POLITIK ‘DUA
KAKI’ DEMOKRAT[1]
Menyoal Siapa Mendapatkan Apa, Kapan, dan Bagaimana[2]
oleh: Oktaviano Nandito Guntur
Pengantar
Politik
adalah salah satu cabang ilmu sosial yang dewasa ini telah sangat tersebar luas
penggunaannya. Sebelum mempelajari ilmu ini secara lebih mendalam pun, istilah
politik telah acapkali terdengar di tv, koran, atau majalah tertentu. Partai
politik, kebijakan politik, atau politisi adalah beberapa istilah yang bisa
disebutkan sebagai istilah yang paling sering ditemukan di berbagai media
informasi. Hal ini secara tidak langsung mengimplikasikan bahwa politik sudah
menjadi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, hemat saya,
berbicara soal politik sama halnya dengan berbicara tentang sesuatu yang sering
dilakukan atau dekat dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun lebih jauh, istilah politik itu sendiri
berkaitan erat dengan kata kekuasaan, aktor, dan strategi. Lebih lanjut, jika
ketiga kata itu dihubungkan, maka dapat dikatakan bahwa politik adalah
persoalan strategi-strategi tertentu yang dilakukan oleh satu aktor atau lebih
untuk mencapai tujuan tertentu ( baca
kekuasaan ).[3] Dengan kata lain, secara
tidak langsung, politik juga akan sering menpersoalkan siapa mendapat apa,
kapan, dan bagaimana. Sekilas ini terdengar egois, tetapi pada hakikatnya begitulah
kenyataan yang terjadi; kenyataan ini pada akhirnya tidak hanya mencakup ranah
politik itu sendiri, tetapi lebih jauh mencakup ranah kehidupan manusia pada
umumnya.[4] Oleh
karena itu, dalam tugas saya kali ini, saya akan mencoba menganalisis sebuah
fenomena politk ‘dua kaki’ partai demokrat berdasarkan persoalan politik ‘ siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana.
Politik Dua Kaki
Demokrat, Penjelasan Singkat
Suhu
perpolitikan di Indonesia semakin memanas menjelang pilpres 2019. Pilpres 2019
menampilkan dua tokoh besar yang akan saling berkompetisi untuk kedua kalinya.
Kedua tokoh tersebut adalah Jokowi dan Prabowo. Lebih lanjut, kedua tokoh ini
didukung oleh dua partai politik besar, yaitu PDI dan Gerindra. Menjelang
pilpres 2019, kedua kandidat serta partai mulai melakukan koalisi partai serta
menggandeng beberapa partai politik lain. Hal ini tentu saja bertujuan untuk
meraup suara yang banyak dari masyarakat dan pemenangan kandidat presiden yang
partai ajukan.
Berkaitan
dengan hal tersebut, isu yang cukup menarik untuk dibahas adalah persoalan
kebijakan partai demokrat. Secara resmi, ketua umum Gerindra (Prabowo Subianto)
dan Demokrat ( Susilo Bambang Yudhoyono) telah sepakat untuk saling mendukung
menjelang pilpres nanti. Artinya, secara resmi demokrat akan mendukung Prabowo
sebagai calon presiden RI periode 2019-2024. Akan tetapi, fakta yang menarik
adalah adanya ketidakkonsistenan dari kubu demokrat sendiri. Beberapa kader
demokrat (baca bagian tubuh partai)
memutuskan untuk mendukung Jokowi sebagai calon presiden RI yang berikutnya.
Hal inilah yang menurut Yunarto (pengamat politik) dinamakan sebagai sebuah
kebijakan politik dua kaki partai demokrat.[5]
Artinya, di satu sisi demokrat memijakkan kakinya di partai Gerindra (
mendukung secara resmi), tetapi di sisi lain demokrat juga memijakkan kakinya
di partai PDI ( contoh beberapa kader yang terang-terangan mendukung Jokowi).
Menyoal Siapa
Mendapat Apa, Kapan, dan Bagaimana
Pada
penjelasan yang lebih lanjut, tak dapat dimungkiri terdapat juga penjelasan
dari seorang pengamat politik dalam berita tersebut atau bahkan ada penolakan
dari kubu demokrat sendiri. Untuk masalah itu, saya tidak ambil peduli. Saya
hanya ingin menganalisis fenomena politik ini dari segi siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Alasannya sederhana, saya
ingin mengembangkan analisis politik saya, toh kalau salah itu dapat menjadi
pelajaran; lagipula saya juga masih ‘bau kencur’ dalam pengetahuan politik.
Berkaitan
dengan hal tersebut, untuk memulai analisisnya, saya akan mulai menanyakan siapa mendapatkan apa. Pertanyaan siapa
mendapatkan apa di sini akan saya jawab dengan konteks politik dua kaki.
Artinya jelas, siapa di sini adalah partai demokrat dan apa di sini adalah
kepentingan yang ingin dicapai oleh partai demokrat. Menurut salah Yunarto
Wijaya, kepentingan apa saja yang ingin dicapai, erat kaitannya dengan modal
AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) untuk mencalonkan diri menjadi presiden periode
2024-2029.[6]
Dengan kata lain, partai demokrat mencoba untuk memperoleh suara rakyat dengan
membagi dua pendukung dalam partainya sendiri, yaitu pendukung Jokowi dan
pendukung Prabowo. Hemat saya, hal ini berkaitan dengan kredibilitas masyarakat
terhadap partai. Artinya, siapapun pemenangnya nanti, kredibilitas rakyat
terhadap partai demokrat tidak berkurang drastis. Sebab, partai demokrat
(kelihatannya seperti) memilih untuk membagi diri atau bermain di zona abu-abu.
Lebih
jauh, persoalan kapan dan bagaimana kepentingan itu tercapai, hemat saya
berkaitan dengan pertanyaan apa yang ingin dicapai. Artinya, persoalan ini
bertanya tentang kapan kepentingan untuk menambah modal AHY untuk maju sebagai
capres di periode 2024-2029 dimulai (waktu/start
awal) dan bagaimana cara mencapainya (strategi). Hemat saya, untuk menjawab pertanyaan
pertama (kapan), perlu dijabarkan dulu soal
pertanyaan kedua (bagaimana). Adapun pertanyaan tentang bagaimana cara
mencapai kepentingan tersebut, saya pikir terlihat jelas dari politk dua kaki
yang dilakukan oleh partai demokrat. Hal ini saya pikir sudah cukup jelas untuk
menggambarkan strategi partai dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu ( AHY).
Lebih lanjut, menyoal kapan strategi itu dimulai, saya pikir jawaban yang tepat
adalah sekarang. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai menjalankan
strategi politik dua kaki itu. Ini hanyalah langkah awal (perlu dilakukan
sekarang) yang mempunyai tujuan akhir untuk meningkatkan modal AHY dalam
pencalonan dirinya sebagai capres 2024.[7]
[1]
Judul di atas diambil dari salah satu berita politik BBC News Indonesia. Bdk. Politik’ dua kaki’ Partai Demokrat: ‘ Batu
Loncatan AHY di Pilpres 2024’,11 September 2018, Heyder Affan. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45472916,
diakses 25 September 2018
[2] Dalam analisis kasus berita ini, saya akan
menggunakan definisi politik menurut Karrel Laswell. Adapun definisi politk
menurut Laswell adalah soal siapa yang mendapatkan apa, kapan , dan bagaimana.
[3]
Pengertian di atas adalah pengertian yang saya sampaikan atas pemahaman
(catatan) saya terhadap kuliah yang diberikan oleh Pak Andi. Karena itu, sumber
terkait yang perlu dituliskan cukup sulit untuk dituliskan. Satu-satunya
informasi valid yang dapat disampaikan adalah bahwa ini hanyalah hasil kutipan
dari catatan ilmu politik saya.
[4] Aristoteles pernah mengatakan bahwa manusia
adalah zoon politicon atau makhluk
yang berpolitik. Dengan kata lain, manusia juga melakukan strategi-strategi
tertentu untuk memenuhi kepentingannya.
[5]
Bdk. Affan Heyder, Politik’ dua kaki’
Partai Demokrat: ‘ Batu Loncatan AHY di Pilpres 2024’, Op.cit.
[6] Ibid.
[7] Kebanyakan pendapat saya terinspirasi dari
aritikel berita yang saya baca. Dalam hal ini pada khususnya, analisis saya
banyak dipengaruhi oleh pendapat seorang pengamat politik beranama Yunarot
Wijaya (pengamat politik yang kerap disebutkan namanya dalam artikel yang saya
baca).


