Rabu, 01 Mei 2024

SEMUA ITU SENI SEBUAH REFLEKSI


 

Dalam kitab Pengkotbah Bab 3 umumnya dijelaskan bahwa semua kejadian, susah maupun senang, akan ada waktunya. Dengan demikian ditemukanlah satu dasar bahwa kehidupan seorang manusia layaknya roda yang berputar. Kadang berada di bawah dan kadang juga berada di atas. Namun, menurutku kitab usang tersebut perlu direvisi kembali, sebab zaman telah berubah dan segala hal telah mengalami pergeseran makna. Terbukti dari munculnya kebebasan untuk berpendapat, juga dibarengi dengan kebebasan orang untuk berinterpretasi pada setiap gagasan. Oleh karena itu, aku meresa berhak untuk menambahkan bahwa bukan hanya setiap kejadian yang ada waktunya, tetapi juga setiap tindakan adalah seni.

****

Napasku berat berlari merobek kabut tebal yang turun ke bumi bersama rentetan tangisan awan saat semua makhluk ciptaan Tuhan itu sedang asik bermain-main di alam lain. Hawa dingin saat itu begitu ramah menyapa tulang-tulangku yang sedari tadi gemetar. Bahkan, seragam serba hitamku yang membalut tubuhku keok dibuai hawa dingin. Tepat pukul nol. Seperti biasa aku bekerja sendirian setiap ada kesempatan. Sasaranku pekerjaanku saat ini adalah berlembar-lembar kertas yang dibubuhi dengan warna-warna merah indah dan goresan-goresan angka yang molek membentuk angka seratus. Suasananya sudah sangat kondusif. Seiring berjalannya sang waktu langkahku semakin kuciutkan, kujaga sebisa mungkin agar tidak ada yang berdecit. Clakk!! “yes!” gumamku bahagia ketika jendelanya terbuka. Di dalam ruangan itu cukup nyaman, karena lebih hangat dan aku ditemani oleh hasratku. Sekali lagi misiku untuk mala mini selesai dengan sempurna. Semua jejak termasuk sidik jari telah kuhapus dari peraduannya dan sekantong penuh kertas-kertas merah berhasil kumuat dengan motor bututku menuju ke tempatku membaringkan tubuh yang hebat ini. Terkadang aku juga harus berterima kasih pada sang Pencipta karena memberikan tubuh yang berbentuk tulang ini serta kemampuan yang hebat. Belum lagi karena kesuksesan-kesuksesanku ini selalu di lindungi oleh-Nya.

Ketika fajar menguapkan setiap jengkal embun pagi yang singgah di rerumputan hijau yang mengisi hamparan halaman gubukku, aku masih asik dengan nostalgia indahku di dunia buatanku. Bahkan, saat mentari itu menyusup di balik-balik bilik gubukku ini aku semakin merapatkan selimutku. Baru ketika dia berubah menjadi singa di siang hari yang membakar bumi, lalu aku bangkit dari alamku itu. Belum sepenuhnya aku berada di dunia nyata, pintu gubukku sudah digedor-gedor. Dalam bayanganku itu adalah Robin Binti Sulaiman Hud, dia adalah teman seperjuanganku. Bersama-sama kami memulai karir kami ini sejak dibuang dari sekolah dasar. Awalnya kami bekerja bersama dan memulainya dengan hal-hal yang sederhana, seperti buah-buahan di pasar, hingga dompet, tetapi karena suatu kejadian yang sangat rahasia akhirnya kami tidak bersama lagi. Untungnya kami masih sering berinteraksi, dan alhamdullilah hubungan kami masih langgeng. Ketika kubuka pintu kayu reotku itu, tepat bahwa Rehud (sapaannya) adalah pelaku penggedoran itu.  

“Mar, kita udahan ya,” kata Rehud padaku dengan muka gelisah

“Maksud kamu apa Hud? Kamu mau putusin aku?” kataku agak heran ditambah efek baru bangun tidur. Syukur bahwa Rehud yang menggedor pintuku kalau orang lain pasti sudah kutempel dia dengan makian.

“Begini bang Komar, kemarin aku baru selesaikan tugas. Terus sasaranku memang dari luarnya bagus tetapi waktu aku di dalam malah yang kudapat hanya pemilik rumah yang melarat. Bahkan, saat ia tahu bahwaaku masuk rumahnya dia malah memberi kesempatan untukku agar mengambil semua milikknya termasuk nasihatnya. Da dari itu aku menyesal bang. Aku mau selesai.” Jelas Rehud panjang lebar tanpa titik koma apalagi intonasi yang bagus. Aku sendiri heran mengapa baru hari ini penjahat kelas kakap seperti dia ingin menghentikan profesi yang menguntungkan ini. Sebagai abangnya aku mulai iba melihat wajahnya yang penuh kebimbangan. Aku sendiri tahu bahwa dia pasti sulit meninggalkan pekerjaannya saat ini.

“Hud. Kamu kan tahu kalo semua itu ada waktunya. Oleh karena itu, kalo saat ini juga kamu mau keluar dari profesi kamu, silahkan. Aku tidak akan melarangmu, karena kau punya kebebasan untuk itu. Tapi satu hal yang perlu kau ingat sobat, bahwa pekerjaan kita adalah kumpulan dari berbagai seni, kita orang seni dan itu prinsip yang kita buat waktu kita diusir karena tidak seni waktu sekolah dulu,” ungkapku sebijaksana mungkin agar ia bisa mempertimbangkan kembali pilihannya itu.

Setelah aku rombak gubukku menjadi sebuah rumah dengan lembaran-lembaran yang kuambil dari kantor Perkorupsian Negara, lembaga khusus Negara untuk memberantas orang-orang yang malu untuk korupsi, akhirnya Rehud datang bersama seorang wanita yang kemudian kuketahui bernama Anjel Kondang. Kedatangannya membuatku sungguh bahagia, sebab dia adalah tamu pertama yang mencicipi hasil keringatku sendiri selama berbulan-bulan mengambil lembaran-lembaran merah dari kantor tersebut. Belum lagi melihat dia bersama Anjel yang diberitahunya menjadi istrinya sekarang.

“Behh! Hud gila kau, bulan lalu bertobat sekarang kamu sudah beristri. Bahagianya hidupmu sobat,” kataku setelah memberikan jamuan yang bagiku mewah : sirup dan kue bolu.

“Ah, Bang! Apa yang bang Komar nasihatkan kepada saya bulan lalu itu membulatkan pilihan saya untuk kembali menjadi pelayan masyarakat bang. Saya tetap seperti yang seebelumnya kak,” katanya bangga sambil membusungkan dada dan senyuman selebar kebahagiaannya.

“Kamu hebat Hud, dan aku bangga sama kamu. Kamu sudah bisa menentukan arahmu,” ucapku dengan rasa bangga yang tidak kalah besar.

 

 

 

Biodata penulis :



 

Nama : Arkadus Ianuar Guntur  

Kelas : XII IPA

Alamat : SMA St. Yoh. Berkhmans Todabelu Mataloko     

 

        

  

Jumat, 19 April 2024

FILSOFI KEHIDUPAN LELUHUR MASYARAKAT MANGGARAI, FLORES NUSA TENGGARA TIMUR

Setiap masyarakat pasti memiliki kearifan lokal masing-masing untuk menjaga eksistensi diri dari masyarakat yang bersangkutan, sehingga keteraturan hidup bisa terpeliharan dari generasi ke generasi, sehingga keberadaan masyarakat yang bersangkutan tetap eksis tidak dimakan oleh arus perubahan zaman yang amat deras terjadi diberbagai aspek kehidupan manusia sebagai obyek dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat Manggarai sebagai salah satu  entitas daerah di Indoensia memiliki filsofi sendiri untuk menjaga agar keberadaanya sebagai sebuh entitas suku Manggarai tetap eksis dimasa depan.

Filsofi leluhur masyarakat Manggarai

 Mangga lereng mangga macing, wae mokel'n awo, selat sape'n sale, adalah semboyan umum masyarakat Manggarai yang lahir dari filsofi hidup masyarakat Manggarai ssendiri. Lalu seperti apa saja filsofi para leluhur masyarakat Manggarai?

1. Arti filsofi.

Filosofi adalah sebuah aktivitas  yang dilakukan orang masyarakat Manggarai, ketika mereka sedang berusaha untuk memahami kebenaran yang mendasar atas diri mereka sendiri, dunia tempat mereka tinggal, serta hubungan mereka dengan dunia serta satu sama lain. Filsofi ini hidup hingga sekarang kerap kali dilupakan oleh sebagjhagian besar masyarakat Manggarai, namun bebeerapa kalangan masih melestarikannya  seperti para Raja zaman dulu dan para dalu, dan kini masih dipelihara dengan  baik oleh kalangan terpelajar khususnya para turunan dara biru masyarakat Manggarai.

2. Kehidupan adalah proses sosial dan proses biologi masyarakat Manggarai dari masa ke masa, sehingga keberadaanya tetap ada hingga kapanpun Untuk menjamin ketertaturan hidup dan eksistensi masyarakat Manggarai maka diperlukan upaya agar filsofi ini tetap dilestarikan dengan cara kita masing-masing tanpa meninggalkan makna terdalam dari masing-masing filsofi ini. Salah satu bentuk sosialisasinya adalah dengan menulis seperti ini, terlepas dari ada kekurangannya.

Adapun filsofi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Toing.

2. Titong,

3. Teing

4. Tinu

5. Tegi

1. Toing

    Toing dalam bahasa Indoneisa mendidik artinya mentransfer nilai dan pengetahuan kepada geneerasi baru mulai dari seseorang berada dalam kandungan hingga menjadi warga manggarai yang dewasa antara lain cara berinteraksi dengan sesama warga Manggarai  maupun dengan warga yang bukan Manggarai. Toing dalam arti luas proses sosialisasi dan internalisasi seluruh proses budaya Manggarai (nilai dan pengetahuan) dari yang paling sederhana seperti sapaan, gerak tubuh dengan warga Manggarai lain maupun proses budaya yang kompleks yang bernilai budaya tinggi seperti tudak. Tudakpun tidak bisa dilakukan oleh semua orang, hanya orang yang mendapat titisan dari nenek moyanglah yang bisa melakukannya. Seluruh proses ini berlangsung secara oral, tidak ada bukunya untuk dibaca dan dihafal selain proses lisan. Biasanya anggota masyarakat yang sering ikut dengan tetua adat yang fasih tudak akan mendapatkan titisan selain karena mendengar terus menerus juga warisan nenek moyang yang kita sebut titisan. Dan proses ini tidak dialami oleh setiap orang, tapi 1 atu 2 , bahkan sangat bersyukur kalau bisa 3 orang dalam sebuah komunitas mbaru gendang atau golo.Maka Toing dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak  ataupun antara sesama orang dewasa (ema cama tau'd ite).Filsofi Toing bisa diterapkan diberbagai bidang kehidupan masyarakat Manggarai. Tentu saja proses ini berlangsung secara informal dan sepanjang hayat.

2. Titong

 Titong dalam bahasa Indonesia adalah membimbing, setelah seseorang atau sekelompok orang (komunitas) mendapat Toing, maka mereka tidak boleh dilepas, tetap selalu dibimbing terus menerus oleh orang yang lebih tua, dalam bentuk tutur yang sopan,  keteladanan yang otentik lahir dari dalam diri orang tua (lebih dewasa) dari yang dibimbing. Maka ketika seseorang melenceng dari praktek hidup bermasyarakat maka akan diingatkan dalam bentuk sapaan langsung tapi dari hati ke hati, atau dalam bentuk lagu, danding, cigu atau bentuk-bentuk lain yang relevan dengan situasi masyarakatnya (komunitas: kampung, golo). Kalau dalam komunitas Golo maka biasanya peran ini dominan dilakoni oleh tua golo, dan dalam keluarga oleh kepal keluarga. Maka dalam konteks titong antara, niat hati, tutur, dan perbuatan harus sungguh sejalan sehingga melahirkan prilaku loyal dari masyarakat pengikutnya.

3. Teing

Teing dalam bahasa Indonesia adalah kasih atau beri dengan ihklas.Teing dalam pemahaman yang luas adalah bukan dalam bentuk benda saja tetapi juga nasehat, dan harus dilakukan dengan ihklas tanpa mengharapkan balasan. Filsofi teing dalam konteks budaya Manggarai bisa dipahami dalam konteks yang masih hidup sejumlah benda .yang diberikan kepada orang tua (teing tinu) dan juga orang lain yang lebih dihormati dengan syarat ikhlas dan juga dipahami sebagai pemberian kepada para leluhur Teing hang kolang. Teing dalam arti memberi nasehat kepada seseorang yang tata tutur dan lakunya bertentangan dengan kebiasaan umum masyarakat Manggarai. 

4. Tinu

Tinu dalam bahasa Indonesia pelihara hingga bisa mandiri. Tinu dalam konteks Manggarai yaitu memelihara seseorang oleh orang tua secara ihlas tanpa mengharapkan balasan dari anak yang dipelihara. Ketika anak-anak sudah mandiri (dewasa) mereka wajib membalas kebaikan orang tua mereka dalam bentuk "Tei Tinu" kepada kedua orang tua. Teing tinu merupakan ritual wajib yang dilakukan oleh anak-anak terhadap kedua orang tua, terutama yang masih hidup, tetapi kalau sudah meninggal, baru anak-anak dewasa maka dibuatkan ritual "tei hang" untuk kedua orang tua yang sudah meninggal.

5. Tegi

Tegi dalam bahas Indoensia minta. Sorang anak wajib meminta nasehat dari orang tua, orang yang lebih tua (tokoh masyarakat) untuk diingat dalam menjaalani kehidupan di tengah masyarakat, apalagi kalau seseorang hendak keluar daerah Manggarai. Tegi...penting dilakukan oleh setiap warga Manggarai sehingga dipandang sebagai orang baik di tengah masyarakat. Maka muncul tegi nabit, tegi momang, tegi nasehat, tegi reweng emas dan lain-lain.

Demikian filsofi masyarakat Manggarai yang terekam dari orang tua kita orang Manggarai, baik yang masih hidup (dengar kotbah Mgr Datus Lega,Pr, Gowa,2 Feb.2024,Tegi). 

Mari kita baca juga penerapan filsofi kehidupan masyarakat Manggarai dalam hidup organisasi oleh adinda saya Daniel Janggur,S.Sos.

Toing

Titong

Teing

Tino

 

Artinya menurut dakun dr sudut pandang organisasi:

1. Toing; seperti yg disampaikan oleh pembina saat raker dan yg lainnya, seperti yg dihasilkan oleh Mubes, seperti yg dihasilkan raker ttg program kerja, seperti yg di hasilkan rapat2 pleno maupun rapat terbatas. Semuanya mengarahkan inilah yg kamu lakukan.

 

2. Titong; Pembina dan Penasehat akan berperan aktif utk membimbing pengurus ketika pengurus salah jalan. Titong berikutnya  saling mengingatkan atau saling menegur kalau kita salah jalan.

 

3. Teing;  mungkin KKM belum memberi sesuatu yg bermakna untuk pribadi lepas pribadi, tapi seharusnya sudah waktunya  kita harus bermakna buat organisasi (apa yang kita berikan kepada organisasi) yg kemudian secara tidak langsung/kasat mata/remang/tidak nampak hasilnya, tetapi percaya atau tidak pasti kita akan mendapatkan manfaatnya berkumpul

 

4. Tinu; Pelihara ini KKM, pelihara hubungan antara kelompok dgn individu, pelihara hubungan antara individu dgn individu, pelihara komunikasi ta baik langsung maupun tdk langsung termasuk komunikasi via WA. Asi pucu koe, mari kita diskusi itu gunan organisasi atau kelompok/komunitas. Dengan demikian KKM akan jaya dan sambil mencari format yg belum tepat dan pas lalu kemudian kita perbaiki untuk keberlanjutan. Salam Hitu dakun, coo sanggen😃🙏🙏🙏