Setiap masyarakat pasti memiliki kearifan lokal masing-masing untuk menjaga eksistensi diri dari masyarakat yang bersangkutan, sehingga keteraturan hidup bisa terpeliharan dari generasi ke generasi, sehingga keberadaan masyarakat yang bersangkutan tetap eksis tidak dimakan oleh arus perubahan zaman yang amat deras terjadi diberbagai aspek kehidupan manusia sebagai obyek dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat Manggarai sebagai salah satu entitas daerah di Indoensia memiliki filsofi sendiri untuk menjaga agar keberadaanya sebagai sebuh entitas suku Manggarai tetap eksis dimasa depan.
Filsofi leluhur masyarakat Manggarai
Mangga lereng mangga macing, wae mokel'n awo, selat sape'n sale, adalah semboyan umum masyarakat Manggarai yang lahir dari filsofi hidup masyarakat Manggarai ssendiri. Lalu seperti apa saja filsofi para leluhur masyarakat Manggarai?
1. Arti filsofi.
Filosofi adalah sebuah aktivitas yang dilakukan orang masyarakat Manggarai, ketika mereka sedang berusaha untuk memahami kebenaran yang mendasar atas diri mereka sendiri, dunia tempat mereka tinggal, serta hubungan mereka dengan dunia serta satu sama lain. Filsofi ini hidup hingga sekarang kerap kali dilupakan oleh sebagjhagian besar masyarakat Manggarai, namun bebeerapa kalangan masih melestarikannya seperti para Raja zaman dulu dan para dalu, dan kini masih dipelihara dengan baik oleh kalangan terpelajar khususnya para turunan dara biru masyarakat Manggarai.
2. Kehidupan adalah proses sosial dan proses biologi masyarakat Manggarai dari masa ke masa, sehingga keberadaanya tetap ada hingga kapanpun Untuk menjamin ketertaturan hidup dan eksistensi masyarakat Manggarai maka diperlukan upaya agar filsofi ini tetap dilestarikan dengan cara kita masing-masing tanpa meninggalkan makna terdalam dari masing-masing filsofi ini. Salah satu bentuk sosialisasinya adalah dengan menulis seperti ini, terlepas dari ada kekurangannya.
Adapun filsofi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Toing.
2. Titong,
3. Teing
4. Tinu
5. Tegi
1. Toing
Toing dalam bahasa Indoneisa mendidik artinya mentransfer nilai dan pengetahuan kepada geneerasi baru mulai dari seseorang berada dalam kandungan hingga menjadi warga manggarai yang dewasa antara lain cara berinteraksi dengan sesama warga Manggarai maupun dengan warga yang bukan Manggarai. Toing dalam arti luas proses sosialisasi dan internalisasi seluruh proses budaya Manggarai (nilai dan pengetahuan) dari yang paling sederhana seperti sapaan, gerak tubuh dengan warga Manggarai lain maupun proses budaya yang kompleks yang bernilai budaya tinggi seperti tudak. Tudakpun tidak bisa dilakukan oleh semua orang, hanya orang yang mendapat titisan dari nenek moyanglah yang bisa melakukannya. Seluruh proses ini berlangsung secara oral, tidak ada bukunya untuk dibaca dan dihafal selain proses lisan. Biasanya anggota masyarakat yang sering ikut dengan tetua adat yang fasih tudak akan mendapatkan titisan selain karena mendengar terus menerus juga warisan nenek moyang yang kita sebut titisan. Dan proses ini tidak dialami oleh setiap orang, tapi 1 atu 2 , bahkan sangat bersyukur kalau bisa 3 orang dalam sebuah komunitas mbaru gendang atau golo.Maka Toing dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak ataupun antara sesama orang dewasa (ema cama tau'd ite).Filsofi Toing bisa diterapkan diberbagai bidang kehidupan masyarakat Manggarai. Tentu saja proses ini berlangsung secara informal dan sepanjang hayat.
2. Titong
Titong dalam bahasa Indonesia adalah membimbing, setelah seseorang atau sekelompok orang (komunitas) mendapat Toing, maka mereka tidak boleh dilepas, tetap selalu dibimbing terus menerus oleh orang yang lebih tua, dalam bentuk tutur yang sopan, keteladanan yang otentik lahir dari dalam diri orang tua (lebih dewasa) dari yang dibimbing. Maka ketika seseorang melenceng dari praktek hidup bermasyarakat maka akan diingatkan dalam bentuk sapaan langsung tapi dari hati ke hati, atau dalam bentuk lagu, danding, cigu atau bentuk-bentuk lain yang relevan dengan situasi masyarakatnya (komunitas: kampung, golo). Kalau dalam komunitas Golo maka biasanya peran ini dominan dilakoni oleh tua golo, dan dalam keluarga oleh kepal keluarga. Maka dalam konteks titong antara, niat hati, tutur, dan perbuatan harus sungguh sejalan sehingga melahirkan prilaku loyal dari masyarakat pengikutnya.
3. Teing
Teing dalam bahasa Indonesia adalah kasih atau beri dengan ihklas.Teing dalam pemahaman yang luas adalah bukan dalam bentuk benda saja tetapi juga nasehat, dan harus dilakukan dengan ihklas tanpa mengharapkan balasan. Filsofi teing dalam konteks budaya Manggarai bisa dipahami dalam konteks yang masih hidup sejumlah benda .yang diberikan kepada orang tua (teing tinu) dan juga orang lain yang lebih dihormati dengan syarat ikhlas dan juga dipahami sebagai pemberian kepada para leluhur Teing hang kolang. Teing dalam arti memberi nasehat kepada seseorang yang tata tutur dan lakunya bertentangan dengan kebiasaan umum masyarakat Manggarai.
4. Tinu
Tinu dalam bahasa Indonesia pelihara hingga bisa mandiri. Tinu dalam konteks Manggarai yaitu memelihara seseorang oleh orang tua secara ihlas tanpa mengharapkan balasan dari anak yang dipelihara. Ketika anak-anak sudah mandiri (dewasa) mereka wajib membalas kebaikan orang tua mereka dalam bentuk "Tei Tinu" kepada kedua orang tua. Teing tinu merupakan ritual wajib yang dilakukan oleh anak-anak terhadap kedua orang tua, terutama yang masih hidup, tetapi kalau sudah meninggal, baru anak-anak dewasa maka dibuatkan ritual "tei hang" untuk kedua orang tua yang sudah meninggal.
5. Tegi
Tegi dalam bahas Indoensia minta. Sorang anak wajib meminta nasehat dari orang tua, orang yang lebih tua (tokoh masyarakat) untuk diingat dalam menjaalani kehidupan di tengah masyarakat, apalagi kalau seseorang hendak keluar daerah Manggarai. Tegi...penting dilakukan oleh setiap warga Manggarai sehingga dipandang sebagai orang baik di tengah masyarakat. Maka muncul tegi nabit, tegi momang, tegi nasehat, tegi reweng emas dan lain-lain.
Demikian filsofi masyarakat Manggarai yang terekam dari orang tua kita orang Manggarai, baik yang masih hidup (dengar kotbah Mgr Datus Lega,Pr, Gowa,2 Feb.2024,Tegi).
Mari kita baca juga penerapan filsofi kehidupan masyarakat Manggarai dalam hidup organisasi oleh adinda saya Daniel Janggur,S.Sos.
Toing
Titong
Teing
Tino
Artinya menurut dakun dr sudut pandang organisasi:
1. Toing; seperti yg disampaikan oleh pembina saat raker dan yg lainnya,
seperti yg dihasilkan oleh Mubes, seperti yg dihasilkan raker ttg program
kerja, seperti yg di hasilkan rapat2 pleno maupun rapat terbatas. Semuanya
mengarahkan inilah yg kamu lakukan.
2. Titong; Pembina dan Penasehat akan berperan aktif utk membimbing
pengurus ketika pengurus salah jalan. Titong berikutnya saling mengingatkan atau saling menegur kalau
kita salah jalan.
3. Teing; mungkin KKM belum
memberi sesuatu yg bermakna untuk pribadi lepas pribadi, tapi seharusnya sudah
waktunya kita harus bermakna buat
organisasi (apa yang kita berikan kepada organisasi) yg kemudian secara tidak
langsung/kasat mata/remang/tidak nampak hasilnya, tetapi percaya atau tidak
pasti kita akan mendapatkan manfaatnya berkumpul
4. Tinu; Pelihara ini KKM, pelihara hubungan antara kelompok dgn
individu, pelihara hubungan antara individu dgn individu, pelihara komunikasi
ta baik langsung maupun tdk langsung termasuk komunikasi via WA. Asi pucu koe,
mari kita diskusi itu gunan organisasi atau kelompok/komunitas. Dengan demikian
KKM akan jaya dan sambil mencari format yg belum tepat dan pas lalu kemudian
kita perbaiki untuk keberlanjutan. Salam Hitu dakun, coo sanggen😃🙏🙏🙏