PEMBERDAYAAN
EKONOMI KELUARGA KATOLIK.
A.
Pendahuluan
Keprihatinanan gereja katolik dalam prespektif ekonomi umat sejak lama
sudah menjadi salah satu focus perhatian dari hirarki gereja, tak terkecuali di
Indonesia. Upaya gereja katolik untuk mengatasi
persoalan ekonomi umat digerakan oleh Komisi pengembangan sosial Ekonomi (PSE).
Sejak Konpernas PSE di Klender tahun 2005, gerakan pemberdayaan ekonomi umat
(masyarakat kecil) mendapat perhatian yang serius dari gereja ditengah
persaingan ekonomi global. Atas dasar keprihatianan tersebut maka gereja
menjadi penyokong utama melalui PSE
mendukung gerakan pemberdayaan ekonomi umat melalui berbagai macam bentuk gerakan pemberdayaan.
B. Pemberdayaan Ekonomi Keluarga Katolik .
![]() |
| Lokasi Pelaksanaan Lokakarya Pemberdayaan, Hotel D,Maelo Mamuju. |
Pemberdayaan adalah Suatu proses penyadaran melalui pendidikan,
pelatihan, bimbingan, dan pendampingan agar anggota mampu meningkatkan kualitas
hidup secara mandiri dan berkelanjutan berdasarkan potensi yang dimiliki (Edi
Suharto,
2005). Pemberdayaan keluarga merupakaan upaya untuk
menjalankan peran sesuai dengan fungsinya dalam keluarga, dan mengembangkan
potensi-potensi yang dimiliki anggota keluarga secara maksimal, sehingga
terbentuk ketahanan keluarga.
Pemberdayaan ekonomi rumah tangga
bertujuan agar setiap keluarga bsa menyusun Rencana Keuangan Keluarga.
RKK yang dibuat bukan ditujukan untuk “ bagaimana mengatur, memutar gaji” tetapi bagaimana
menciptkan peluang untuk menambah penghasilan,sehingga dapat menata ekonomi dengan baik. Dalam konteks inilah Lembaga pemberdayaan
ekonomi umat sangat diperlukan sebagai penyokong utama kebutuhan ekonomi
keluarga yang sejalan dengan nilai kemanusiaan yang sejati. Dibawah ini
digambarkan keluarga yang tidak mempunyai rencana dalam hidupnya, mempunyai
rencana tapi tidak tertulis, dan mempunyai rencan dan tertulis.
1.
KELAUARGA YANG TAK MEMILIK RENCANA DALAM HIDUPNYA, maka cara hidupnya
apa adanya kurang gairah dan optimisme
menghadapi hidup, akibatnya
jangka pendek Selalu bingung menghadapi masalah,
selalu
kurang siap menghadapi masalah yang datang,
akibatnya jangka panjang hidupnya tetap tidak berubah atau menjadi lebih
miskin bahkan melarat
2.
KELUARGA MEMILIKI RENCANA TAPI TIDAK
TERTULIS dalam hidup, cara hidupnya sehari hari tujuan jelas, memiliki pedoman , ada pegangan, akibatnya Hidup lebih berkembang, Hidup lebih
bermakna, Kualitas
hidup meningkat, Kualitas hidupnya baik
sekurang-kurangnya berkebukupan, inansialnya baik
3.
KELUARGA MEMILIKI RENCANA DAN TERTULIS, cara
hidupnya, memiliki tujuan sangat jelas,
hidup memiliki pedoman . hidup ada
pegangan kuat, hidup dikembangkan tahap demi tahap, akibatnya hidup sangat berkembang, sangat
bermakna, kualitas
hidup meningkat, ada aksi dan refleksi dalam
hidup, hidup sejahtera,
hidup makmur. ia dapat melakukan apa yang ia inginkan, hidup
seimbang dan bahagia.
Cita-cita dari pemberdayaan
ekonomi rumah tangga (PERT) adalah sepeerti point ke tiga diatas, dan sudah
banyak dilaksanakan diberbagai tempat melalui kursus-kursus. Kursus membuat
kue, krupuk, trasi abon dsb. Namun apa yang mereka ikuti belum mampu mengubah
sikap dan prilakunya dalam menciptakan peluang wira usaha. Ada hal lain yang
belum disampaikan yaitu keterampilan rencana dan manajemen usaha. Rencana dan
manajemen serta pendampingan yang bisa membuat mereka bisa mulai dari mana dan melangkah ke mana.
Materi yang diberikan belum
mampu membuat keluarga memiliki kecakapan keuangan . Kecakapan keuangan yang
bisa membuat keluarga mampu melihat peluang untuk meningkatkan wirausaha, dan
berwirausaha serta mengatur keuangannya. Dalam mengatur keuangan , bukan hanya
bagiamana memutar penghasilan, tetapi juga bagaimana mencari peluang usaha,
bagaimana menabung, bagaiamana tabungan bekerja untuk keluarga dan akhirnya
beberapa generasi yang akan mewarisi keuangan mereka.
C. PEMBERDAYAAN GERAKAN SOSIAL EKONOMI
Merpati artinya koperasi yang dibangun dan
berbadan hukum ketika ada dana dari pemerintah maupun penyandang dana. Setelah
berjalan satu dua bulan tutup kembali karena dana sudah habis. Pengurus dan
anggota yang terdaftar adalah fiktif. Merpati suka makan jagung, dan ketiaka
diberi jagung datang semua dan setelah habis jagung pergi semua.
Koperasi pedati artinya koperasi yang dibangun oleh pemilik modal,
berbadan hukum pemerintah. Koperasi semacam ini adalah atas nama dan bukan
rakyat yang memiliki, sehingga ketika ada untung rakyat tidak kebagian.Koperasi pedatimembuat
rakyat tidak punya masa depan karena tidak punya modal sendiri. Mereka kahirnya
tetap miskin walaupun koperasinya mempunyai untung besar.
Sebagai bagian dari masyarakat, gereja juga tak tinggal diam,
melalui Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) memfasilitasi berdirinya
berbagai Lembaga keuangan mikro. Akan tetapi hasilnya belum maksimal. Gereja
menyadari pemberdayaan sosial ekonomi yang diimpikan harus lahir dari
masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Tahun 2005 dalam sidang agung
gereja katolik yang berlangsung di Bogor Jawa Barat (SAGKI) yang dihadiri oleh
para uskup se Indonesia merekomendasikan gerakan pemberdayaan baru yaitu Credit
Union yang dikembangkan di Kalimantan. CU ini merupkan revitalisasi model
gerakan pemberdayaan yang sudah ada sejak tahun 1970 yang dipelopori oleh romo Karl
ALbrecht,SJ.
C. PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUARGA KATOLIK MELALUI GERAKAN
PEMBERDAYAAN CREDIT UNION.
Kehadiran Credit Union
sebagai Lembaga pemberdayaan, berangkat dari kesulitan keluarga katolik dalam membiayai hidup keluarganya, seperti
Pendidikan anak, kebutuhan keluarga , kesulitan permodalan untuk usaha dan
lain-lain. Kesulitan-kesulitan tersebut salah satu sebabnya adalah ketidak
berdayaan dalam mengelola ekonomi keluarga. Pada bagian pendahuluan dikemukan 3 model
manajemen keuangan sebuah keluarga. Jika kita ditanya manajemen model mana dari
ketiga model tersebut yang anda pilih? Tentu saja kita memilih yang ketiga.
Akan tetapi proses menuju pemilihan model ke 3 tersebut tidak mudah untuk
dilaksanakan.
Untuk
membantu kita menjadikan model ketiga sebagai habit, makan perlu dirancang pola
pikir yang positif. Pola pikir positif
menghasilkan prilaku yang solutif akan tetapi
sebaliknya menghasilkan prilaku masalah, yang pada akhirnya terjeumus dalam
kesulitan hidup. Hidup memang pilihan mau berpikir positif maka akan tercipta
rasa percaya diri seperti saya mampu,
saya bisa, dengan bekerja keras, saya bisa mewujudkan cita-cita saya, saya
harus berusaha lebih baik lagi. saya mampu menolong orang lain, saya
bisa membuat lapangan kerja sendiri, memiliki usaha sendiri itu keren, memulai
itu memang berat, tapi saya bisa! dan sebaliknya sebaliknya berpikirn negative akan
tercipta mental kalah , seperti tidak mampu; tidak bisa bekerja keras pun, kita akan tetap begini, saya begini
karena dihalangi orang lain, tidak punya apa-apa, sehingga harus ditolong, menunggu
orang memberi pekerjaan, lebih senang menerima dari pada berusaha sendiri, hidupnya tergantung pada kemurahan orang lain. takut
berusaha sendiri.
Berpikir saja tak cukup, harus ada tindakan,
tindakan yang didasari pertimbangan pikiran yang matang akan menghasilkan hasil
yang baik. Dan ketika tindakan yang baik itu dilakukan secara terus menerus
maka akan bertranformasi menjadi kebiasaan yang baik pula, dan jika kebiasaan
itu terus menerus dilakukan hingga terintegrasi dalam diri, maka akan menjadi karakter. Karakter ini yang akan
menetukan seperti apa nasib kita nantinya. Jadi berpikir, bertindak, kebiasaan,
karakater adalah sebuah proses perjalanan kejiwaan manusia untuk sampai pada
pilihan nasibnya seperti yang dikehendaki.
Mengapa Credit Union tata kelola modern menjadi
pilihan pemberdayaan ekonomi kelurga katolik?
A. Alasan CU dijadikan pilihan utama untuk
pemberdayaan keluarga katolik:
1. Kumpulan orang-orang yang saling percaya antara satu
dengan yang lainnya.
2. Anggota adalah pemilik dan pengguna jasa (owner
and customer)
3. CU aktif mengadakan pendidikan untuk anggota dan
aktivis
4. Anggota mudah memiliki modal dengan PMT
5. CU mendorong
perubahan pola pikir dalam pengelolaan
keuangan keluarga
6. CU membantu anggota mencapai tujuan keuangannya
7. CU mendorong anggota untuk mengembangkan usaha
(wirausaha)
8. CU berkembang dan maju secara mandiri dengan
menggunakan modal sendiri dari anggota.
9. CU memberi perlindungan terhadap pinjaman dan
santunan terhadap tabungan. Premi dibayar oleh lembaga
10. CU memiliki produk solidaritas untuk menggalang kepedulian satu sama lain
dalam peristiwa-peristiwa khusus.
11. Membuka lapangan kerja
12. Menciptakan sumber pembiayaan bersama (Sharing-Economy]
untuk kesejahteraan bersama
13. Sarana masyarakat kecil untuk berhimpun membangun
gerakan ekonomi dan sosial
B. Menjadikan pelatihan kecakapan keuangan sebagai
latihan wajib untuk diikuti oleh seluruh anggota, sehingga anggota mampu
mengelola sumber daya financial yang dimiliki, baik untuk keperluan konsumtif
maupun untuk produktif.
C. Konsisten mendampingi para anggota yang tergabung
dalam komunitas dan kelompok binaan.
Setiap orang yang sudah memilih CU sebagai Lembaga pendamping hidupnya, maka
akan didampingi dalam mengelola usaha
yang dilakukan oleh anggota. Potensi anggota yang belum dimaksimalkan akan diupayakan untuk dimaksimalkan,
Makassar,
18 Februari 2018.


