas menulis untuk dipublis ke tengan masyarakat luas. Tak terlukis rasa syukur kami kepada sang khalik tempat kami berkeluh kesah, memelas, meminta pertolongan dariNya. WaktuMu bukan waktu kami dan itulah yg kami alami dengan penyelesaian studi dari ananda Arka.

Dibagikan kepada publik

    Tambahkan komentar...

    Jumat, 05 Mei 2017

    FILSOFI SEKOLAH KARENA MISKIN

    Filsofi.
    Filsofi adalah prinsip dasar utama yang dianut oleh seseorang atau kelompong orang dalam mendasari seluruh praktek hidup  sehari-hari. Dalam menjalin relasi dengan sesama, dalam tutur , tata laku selalu dijiwai oleh filsofi yang dianut. Filsofi tercermin dalam pola tindak seperti menjaga trust, menjaga satunya kata dengan perbuatan, mengatakan apa adanya tentang sesuatu, serta selalu mendahulukan kata maaf sebelum berbicara dengan siapapun. Itulah sebabnya setiap pribadi, kelompok (kelurga) yang memiliki filsofi hidup selalu meremaind kepada seluruh anggota (baca. pengikut.) nya untuk bersandar pada filsofi hidup yang dianut dan menjadikannya sebagai pelita untuk berjuang,berprilaku, bertutur kata dengan siapa dan dimanapun berada.

    Filsofi sekaolah karena miskin.

    Almarhum ayah Wilibrodus Kes, berpesan kepada putra dan putrinya yang merantau ke daerah lain berkata' "merantau berarti menderita" artinya  siap menderitau . Selesai SMA kalian sudah berdarah-darah keluarga berjuang, karena itu selesai perjuangan kami. Kalian sekolah bukan karena keluarga khususnya ayah ibumu kaya, tetapi sungguh karena miskin. Hidup msikin sangat susah karena itu kalian tak boleh lagi melanjutkan kondisi ini, cukup di masa saya. Ketika kalian sudah di tanah orang, yang selalu diingat adalah kalian sekolah karena miskin, dan kalian merantau berarti menderita, karena itu jangan pernah untuk melihat ke belakang...teruskan berjuang hingga kalian mendapat hidup yang lebih baik. Untuk membutktikan filsofi sekolah karena miskin, saat keberangkatan kami ke perantauan di buatkan ritual budaya dengan memotong seekor ayam jantan besar dengan syarat yang amat ketat. Jadi filsofi ini ditanamkan oleh ayah kami sejak kami memasuki dunia pendidikan sekolah lanjutan pertama. Sejak saat itu, beliau memperlihatkan pada kami kerja keras, jujur, katakan apa adanya, jangan berbohong kepada siapapun. Dalam usia kami yang sudah lebih dari setengah abad filsofi ini tetap menjadi pegangan hidup kami, disemangati terus menerus, sehingga spirit kami dalam menata hidup tak pernah kendur.

    Estafet filsofi sekolah karena miskin di teruskan kepada putra putri kami.

    Sejak putra putri kami masuk TK hingga selesai pendidikan tinggi, filsofi ini selalu disegarkan terus lewat kata-kata, perbuatan bahkan dalam do,a setiap malam sebelum tidur selalu dilantunkan kehadapan ilahi agar kami semua tidak sombong, takabur dalam memperoleh apa yang dimiliki sekarang. Secara khusus kepada  dua putra kami yang sekolah di Seminari Mataloko sejak tahun 2010 lalu. Tanggal 2 Mei 2017, putra bungsu kami sudah menamatkan pendidikan menengahnya dengan hasil yang sangat mengembirakan.  Hal yang menarik adalah prilakumereka, dimana setiap berlibur tak pernah meminta uang belanja hal yang senang-senang, kecuali untuk beli buku. Kami ber- refleksi apakah ini dampak dari internalisasi filsofi sekolah karena miskin? Entahlah..... Kini yang bungsu mau meneruskan perjuangan dan panggilan hidupnya dengan melanjutkan ke seminari tinggi. Sedangkan putra kedua dari bungsu melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi dengan mengambik fakutlas psikologi.

    Selamat berjuang anak-anak ku" ingat sekolah karena miskin"