Jumat, 05 Mei 2017

FILSOFI SEKOLAH KARENA MISKIN

Filsofi.
Filsofi adalah prinsip dasar utama yang dianut oleh seseorang atau kelompong orang dalam mendasari seluruh praktek hidup  sehari-hari. Dalam menjalin relasi dengan sesama, dalam tutur , tata laku selalu dijiwai oleh filsofi yang dianut. Filsofi tercermin dalam pola tindak seperti menjaga trust, menjaga satunya kata dengan perbuatan, mengatakan apa adanya tentang sesuatu, serta selalu mendahulukan kata maaf sebelum berbicara dengan siapapun. Itulah sebabnya setiap pribadi, kelompok (kelurga) yang memiliki filsofi hidup selalu meremaind kepada seluruh anggota (baca. pengikut.) nya untuk bersandar pada filsofi hidup yang dianut dan menjadikannya sebagai pelita untuk berjuang,berprilaku, bertutur kata dengan siapa dan dimanapun berada.

Filsofi sekaolah karena miskin.

Almarhum ayah Wilibrodus Kes, berpesan kepada putra dan putrinya yang merantau ke daerah lain berkata' "merantau berarti menderita" artinya  siap menderitau . Selesai SMA kalian sudah berdarah-darah keluarga berjuang, karena itu selesai perjuangan kami. Kalian sekolah bukan karena keluarga khususnya ayah ibumu kaya, tetapi sungguh karena miskin. Hidup msikin sangat susah karena itu kalian tak boleh lagi melanjutkan kondisi ini, cukup di masa saya. Ketika kalian sudah di tanah orang, yang selalu diingat adalah kalian sekolah karena miskin, dan kalian merantau berarti menderita, karena itu jangan pernah untuk melihat ke belakang...teruskan berjuang hingga kalian mendapat hidup yang lebih baik. Untuk membutktikan filsofi sekolah karena miskin, saat keberangkatan kami ke perantauan di buatkan ritual budaya dengan memotong seekor ayam jantan besar dengan syarat yang amat ketat. Jadi filsofi ini ditanamkan oleh ayah kami sejak kami memasuki dunia pendidikan sekolah lanjutan pertama. Sejak saat itu, beliau memperlihatkan pada kami kerja keras, jujur, katakan apa adanya, jangan berbohong kepada siapapun. Dalam usia kami yang sudah lebih dari setengah abad filsofi ini tetap menjadi pegangan hidup kami, disemangati terus menerus, sehingga spirit kami dalam menata hidup tak pernah kendur.

Estafet filsofi sekolah karena miskin di teruskan kepada putra putri kami.

Sejak putra putri kami masuk TK hingga selesai pendidikan tinggi, filsofi ini selalu disegarkan terus lewat kata-kata, perbuatan bahkan dalam do,a setiap malam sebelum tidur selalu dilantunkan kehadapan ilahi agar kami semua tidak sombong, takabur dalam memperoleh apa yang dimiliki sekarang. Secara khusus kepada  dua putra kami yang sekolah di Seminari Mataloko sejak tahun 2010 lalu. Tanggal 2 Mei 2017, putra bungsu kami sudah menamatkan pendidikan menengahnya dengan hasil yang sangat mengembirakan.  Hal yang menarik adalah prilakumereka, dimana setiap berlibur tak pernah meminta uang belanja hal yang senang-senang, kecuali untuk beli buku. Kami ber- refleksi apakah ini dampak dari internalisasi filsofi sekolah karena miskin? Entahlah..... Kini yang bungsu mau meneruskan perjuangan dan panggilan hidupnya dengan melanjutkan ke seminari tinggi. Sedangkan putra kedua dari bungsu melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi dengan mengambik fakutlas psikologi.

Selamat berjuang anak-anak ku" ingat sekolah karena miskin"