Rabu, 26 September 2018

POLITIK ‘DUA KAKI’ DEMOKRAT[1]


POLITIK ‘DUA KAKI’ DEMOKRAT[1]
Menyoal Siapa Mendapatkan Apa, Kapan, dan Bagaimana[2]
oleh: Oktaviano Nandito Guntur

Pengantar
            Politik adalah salah satu cabang ilmu sosial yang dewasa ini telah sangat tersebar luas penggunaannya. Sebelum mempelajari ilmu ini secara lebih mendalam pun, istilah politik telah acapkali terdengar di tv, koran, atau majalah tertentu. Partai politik, kebijakan politik, atau politisi adalah beberapa istilah yang bisa disebutkan sebagai istilah yang paling sering ditemukan di berbagai media informasi. Hal ini secara tidak langsung mengimplikasikan bahwa politik sudah menjadi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, hemat saya, berbicara soal politik sama halnya dengan berbicara tentang sesuatu yang sering dilakukan atau dekat dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun lebih jauh, istilah politik itu sendiri berkaitan erat dengan kata kekuasaan, aktor, dan strategi. Lebih lanjut, jika ketiga kata itu dihubungkan, maka dapat dikatakan bahwa politik adalah persoalan strategi-strategi tertentu yang dilakukan oleh satu aktor atau lebih untuk mencapai tujuan tertentu ( baca kekuasaan ).[3] Dengan kata lain, secara tidak langsung, politik juga akan sering menpersoalkan siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Sekilas ini terdengar egois, tetapi pada hakikatnya begitulah kenyataan yang terjadi; kenyataan ini pada akhirnya tidak hanya mencakup ranah politik itu sendiri, tetapi lebih jauh mencakup ranah kehidupan manusia pada umumnya.[4] Oleh karena itu, dalam tugas saya kali ini, saya akan mencoba menganalisis sebuah fenomena politk ‘dua kaki’ partai demokrat berdasarkan persoalan politik ‘ siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana.
Politik Dua Kaki Demokrat, Penjelasan Singkat
            Suhu perpolitikan di Indonesia semakin memanas menjelang pilpres 2019. Pilpres 2019 menampilkan dua tokoh besar yang akan saling berkompetisi untuk kedua kalinya. Kedua tokoh tersebut adalah Jokowi dan Prabowo. Lebih lanjut, kedua tokoh ini didukung oleh dua partai politik besar, yaitu PDI dan Gerindra. Menjelang pilpres 2019, kedua kandidat serta partai mulai melakukan koalisi partai serta menggandeng beberapa partai politik lain. Hal ini tentu saja bertujuan untuk meraup suara yang banyak dari masyarakat dan pemenangan kandidat presiden yang partai ajukan.
            Berkaitan dengan hal tersebut, isu yang cukup menarik untuk dibahas adalah persoalan kebijakan partai demokrat. Secara resmi, ketua umum Gerindra (Prabowo Subianto) dan Demokrat ( Susilo Bambang Yudhoyono) telah sepakat untuk saling mendukung menjelang pilpres nanti. Artinya, secara resmi demokrat akan mendukung Prabowo sebagai calon presiden RI periode 2019-2024. Akan tetapi, fakta yang menarik adalah adanya ketidakkonsistenan dari kubu demokrat sendiri. Beberapa kader demokrat (baca bagian tubuh partai) memutuskan untuk mendukung Jokowi sebagai calon presiden RI yang berikutnya. Hal inilah yang menurut Yunarto (pengamat politik) dinamakan sebagai sebuah kebijakan politik dua kaki partai demokrat.[5] Artinya, di satu sisi demokrat memijakkan kakinya di partai Gerindra ( mendukung secara resmi), tetapi di sisi lain demokrat juga memijakkan kakinya di partai PDI ( contoh beberapa kader yang terang-terangan mendukung Jokowi).
Menyoal Siapa Mendapat Apa, Kapan, dan Bagaimana
            Pada penjelasan yang lebih lanjut, tak dapat dimungkiri terdapat juga penjelasan dari seorang pengamat politik dalam berita tersebut atau bahkan ada penolakan dari kubu demokrat sendiri. Untuk masalah itu, saya tidak ambil peduli. Saya hanya ingin menganalisis fenomena politik ini dari segi siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana. Alasannya sederhana, saya ingin mengembangkan analisis politik saya, toh kalau salah itu dapat menjadi pelajaran; lagipula saya juga masih ‘bau kencur’ dalam pengetahuan politik.
            Berkaitan dengan hal tersebut, untuk memulai analisisnya, saya akan mulai menanyakan siapa mendapatkan apa. Pertanyaan siapa mendapatkan apa di sini akan saya jawab dengan konteks politik dua kaki. Artinya jelas, siapa di sini adalah partai demokrat dan apa di sini adalah kepentingan yang ingin dicapai oleh partai demokrat. Menurut salah Yunarto Wijaya, kepentingan apa saja yang ingin dicapai, erat kaitannya dengan modal AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) untuk mencalonkan diri menjadi presiden periode 2024-2029.[6] Dengan kata lain, partai demokrat mencoba untuk memperoleh suara rakyat dengan membagi dua pendukung dalam partainya sendiri, yaitu pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo. Hemat saya, hal ini berkaitan dengan kredibilitas masyarakat terhadap partai. Artinya, siapapun pemenangnya nanti, kredibilitas rakyat terhadap partai demokrat tidak berkurang drastis. Sebab, partai demokrat (kelihatannya seperti) memilih untuk membagi diri atau bermain di zona abu-abu.
            Lebih jauh, persoalan kapan dan bagaimana kepentingan itu tercapai, hemat saya berkaitan dengan pertanyaan apa yang ingin dicapai. Artinya, persoalan ini bertanya tentang kapan kepentingan untuk menambah modal AHY untuk maju sebagai capres di periode 2024-2029 dimulai (waktu/start awal) dan bagaimana cara mencapainya (strategi). Hemat saya, untuk menjawab pertanyaan pertama (kapan), perlu dijabarkan dulu soal  pertanyaan kedua (bagaimana).  Adapun pertanyaan tentang bagaimana cara mencapai kepentingan tersebut, saya pikir terlihat jelas dari politk dua kaki yang dilakukan oleh partai demokrat. Hal ini saya pikir sudah cukup jelas untuk menggambarkan strategi partai dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu ( AHY). Lebih lanjut, menyoal kapan strategi itu dimulai, saya pikir jawaban yang tepat adalah sekarang. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai menjalankan strategi politik dua kaki itu. Ini hanyalah langkah awal (perlu dilakukan sekarang) yang mempunyai tujuan akhir untuk meningkatkan modal AHY dalam pencalonan dirinya sebagai capres 2024.[7]



[1] Judul di atas diambil dari salah satu berita politik BBC News Indonesia. Bdk. Politik’ dua kaki’ Partai Demokrat: ‘ Batu Loncatan AHY di Pilpres 2024’,11 September 2018, Heyder Affan. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45472916, diakses 25 September 2018
[2]  Dalam analisis kasus berita ini, saya akan menggunakan definisi politik menurut Karrel Laswell. Adapun definisi politk menurut Laswell adalah soal siapa yang mendapatkan apa, kapan , dan bagaimana.
[3] Pengertian di atas adalah pengertian yang saya sampaikan atas pemahaman (catatan) saya terhadap kuliah yang diberikan oleh Pak Andi. Karena itu, sumber terkait yang perlu dituliskan cukup sulit untuk dituliskan. Satu-satunya informasi valid yang dapat disampaikan adalah bahwa ini hanyalah hasil kutipan dari catatan ilmu politik saya.
[4]  Aristoteles pernah mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon atau makhluk yang berpolitik. Dengan kata lain, manusia juga melakukan strategi-strategi tertentu untuk memenuhi kepentingannya.
[5] Bdk. Affan Heyder, Politik’ dua kaki’ Partai Demokrat: ‘ Batu Loncatan AHY di Pilpres 2024’, Op.cit.
[6] Ibid.
[7]  Kebanyakan pendapat saya terinspirasi dari aritikel berita yang saya baca. Dalam hal ini pada khususnya, analisis saya banyak dipengaruhi oleh pendapat seorang pengamat politik beranama Yunarot Wijaya (pengamat politik yang kerap disebutkan namanya dalam artikel yang saya baca).