Rabu, 26 September 2018

POLITIK ‘DUA KAKI’ DEMOKRAT[1]


POLITIK ‘DUA KAKI’ DEMOKRAT[1]
Menyoal Siapa Mendapatkan Apa, Kapan, dan Bagaimana[2]
oleh: Oktaviano Nandito Guntur

Pengantar
            Politik adalah salah satu cabang ilmu sosial yang dewasa ini telah sangat tersebar luas penggunaannya. Sebelum mempelajari ilmu ini secara lebih mendalam pun, istilah politik telah acapkali terdengar di tv, koran, atau majalah tertentu. Partai politik, kebijakan politik, atau politisi adalah beberapa istilah yang bisa disebutkan sebagai istilah yang paling sering ditemukan di berbagai media informasi. Hal ini secara tidak langsung mengimplikasikan bahwa politik sudah menjadi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, hemat saya, berbicara soal politik sama halnya dengan berbicara tentang sesuatu yang sering dilakukan atau dekat dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun lebih jauh, istilah politik itu sendiri berkaitan erat dengan kata kekuasaan, aktor, dan strategi. Lebih lanjut, jika ketiga kata itu dihubungkan, maka dapat dikatakan bahwa politik adalah persoalan strategi-strategi tertentu yang dilakukan oleh satu aktor atau lebih untuk mencapai tujuan tertentu ( baca kekuasaan ).[3] Dengan kata lain, secara tidak langsung, politik juga akan sering menpersoalkan siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Sekilas ini terdengar egois, tetapi pada hakikatnya begitulah kenyataan yang terjadi; kenyataan ini pada akhirnya tidak hanya mencakup ranah politik itu sendiri, tetapi lebih jauh mencakup ranah kehidupan manusia pada umumnya.[4] Oleh karena itu, dalam tugas saya kali ini, saya akan mencoba menganalisis sebuah fenomena politk ‘dua kaki’ partai demokrat berdasarkan persoalan politik ‘ siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana.
Politik Dua Kaki Demokrat, Penjelasan Singkat
            Suhu perpolitikan di Indonesia semakin memanas menjelang pilpres 2019. Pilpres 2019 menampilkan dua tokoh besar yang akan saling berkompetisi untuk kedua kalinya. Kedua tokoh tersebut adalah Jokowi dan Prabowo. Lebih lanjut, kedua tokoh ini didukung oleh dua partai politik besar, yaitu PDI dan Gerindra. Menjelang pilpres 2019, kedua kandidat serta partai mulai melakukan koalisi partai serta menggandeng beberapa partai politik lain. Hal ini tentu saja bertujuan untuk meraup suara yang banyak dari masyarakat dan pemenangan kandidat presiden yang partai ajukan.
            Berkaitan dengan hal tersebut, isu yang cukup menarik untuk dibahas adalah persoalan kebijakan partai demokrat. Secara resmi, ketua umum Gerindra (Prabowo Subianto) dan Demokrat ( Susilo Bambang Yudhoyono) telah sepakat untuk saling mendukung menjelang pilpres nanti. Artinya, secara resmi demokrat akan mendukung Prabowo sebagai calon presiden RI periode 2019-2024. Akan tetapi, fakta yang menarik adalah adanya ketidakkonsistenan dari kubu demokrat sendiri. Beberapa kader demokrat (baca bagian tubuh partai) memutuskan untuk mendukung Jokowi sebagai calon presiden RI yang berikutnya. Hal inilah yang menurut Yunarto (pengamat politik) dinamakan sebagai sebuah kebijakan politik dua kaki partai demokrat.[5] Artinya, di satu sisi demokrat memijakkan kakinya di partai Gerindra ( mendukung secara resmi), tetapi di sisi lain demokrat juga memijakkan kakinya di partai PDI ( contoh beberapa kader yang terang-terangan mendukung Jokowi).
Menyoal Siapa Mendapat Apa, Kapan, dan Bagaimana
            Pada penjelasan yang lebih lanjut, tak dapat dimungkiri terdapat juga penjelasan dari seorang pengamat politik dalam berita tersebut atau bahkan ada penolakan dari kubu demokrat sendiri. Untuk masalah itu, saya tidak ambil peduli. Saya hanya ingin menganalisis fenomena politik ini dari segi siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Alasannya sederhana, saya ingin mengembangkan analisis politik saya, toh kalau salah itu dapat menjadi pelajaran; lagipula saya juga masih ‘bau kencur’ dalam pengetahuan politik.
            Berkaitan dengan hal tersebut, untuk memulai analisisnya, saya akan mulai menanyakan siapa mendapatkan apa. Pertanyaan siapa mendapatkan apa di sini akan saya jawab dengan konteks politik dua kaki. Artinya jelas, siapa di sini adalah partai demokrat dan apa di sini adalah kepentingan yang ingin dicapai oleh partai demokrat. Menurut salah Yunarto Wijaya, kepentingan apa saja yang ingin dicapai, erat kaitannya dengan modal AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) untuk mencalonkan diri menjadi presiden periode 2024-2029.[6] Dengan kata lain, partai demokrat mencoba untuk memperoleh suara rakyat dengan membagi dua pendukung dalam partainya sendiri, yaitu pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo. Hemat saya, hal ini berkaitan dengan kredibilitas masyarakat terhadap partai. Artinya, siapapun pemenangnya nanti, kredibilitas rakyat terhadap partai demokrat tidak berkurang drastis. Sebab, partai demokrat (kelihatannya seperti) memilih untuk membagi diri atau bermain di zona abu-abu.
            Lebih jauh, persoalan kapan dan bagaimana kepentingan itu tercapai, hemat saya berkaitan dengan pertanyaan apa yang ingin dicapai. Artinya, persoalan ini bertanya tentang kapan kepentingan untuk menambah modal AHY untuk maju sebagai capres di periode 2024-2029 dimulai (waktu/start awal) dan bagaimana cara mencapainya (strategi). Hemat saya, untuk menjawab pertanyaan pertama (kapan), perlu dijabarkan dulu soal  pertanyaan kedua (bagaimana).  Adapun pertanyaan tentang bagaimana cara mencapai kepentingan tersebut, saya pikir terlihat jelas dari politk dua kaki yang dilakukan oleh partai demokrat. Hal ini saya pikir sudah cukup jelas untuk menggambarkan strategi partai dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu ( AHY). Lebih lanjut, menyoal kapan strategi itu dimulai, saya pikir jawaban yang tepat adalah sekarang. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai menjalankan strategi politik dua kaki itu. Ini hanyalah langkah awal (perlu dilakukan sekarang) yang mempunyai tujuan akhir untuk meningkatkan modal AHY dalam pencalonan dirinya sebagai capres 2024.[7]



[1] Judul di atas diambil dari salah satu berita politik BBC News Indonesia. Bdk. Politik’ dua kaki’ Partai Demokrat: ‘ Batu Loncatan AHY di Pilpres 2024’,11 September 2018, Heyder Affan. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45472916, diakses 25 September 2018
[2]  Dalam analisis kasus berita ini, saya akan menggunakan definisi politik menurut Karrel Laswell. Adapun definisi politk menurut Laswell adalah soal siapa yang mendapatkan apa, kapan , dan bagaimana.
[3] Pengertian di atas adalah pengertian yang saya sampaikan atas pemahaman (catatan) saya terhadap kuliah yang diberikan oleh Pak Andi. Karena itu, sumber terkait yang perlu dituliskan cukup sulit untuk dituliskan. Satu-satunya informasi valid yang dapat disampaikan adalah bahwa ini hanyalah hasil kutipan dari catatan ilmu politik saya.
[4]  Aristoteles pernah mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon atau makhluk yang berpolitik. Dengan kata lain, manusia juga melakukan strategi-strategi tertentu untuk memenuhi kepentingannya.
[5] Bdk. Affan Heyder, Politik’ dua kaki’ Partai Demokrat: ‘ Batu Loncatan AHY di Pilpres 2024’, Op.cit.
[6] Ibid.
[7]  Kebanyakan pendapat saya terinspirasi dari aritikel berita yang saya baca. Dalam hal ini pada khususnya, analisis saya banyak dipengaruhi oleh pendapat seorang pengamat politik beranama Yunarot Wijaya (pengamat politik yang kerap disebutkan namanya dalam artikel yang saya baca).

Senin, 06 Agustus 2018

MENGUNGKAP PERAN IBU DI ERA GLOBALISASI, SEBUAH KARYA TULIS SISWI CAHARA 2017


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Dalam abad ke-21 ini, banyak hal yang menjadi pokok bahasan suatu negara. Mulai dari masalah peningkatan infrastruktur, pemerataan ekonomi, upaya penurunan angka kriminal, kesadaran akan teknologi hingga peningkatan integritas dalam berpolitik. Tapi tahukah kita bahwa semua permasalahan yang terjadi dalam suatu negara selau berasal dari suatu akar yang sama yaitu manusia? Suatu bangsa dinilai baik jika sumber manusianya berkompeten, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dan semua itu, tidak akan pernah lepas dari peranan seorang ibu hebat yang membangun suatu bangsa dari dulu hingga sekarang. Zaman mulai berubah, dari tahun ke tahun nilai moral mulai bergeser baik secara positif maupun negatif.
Ibu yang dulu orientasi pekerjaannya selalu dirumah, kini sudah bekerja diluar sebagai wanita karir layaknya pekerjaan seorang suami. Ketidaksetaraan gender sudah mulai terelakkan. Semua orang, baik tua maupun muda memiliki derajat yang sama dimata masyarakat. Jika kita mendengar kata “globalisasi”, sudah pasti bahwa kemajuan suatu zaman selalu didasari oleh perkembangan teknologi yang merubah paradigma masyarakat. Anak-anak yang dulu hanya bermain di halaman rumah, kini lebih berfokus pada laptop dan ponselnya. Para ibu tidak tahu apa yang anaknya buka. Para ibu juga tidak memahami seberapa pentingnya dunia maya bagi anak-anak. Ketidaktahuan dan ketidakpahaman seorang ibu membuat semuanya terasa sulit. Untuk itulah karya tulis ini dibuat, yaitu untuk memberikan wawasan mengenai pentingnya peranan seorang ibu super di zaman yang modern ini.

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam karya tulis ilmiah ini, yaitu:
1.      Apakah peranan seorang ibu di era globalisasi ini?
2.      Apa saja dampak dari pergeseran nilai yang ditimbulkan oleh globalisasi dan bagaimana cara ibu menyelesaikannya?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini, yaitu:
1.      Untuk mengetahui peranan  ibu diera globalisasi
2.      Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan globalisasi dalam peranan seorang ibu.

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat Penelitian, antara lain:
1.      Menambah dan membuka wawasan mengenai peranan ibu diera globalisasi.
2.      Mengetahui hakikat dan sifat-sifat psikologis seorang ibu dalam melakukan pekerjaannya sebagai seorang ibu.
3.      Mengetahui dan menyadari betapa pentingnya peranan ibu dalam peningkatan suatu bangsa.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Hakikat Dasar Seorang Ibu
Apakah yang terlintas dibenak Anda ketika mendengar kata “Ibu”? Apakah teringat omelan ataukah kecerewetannya? Ketika melihat sosok ibu, hal pertama yang muncul dibenak saya adalah gambaran seorang perempuan. Sosok perempuan merupakan hakikat dasar yang tidak bisa lepas dari diri seorang ibu sejak lahir, dan ketika berbicara tentang ibu, kita sudah pasti berbicara tentang perempuan. Adapun beberapa sifat atau ciri khas dari seorang perempuan yang berperan dalam diri seorang ibu, yaitu :
1.      Dalam hal pemikiran, ibu lebih banyak berpikir secara multitasking sehingga dapat mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.
2.      Dari segi psikologis, ibu/perempuan lebih banyak mengandalkan perasaan dan instingnya sehingga lebih muda menaruh simpatik dan membangun relasi disekitarannya.
3.      Dari segi tindakan, umumnya perempuan lebih pasif, menerima dengan sabar, serta memelihara.
4.      Dari segi biologis, yaitu dengan adanya proses menstruasi, organ kelamin yang menunjang, serta usia biologis yang menjadi dasar seorang ibu.
5.      Tidak lupa, karakter pribadi yang diturunkan oleh orang tua merupakan dasar yang berpengaruh besar terhadap sosok seorang ibu secara pribadi.

B.     Tugas Dan Kewajiban Seorang Ibu Serta Pergeseran Nilai Akibat Pengaruh Globalisasi
Zaman berubah, penggunaan teknologi semakin maju. Pada abad ke-21 ini, pergeseran moral yang disebabkan oleh globalisasi menuntut para ibu untuk menjadi profesional dalam setiap hal termasuk tuntutan untuk menjadi seorang supermom atau ibu super bagi keluarganya. Dilihat dari kacamata seorang anak, adapaun tugas dan kewajiban para ibu sebagai berikut :
1.      Ibu Sebagai Guru
2.      Ibu Sebagai Dokter
3.      Ibu Sebagai Teman Curhat
4.      Ibu Sebagai Motivator
5.      Ibu Sebagai Master Chef dan Ahli Gizi
6.      Ibu Sebagai Pengelola dan Penasehat Keuangan
7.      Ibu Sebagai Asisten Rumah Tangga
8.      Ibu Sebagai Ayah
9.      Ibu Sebagai Wanita
10.  Ibu Sebagai Istri
11.  Ibu Sebagai Sopir
12.  Ibu Sebagai Mata - Mata
13.  Ibu Sebagai Pengontrol/Pengendali
Adapun tuntutan khusus (tuntutan alam) yang berasal dari dalam diri seorang ibu yaitu penyaluran rasa keibuan seorang ibu kepada anaknya. Tuntutan khusus inilah yang mendasari besarnya setiap pengorbanan seorang ibu.
Dikota-kota besar, banyak ibu-ibu muda yang sedapat mungkin melakukan apa saja demi anaknya, baik ketika ingin memiliki anak sampai mengurus anak. Misalnya, untuk kesuksesan anaknya seorang ibu rela bangun pagi untuk memasak hingga menjadi sopir yang mengantar anaknya kemanapun mereka pergi. Jika anak jatuh sakit, ibu akan menjadi dokter yang siap memberikan pertolongan pertama bagi anaknya.
Tuntutan ibu sebagai wanita karir juga berperan besar dalam pertumbuhan seorang anak. Kesibukan dan jam terbang membuat semuanya serba instan. Hal ini memicu penggunaan babysitter yang semakin besar, baik secara positif maupun negatif. Anomali penggunaan babysitter pada abad ke-21 membuat seorang anak tidak lagi mengenal sosok ibu yang asli melainkan lebih mengenal dan cenderung mengikuti nilai-nilai yang diberikan oleh babysitter. Dan pada akhirnya, nilai-nilai moral sedikit demi sedikit tergeser khususnya pada anak-anak usia balita. Oleh karena itu, seorang ibu dituntut untuk bijak memilih mana yang prioritas dan yang bukan prioritas dalam mengelola keluarga.
Selain jam kerja yang padat, teknologi juga memiliki andil yang besar dalam peranan ibu. Menurut beberapa ibu, tidaklah gaul jika tidak melek teknologi. Seorang ibu harus tahu apa yang dibuka anaknya setiap malam ketika bermain smartphone. Jadi selain hati yang tegar, seorang ibu dituntut untuk memiliki kecerdasan dan kemampuan kognitif yang baik. Banyak pula ibu-ibu di Indonesia yang memiliki peran ganda yaitu sebagai seorang ibu dan juga sebagai seorang ayah. Single parent misalnya. Disini, ibu tidak hanya dituntut untuk mencari nafkah tetapi juga dituntut untuk menggantikan figur seorang ayah sebagai kepala rumah tangga.
Adapula peranan seorang ibu di negara-negara maju yang memperbolehkan pernikahan sesama gender. Pasangan lesbian misalnya, untuk memiliki anak, salah satu dari mereka akan ditanamkan sperma dari bank of sperm bersertifikat yang telah disediakan oleh negara. Ketika anak mereka lahir, lama-kelamaan akan terjadi suatu ambigu tentang dimana peran seorang ibu dan ayah dari kacamata anak tersebut. Disinilah pentingnya figur seorang ibu (baik ibu mertua, ibu dari pasangan, ataupun pihak ketiga) yang siap menjelaskan dan menjernihkan keambiguan tersebut. Selain pernikahan sesama jenis, banyak juga ibu dewasa ini yang dapat memiliki anak meskipun tidak memiliki pasangan.
Pengaruh globalisasi bukan hanya berpengaruh bagi si ibu saja melainkan si calon ibu khususnya kalangan muda. Free sex, narkoba, dan HIV–AIDS mengancam keselamatan generasi muda. Seorang ibu, dituntut harus siap dan tahu batas pergaulan anaknya setiap hari. Sudah banyak ibu-ibu muda yang terjun ke dunia aborsi akibat ketidaksiapan mental menjadi seorang ibu. Selain itu, banyak pula anak-anak yang dilahirkan dibuang dipinggir jalan dan dititipkan ke panti asuhan akibat peranan ibu yang tidak bertanggung jawab.

C.    Peranan Seorang Ibu Dalam Lahirnya Tokoh-tokoh Besar Dunia
Perkembangan zaman juga tidak lepas dari andil tokoh-tokoh besar yang mengubah dunia. Misalnya saja di Indonesia, ada ibu Ainun Habibie yang rela melepas pekerjaannya sebagai dokter demi mendidik kedua anaknya. Dari Jerman, ada Albert Einstein yang semakin fasih bermain biola akibat ajaran ibunya, dan adapula Napoleon Bonaparte yang memuji sambil berkata “Seorang ibu menggoyangkan ayunan dengan tangan kanannya dan dunia dengan tangan kirinya”. Tidak lupa, doa dan dukungan seorang ibu tidak akan pernah lepas dari kesuksesan generasi muda pembangun bangsa. Hal inilah yang membuktikan bahwa kesuksesan suatu negara ditentukan oleh kualitas seorang ibu yang baik.

D.    Ambisi, Keinginan, dan Hobi Di Luar Tugas Seorang Ibu
Melaksanakan tugas dan kewajiban seorang ibu kadang melelahkan. Kadang, seorang ibu harus duduk sejenak dan melakukan hal-hal yang ia sukai terlepas dari semua tuntutan yang diberikan kepadanya. Sebagai seorang perempuan, ibu sangat suka bersolek. Ibu akan sangat senang jika dipuji oleh anak, suami, ataupun orang-orang sekitar tentang penampilannya maupun hasil kerja kerasnya. Ibu akan merasa sangat gelisah jika ada yang menghina penampilannya, misalnya “Ibu terlihat tua” dan sebagainya. Ibu akan sangat marah jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap anaknya.
Adapula keinginan atau kegiatan khas dari para ibu yang saya dapatkan lewat pengalaman pribadi, yaitu :
1.      Kebanyakan ibu-ibu sangat suka menghabiskan waktu berjam-jam di telepon hanya untuk bergosip tentang suatu hal. Entah itu soal anak-anak, sesama teman, hingga gosip artis. Secara umum, para ibu mengakui bahwa gosip merupakan pusat informasi yang sama halnya dengan internet.
2.      Setiap ibu akan merasa sangat senang jika populer di kalangan ibu-ibu lainnya. Baik populer lewat pakaian, uang, kemampuan atau skill, hingga populer karena mudah bergaul.
3.      Seorang ibu akan selalu berusaha untuk tampil cantik kapanpun dan di mana pun, baik di depan suami maupun di depan anak-anak. Makeup merupakan hal utama yang selalu dibawa ke mana-mana selain tas.
4.      Para ibu tidak suka merasa tersaingi. Ia akan selalu tampil perfect kemana pun ia pergi.
5.      Pakaian “daster” dan “kebaya”, suatu hal yang tidak pernah lepas dari sosok ibu masa kini.


BAB III
KESIMPULAN

Dari pemaparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa ibu adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang jasa-jasanya sangat luar biasa dalam membangun dan menggerakkan generasi muda dari tahun ke tahun. Menjadi seorang ibu merupakan tanggung jawab besar yang tidak bisa diremehkan. Sumber daya manusia yang berkualitas berasal dari seorang ibu yang berkualitas, yaitu seorang supermom.




DAFTAR PUSTAKA

https://www.facebook.com/notes/ikhwana-kadir/peran-wanita-dalam-membangun-peradaban-bangsa/526828207424660, diakses tanggal 9 Desember 2015
https://id.wikipedia.org/wiki/Albert_Einstein, diakses tanggal 9 Desember 2015
http://9wiki.net/contoh-esai/, diakses tanggal 9 Desember 2015
https://id.wikipedia.org/wiki/Homoseksualitas, diakses tanggal 9 Desember 2015
http://health.liputan6.com/read/2117355/ini-bank-sperma-terbesar-di-dunia, diakses tanggal 9 Desember 2015
http://health.detik.com/read/2012/04/06/160437/1886638/763/donor-sperma-dari-as-paling-banyak-dipakai-di-seluruh-dunia, diakses tanggal 9 Desember 2015










 





Rabu, 07 Maret 2018

PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUARGA KATOLIK


PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUARGA KATOLIK.
A. Pendahuluan
     
Keprihatinanan gereja katolik dalam prespektif ekonomi umat sejak lama sudah menjadi salah satu focus perhatian dari hirarki gereja, tak terkecuali di Indonesia.  Upaya gereja katolik untuk mengatasi persoalan ekonomi umat digerakan oleh Komisi pengembangan sosial Ekonomi (PSE). Sejak Konpernas PSE di Klender tahun 2005, gerakan pemberdayaan ekonomi umat (masyarakat kecil) mendapat perhatian yang serius dari gereja ditengah persaingan ekonomi global. Atas dasar keprihatianan tersebut maka gereja menjadi penyokong  utama melalui PSE mendukung gerakan pemberdayaan ekonomi umat melalui  berbagai macam bentuk gerakan pemberdayaan.

B. Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Katolik .

Lokasi Pelaksanaan Lokakarya Pemberdayaan, Hotel D,Maelo Mamuju.
Pemberdayaan adalah Suatu proses penyadaran melalui pendidikan, pelatihan, bimbingan, dan pendampingan agar anggota mampu meningkatkan kualitas hidup secara mandiri dan berkelanjutan berdasarkan potensi yang dimiliki (Edi Suharto,
2005). Pemberdayaan keluarga merupakaan upaya untuk menjalankan peran sesuai dengan fungsinya dalam keluarga, dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki anggota keluarga secara maksimal, sehingga terbentuk ketahanan keluarga.

Pemberdayaan ekonomi rumah tangga  bertujuan agar setiap keluarga bsa menyusun Rencana Keuangan Keluarga. RKK yang dibuat bukan ditujukan untuk “ bagaimana  mengatur, memutar gaji” tetapi bagaimana menciptkan peluang untuk menambah penghasilan,sehingga  dapat menata ekonomi    dengan baik.  Dalam konteks inilah Lembaga pemberdayaan ekonomi umat sangat diperlukan sebagai penyokong utama kebutuhan ekonomi keluarga yang sejalan dengan nilai kemanusiaan yang sejati. Dibawah ini digambarkan keluarga yang tidak mempunyai rencana dalam hidupnya, mempunyai rencana tapi tidak tertulis, dan mempunyai rencan dan tertulis.

1.      KELAUARGA YANG TAK MEMILIK RENCANA DALAM HIDUPNYA, maka cara hidupnya  apa adanya  kurang gairah dan optimisme menghadapi hidup, akibatnya jangka pendek Selalu bingung menghadapi masalah, selalu kurang siap menghadapi masalah yang datang, akibatnya jangka panjang hidupnya tetap tidak berubah atau menjadi lebih miskin bahkan melarat
2.      KELUARGA MEMILIKI RENCANA TAPI TIDAK TERTULIS dalam hidup, cara hidupnya  sehari hari tujuan jelas,   memiliki pedoman ,  ada pegangan, akibatnya Hidup lebih berkembang,  Hidup lebih bermakna,  Kualitas hidup meningkat, Kualitas hidupnya baik sekurang-kurangnya berkebukupan, inansialnya baik
3.      KELUARGA  MEMILIKI RENCANA DAN TERTULIS,  cara hidupnya, memiliki tujuan sangat jelas,  hidup memiliki pedoman .  hidup ada pegangan kuat,  hidup dikembangkan tahap demi tahap, akibatnya hidup sangat berkembang,  sangat bermakna,  kualitas hidup meningkat, ada aksi dan refleksi dalam hidup, hidup sejahtera,  hidup makmur.  ia dapat melakukan apa yang ia inginkan,  hidup seimbang dan bahagia.
Cita-cita dari pemberdayaan ekonomi rumah tangga (PERT) adalah sepeerti point ke tiga diatas, dan sudah banyak dilaksanakan diberbagai tempat melalui kursus-kursus. Kursus membuat kue, krupuk, trasi abon dsb. Namun apa yang mereka ikuti belum mampu mengubah sikap dan prilakunya dalam menciptakan peluang wira usaha. Ada hal lain yang belum disampaikan yaitu keterampilan rencana dan manajemen usaha. Rencana dan manajemen serta pendampingan yang bisa membuat mereka  bisa mulai dari mana dan melangkah ke mana.
Materi yang diberikan belum mampu membuat keluarga memiliki kecakapan keuangan . Kecakapan keuangan yang bisa membuat keluarga mampu melihat peluang untuk meningkatkan wirausaha, dan berwirausaha serta mengatur keuangannya. Dalam mengatur keuangan , bukan hanya bagiamana memutar penghasilan, tetapi juga bagaimana mencari peluang usaha, bagaimana menabung, bagaiamana tabungan bekerja untuk keluarga dan akhirnya beberapa generasi yang akan mewarisi keuangan mereka.

C. PEMBERDAYAAN GERAKAN SOSIAL EKONOMI
   
   
Pemberdayaan gerakan sosial ekonomi sangat banyak dilakukan oleh pemerintah dan Lembaga swadaya masyarakat. KSU, KSP, UB, KUD, semua gerakan ini tumbuh dan berbadan hukum  artinya sah terdaftar dan diakui oleh pemerintah. Bagaimana nasib mereka sekarang? Bertahan? Tidak, bahkan sering dilabelkan  sebagai koperasi “Merpati” dan koperasi “Pedati”.

 Merpati artinya koperasi yang dibangun dan berbadan hukum ketika ada dana dari pemerintah maupun penyandang dana. Setelah berjalan satu dua bulan tutup kembali karena dana sudah habis. Pengurus dan anggota yang terdaftar adalah fiktif. Merpati suka makan jagung, dan ketiaka diberi jagung datang semua dan setelah habis jagung pergi semua.

Koperasi pedati artinya koperasi yang dibangun oleh pemilik modal, berbadan hukum pemerintah. Koperasi semacam ini adalah atas nama dan bukan rakyat yang memiliki, sehingga ketika ada untung  rakyat tidak kebagian.Koperasi pedatimembuat rakyat tidak punya masa depan karena tidak punya modal sendiri. Mereka kahirnya tetap miskin walaupun koperasinya mempunyai untung besar.

Sebagai bagian dari masyarakat, gereja juga tak tinggal diam, melalui Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) memfasilitasi berdirinya berbagai Lembaga keuangan mikro. Akan tetapi hasilnya belum maksimal. Gereja menyadari pemberdayaan sosial ekonomi yang diimpikan harus lahir dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Tahun 2005 dalam sidang agung gereja katolik yang berlangsung di Bogor Jawa Barat (SAGKI) yang dihadiri oleh para uskup se Indonesia merekomendasikan gerakan pemberdayaan baru yaitu Credit Union yang dikembangkan di Kalimantan. CU ini merupkan revitalisasi model gerakan pemberdayaan yang sudah ada sejak tahun 1970 yang dipelopori oleh romo Karl ALbrecht,SJ.

C. PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUARGA KATOLIK MELALUI GERAKAN PEMBERDAYAAN CREDIT UNION.

Kehadiran Credit Union sebagai Lembaga pemberdayaan, berangkat dari kesulitan keluarga katolik  dalam membiayai hidup keluarganya, seperti Pendidikan anak, kebutuhan keluarga , kesulitan permodalan untuk usaha dan lain-lain. Kesulitan-kesulitan tersebut salah satu sebabnya adalah ketidak berdayaan dalam mengelola ekonomi keluarga.  Pada bagian pendahuluan dikemukan 3 model manajemen keuangan sebuah keluarga. Jika kita ditanya manajemen model mana dari ketiga model tersebut yang anda pilih? Tentu saja kita memilih yang ketiga. Akan tetapi proses menuju pemilihan model ke 3 tersebut tidak mudah untuk dilaksanakan.
    
Untuk membantu kita menjadikan model ketiga sebagai habit, makan perlu dirancang pola pikir yang positif. Pola pikir positif menghasilkan prilaku yang solutif  akan tetapi sebaliknya menghasilkan prilaku masalah, yang pada akhirnya terjeumus dalam kesulitan hidup. Hidup memang pilihan mau berpikir positif maka akan tercipta rasa percaya diri seperti  saya mampu, saya bisa,  dengan bekerja keras, saya bisa mewujudkan cita-cita saya,  saya harus berusaha lebih baik lagi.  saya mampu menolong orang lain,  saya bisa membuat lapangan kerja sendiri, memiliki usaha sendiri itu keren,  memulai itu memang berat, tapi saya bisa! dan sebaliknya  sebaliknya berpikirn negative akan tercipta  mental kalah , seperti tidak mampu;  tidak bisa bekerja keras pun, kita akan tetap begini,  saya begini karena dihalangi orang lain, tidak punya apa-apa,  sehingga harus ditolong,  menunggu orang memberi pekerjaan,  lebih senang  menerima  dari pada berusaha sendiri, hidupnya tergantung pada kemurahan orang lain.  takut berusaha sendiri.
Berpikir saja tak cukup, harus ada tindakan, tindakan yang didasari pertimbangan pikiran yang matang akan menghasilkan hasil yang baik. Dan ketika tindakan yang baik itu dilakukan secara terus menerus maka akan bertranformasi menjadi kebiasaan yang baik pula, dan jika kebiasaan itu terus menerus dilakukan hingga terintegrasi dalam diri, maka akan  menjadi karakter. Karakter ini yang akan menetukan seperti apa nasib kita nantinya. Jadi berpikir, bertindak, kebiasaan, karakater adalah sebuah proses perjalanan kejiwaan manusia untuk sampai pada pilihan nasibnya seperti yang dikehendaki.

Mengapa Credit Union tata kelola modern menjadi pilihan pemberdayaan ekonomi kelurga katolik?

A. Alasan CU dijadikan pilihan utama untuk pemberdayaan keluarga katolik:
1.      Kumpulan orang-orang yang saling percaya antara satu dengan yang lainnya.
2.      Anggota adalah pemilik dan pengguna jasa (owner and customer)
3.      CU aktif mengadakan pendidikan untuk anggota dan aktivis
4.      Anggota mudah memiliki modal dengan PMT
5.      CU  mendorong perubahan pola pikir  dalam pengelolaan keuangan keluarga
6.      CU membantu anggota mencapai tujuan keuangannya
7.      CU mendorong anggota untuk mengembangkan usaha (wirausaha)
8.      CU berkembang dan maju secara mandiri dengan menggunakan modal sendiri dari anggota.
9.      CU memberi perlindungan terhadap pinjaman dan santunan terhadap tabungan. Premi dibayar oleh lembaga
10.  CU memiliki produk solidaritas  untuk menggalang kepedulian satu sama lain dalam peristiwa-peristiwa khusus.
11.  Membuka lapangan kerja
12.  Menciptakan sumber pembiayaan bersama (Sharing-Economy] untuk kesejahteraan bersama
13.  Sarana masyarakat kecil untuk berhimpun membangun gerakan ekonomi dan sosial 

B. Menjadikan pelatihan kecakapan keuangan sebagai latihan wajib untuk diikuti oleh seluruh anggota, sehingga anggota mampu mengelola sumber daya financial yang dimiliki, baik untuk keperluan konsumtif maupun untuk produktif.

C. Konsisten mendampingi para anggota yang tergabung dalam komunitas  dan kelompok binaan. Setiap orang yang sudah memilih CU sebagai Lembaga pendamping hidupnya, maka akan didampingi  dalam mengelola usaha yang dilakukan oleh anggota. Potensi anggota yang belum dimaksimalkan  akan diupayakan untuk dimaksimalkan,



                                                                                   Makassar, 18 Februari 2018.

 disajikan pada Lokakarya Pemberdayaan keluarga Katolik Prop SulBar, 19 Februari 2018