MEMOAR GUNTUR.
Prolog.
Kehidupan manusia laksana awan yang
membentang tak bertepi, tak berujung, namun satu yang pasti bahwa kehidupan itu
ada awal, pertengahan dan ada pula akhir. Demikian pula kehadiranku di Bumi
Rajawali, laksana tak bertepi dan tak berujung namun yang pasti ada mulai dan
pula akhir. Mengapa saya berada disini? Postulan sederhana adalah kebetulan,
tapi dibalik kebetulan itulah rahasia Ilahi yang tak terselami. Mengungkap
rahasia itu, rasanya kurang pas jika mulai dari pertengan pada hal ada tepi
lain kehidupan dan berujung pada ujung yang lain pula. Tepi pertama
adalah cita-citaku, tantangan, permurnian, dan akhirnya menampakan diri dalam
lika liku kehidupan, pada tikungan hidup itulah sang Ilahi hadir memberi
kepastian.
CITA-CITA KU SEJAK KECIL
.
Lahir di Ri,i sebuah kampung kecil yang terletak dipunggung bukit wasewengke,
dari seorang ayah Wilibrodus Kes almarhum dan ibu Katarina Padung. Sejak
memasukki sekolah dasar disebuah desa kecil Manggarai Flores Kecamatan Ruteng,
tepatnya SDK Beo Rahong, cita-citaku ingin menjadi seorang guru, maklum
lingkungan pergaulanku hanya bapa gurulah yang ku jumpai setiap hari. Kebetulan
juga adik dari ayahku seorang guru, yang sangat dihormati oleh seluruh
masyarakat yang ada di kampung maupun dimana beliau bertugas. Tahun 1971,
awal kehadiranku di sekolah. Sebagai anak desa, dengan segala keterbatan
bersama dengan teman-teman seangkatan rutinitas harian mengikuti sekolah.
Sekolahnya tak serius, karena di tempat dimana kami menuntut ilmu hanya ada
seorang guru yang usianya juga sudah agak usur tapi semangatnya masih
tetap luar biasa mendidik kami. Kami belajar imalah dan berhitung di bawah
sebuah pohon jeruk dari jama 07.30 - 10.00. itu terus dilakukan setiap
hari hingga kelas II. Kami maklumi karena ruang kelas di gunakan oleh kakak
kelas II dan III. Sekolah ini memang baru dibangun dan kami adalah
angkatan ke tiga, kakak kelas diatas kami tertinggi adalah kelas III,
Bangunannya sudah beratap zink tapi dindinganya dari gemeca bambu, tempat duduk
juga dari kayu juga seadanya. Alat tulis menulis yang kami gunakan terbuat dari
batu pualam hitam, gampang ditulis dan gampang juga di hapus. Kakak kelas II
dan III sudah mulai menggunakan batu kalam dengan batu tulis dimana untuk
menulis pada batu tulis tersebut harus menggunakan pensil dan untuk
menghapusnya harus ada karet hapus yang sudah ada di ujung pensil. Angkatan
kami sendiri, batu tulis atau sering juga disebut batu karton baru digunakan
pada kelas IV seiring dengan hadirnya 2 orang guru muda pak Don dan pak Yan.
Kehadiran tenaga muda berdua ini melipatgandakan motivasi kami untuk belajar,
kami inten belajar " INI BUDI, INI IBU BUDI,INI BAPA BUDI, INI KAKAK BUDI,
INI ADIK BUDI, SEMUANYA ADA 5 ORANG" ritual budi selalu dilantunkan setiap
awal dan akhir pelajaran. Setelah itu baru mulai pelajaran inti.
Tahun 1976, saya dapat menyelesaikan studiku di SD berkat bimbingan dari 2
orang guru muda dan seorang kepala
sekolah baru yang datang dari kota kabupaten untuk mendidik kami dengan baik.
Kedua pemuda itu demikian mempesoana kami khusunya saya karena kepiaiawan
mereka dalam mendidik kami dalam sisi akademis dan non akademis. Kebaikan hati
mereka ini menambah motivasiku untuk menjaga asahku menjadi guru.

Pasca lulus SD saya masuk disebuah sekolah
menengah pertama didekat dengan kampung halaman, jarakanya kurang lebih 10 km,
melewati salah satu sungai besar wae Lega yaitu SMP KATOLIK SURYA CANCAR.
Saat menempuh pendidikan di sekolah lajutan pertama himpitan ekonomi terus
menerpa cita-citaku, maklum keluargaku digolongkan keluarga miskin,
membiayai hidup sehari-hari saja susah apalagi untuk biaya sekolah. Tapi ayah
dan kakak-kakak ku memberi semangat bahwa saya harus sekolah meski tiada biaya,
cukup mereka saja yang susah hidupnya kata-kata mereka. Untuk mebuktikan
dukungan tersebut ayahku bekerja sebagai tukang sadap tuak/moke selanjutnya
beliau menjual dari kampung-ke kampung. Hasilnya untuk membayar uang sekolahku.
Selain itu kakak-kakaku bekerja juga sebagai buruh tani dengan bayaran uang
seadanya. Untuk mendukung sekolahku keluarga dekat mengajak ku untuk tinggal
bersama mereka sambil sekolah. Ayahku bekerja tidak saja sebagai tukang sadap
pohon enau untuk dapat tuaknya tapi juga apa saja pekerjaan yang bisa
menghasilkan uang sejauh bahwa itu halal, seperti jual ikan kering, bekerja
sebagai penggergaji kayu dihutan bersama dengan keluarga lain, buat lesung
untuk tumbuk padi, bahkan kerja borongan kebunnya orang, yang penting
mendapatkan uang untuk biaya sekolahku. Saya sadar betul bahwa sekolah tidaklah
murah, dan untuk saya sekolah keluargaku mulai dari kakek nenek, ayah ibu
berserta kakak ku rela menahan lapar agar cita-citaku tercapai. Karena itu
dengan keterbatasan ekonomi saya belajar dengan amat giat, setiap sore hari
pergi belajar di sekolah mulai jam 15.30 - 17.00, dan malam hari menyelesaikan
seluruh tugas dari Bapa dan Ibu guru, kecuali hari Rabu untuk cari kayu
dihutan. Pagi hari jam 04.30 sudah bangun, membasuh muka dengan air dan mulai
belajar lagi dengan lampu kaleng kecil berisi minyak tanah, setiap hari
kebiasaan itu dilakukan terus menerus. Setiap hari Rabu saya harus ke hutan
untuk mencari kayu bakar, selain untuk asrama sebagiannya dijual untuk dapat
uang dan setiap hari Sabtu pulang kampung untuk bantu orang tua kerja di kebun.
Karena perjuangan keluargaku demikian luar biasa, maka hari Rabu, kalau tidak
ke hutan maka saya pergi tanam padi disawah dan mendapat upah dari pemberi
kerja seadanya, uangnya saya serahkan kepada kelaurga dimana saya bertempat
tinggal. Saking susahnya kehidupan ekonomi kelurga kami, maka suatu
ketika saya pulang kampung dan berdiskusi dengan keluarga, apakah mereka setuju
kalau saya mau buat usaha jualan di asrama sekolah, mereka setuju asal tidak
mengganggu belajarku. Saat itu sudah kelas III SMP, sekolah mewajibkan para
murid untuk harus tinggal di asrama. Jadilah saya menjual diasrsama
dengan sistem barter. Barang apa yang dijual? Tepung dari ubi kayu dicampur
gula sehingga jika dimakan rasanya enak bahasa lokalnya rebok koil (tepuk
gaplek). Setiap hari Sabtu saya pulang kampung dan pulang minggu sore
kembali ke asrama dengan membawa kurang lebih 10 kg material dengan nama
rebok istilah lokalnya. Setiap hari teman-temanku minta ditukarkan dengan
beras, maklum perut lapar,nasi belum masak, pulang sekolah baru masak nasi,
situasi itulah yang saya manfaatkan untuk menjual daganganku. Satu gelas rebok
ditukar dengan satu gelas beras. Jadi kalau saya pulang kampung maka pasti saya
bawa pulang 10 kg beras. Kegiatan ini dilakukan hingga akhir kelas III. Akhir
tahun 1979, kami tamat dari SMP Surya cancar. Pasca tamat sekolah Menengah
pertama,cita-citaku untuk menjadi guru, tetap berkobar dalam
benakku. Beberapa temanku tidak lulus SMP, sedangkan ,saya lulus, puji Tuhan.
Begitu lulus, saya mau sekali untuk masuk sekolah guru di ibu kota kabupaten.
Tapi untuk masuk disana harus lulus tes, dan mahal juga bayarannya. Kami
diskusi lagi dengan keluarga, dan mereka semua sangat mendukung.
CITA-CITA KU MULAI MENDAPAT TANTANGAN
Tiba juga waktunya untuk mengikuti tes masuk di salah satu sekolah guru
terkemuka di ibu kota. Sayapun ikut didalamnya, penerimaan di sekolah ini
sangat terbatas sesuai jatah yang ditentukan oleh pemerintah. Setelah selesai
tes, saya membayangkan bagaimana senangnya menjadi seorang guru nanti, setelah
3 tahun sekolah. Sayang nya ketika diumumkan namaku tidak ada, alias tak lulus.
Letih, lesu, bercampur aduk dalam rasa hatiku. Saya kemudian diskusi dengan
omku yang menjadi guru, beliau menyarankan tak usah putus asa, masuk di SMA
saja, di perguruan tinggi bisa masuk sekolah guru lagi. Tapi ku katakan sama om
ku, bagaimana bisa masuk PT.SMP saja sudah susah untuk membiayainya, pada hal
kalau masuk SPG, 3 tahun selesai sudah bisa mengajar di SD. Tapi demikianlah
hasil perbincangan itu tak menghsilkan keputusan apa-apa. Saya pulang kampung
berdiskusi dengan keluargaku, apakah saya lanjutkan studi atau tidak. Semua
mereka memberi dukungan agar harus melanjutkan studi. Kali ini saya sudah
menerima dengan lapang dada ketidak lulusanku tes SPG. Akhirnya kami
putuskan bahwa ikut tes di salah SMA terbaik di ibu kota kabupaten. Ibu
menceritakan bahwa di sekolah itu ada kelurga dekat yang menjadi guru, saya
mencoba untuk mencari tahu di sekolah itu siang harinya apakah ada nama guru
seperti yang diceritakan ibu. Ternyata benar ada. Saya ketemu beliau, dan
beliau siap bantu. Besok harinya ikut tes bersama ratusan peminat disekolah
ini. Saya pun ikut tes bersama dengan teman-teman dari sekolah lain maupun dari
sesama rekan alumni SMP yang sama. Semnggu kemudian ada beritanya, dan saya
dinyatakan lulus. Jadilah saya menjadi salah seorang siswa dari sekolah ini,
saat itu namanya SMA Swata Swadaya Ruteng. Tantangan finansial tetap menjadi
momok yang mengerikan bagiku, sedangkan dari sisi kemampuan akademik bisa bersaing
dengan teman-teman lain. Untungnya saya sudah terbiasa di SMP untuk nyambi cari
penghasilan, tapi dalam cara yang berbeda.Untuk menutup biaya uang sekolah dan
biaya hidup, sehari-hari setiap hari Rabu harus ke hutan untuk mencari kayu
bakar untuk di jual kadang-kadang ke guruku, kadang juga ke keluarga lain yang
bersimpati. Selain usaha jual kayu, juga membantu membawa padi ke penggilingan
padi dari beberapa keluarga yang bersimpati, dan sebagai ongkos sewanya dikasih
beras sesuai kasihannya. Ketika kelas III SMA, kesempatan untuk masuk hutan
cari kayu bakar sudah tak mungkin lagi, karena keharusan dari sekolah bahwa
semua kelas III harus diasramakan dan wajib sore hari belajar di sekolah.
Rupanya Tuhan tak tutup jalan, om ku memberi informasi bahwa salah seorang
dokter butuh anak sekolah untuk membersihkan lingkungan sekitar rumah dinasnya
dan diaksih uang lelah. Sekali lagi saya bersama seorang temanku menghadap ibu
dari sang dokter, dan dengan tangan terbuka beliau menerima kami, dengan
berbagai syarat-syarat yang harus dipenuhi. Jadilah setiap hari rabu kami
membersihkan rumah sang dokter, dan setiap pulang kerja dari rumahnya, kami
selalu diberikan makanan dan minuman. Setiap akhir bulan kami dikasih uang
lelah, sekedar membantu kami kata beliau tapi buat saya inilah kehadiran Tuhan
untuk menolongku. Saat yang sama ayahku dan kakak-kakak ku tetap berjibaku
mendapatkan dana untuk penyelesaian studiku di sekolah lanjutan atas dengan
pola yang sama saat saya masih di bangku SMP.
Tahun 1983, tepatnya bulan April, kami mengadapi ujian akhir Nasional saat itu
dinamakan EBTANAS. Hasil ujian tersebut saya dinyatakan LULUS. Rasa bangga,
haru, bercampur aduk dalam hatiku karena babak perjuanganku di SMA sudah
selesai. Saya pulang kampung menjumpai keluargaku yang harap-harap cemas,
apakah saya lulus atau tidak, maklum di Flores saat itu banyak sekali
siswa-siswi yang tidak lulus ujian akhir, termasuk ada 21 teman seangkatanku
tidak lulus dan terpaksa mengulang untuk tahun berikutnya dengan tidak ada
jaminan untuk lulus pula. Ada temanku yang frustasi ada juga terima kenyataan
dengan mengulang disana. Ada juga yang pilih mengulang di luar kota Ruteng
dengan merantau ke Ujung Pandang. Ketika saya tiba di rumah, ayahku dan kakak
ku belum pulang dari kebun. Sore malam hari mereka baru pulang, mereka melihat
saya ceria sekali, sutu tanda berita baik. Begitu ayahku datang, beliau
merangkulku dan menangis yang juga diikuti oleh seluruh anggota keluarga,
menangis karena hasil perjuangan mereka sudah berhasil selesai untuk SMA.

Sang inpirator dan pahlawan keluarga kami
Malam hari berdiskusi lebih lanjut, bagaimana
rencana selanjutnya, ayahku berkata, nak rasanya Bapa sudah tidak mampu lagi
membiayai sekolahmu, jadi biar tamat SMA saja. Saya hanya pasrah, tapi kakak ku
mengusulkan kita buat pesta sekolah, kalau ada hasilnya, dipakai untuk biaya
merantau ke Ujung Pandang. Usul itu diterima oleh Bapa dan dibicarakan dalam
keluarga besar di kampung. Mereka semua mendukung, jadilah saya pesta, tgl 7 Agustus
1983. Sayang, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Tap dari uang itu
keluarga menyimpannya untuk bekal merantau. Pasca pelaksanaan pesta saya
mencari informasi, dimana sebaiknya saya merantau. Akhir Juli hingga september
1983, arus informasi demikian banyak didapatkan, tapi belum saya putuskan
hendak kemana saya pergi. Awal Agustus 1983, seorang saudariku anak dari om ku
datang libur dari Ujung Pandang, beliau sekolah perawat di SPK Stelamaris, dan
sudah tamat serta kerja di RS Stelamaris. Beliau mendengar rencana kami untuk
merantau, om ku dan beliau datang ke kampung untuk kunjungi kakek dan nenek
kami, sekalian berdikusi secara matang tentang saya merantau kemana. Setelah
berdiskusi panjang lebar, keluarga sepakat untuk merantau ke Ujung Pandang, dan
datang bersama dengan beberapa teman yang kuliah di Atmajaya nama bapa Aloysius
Weot sebagai penunjuk jalan. Tgl 23 Oktober tahun 1983, tiba di Ujung Pandang.
Saya sementara tinggal di keluarga om ku bapak alamarhum Yan Jemani, selama
satu minggu. Setelah satu minggu di rumahnya bapa Yan, ada beberrapa keluarga
mengajak untuk tinggal kost bersama dengan mereka, dengan harapan bisa kerja
bangunan. Akhirnya saya setujui dan minta izin pada Bapa Yan, untuk tinggal
bersama teman-teman.

Ujung Pandang, 23 Oktober 1983.
Untuk menyambung hidup di Ujung Pandang, pekerjaanku serawutan mulai dari kuli
bangunan, kerja di tempat photo copy, percetakan, jual minyak gosok dari
lorong-ke lorong di kota Ujung Pandang. Saya lakukan dengan ikhlas hati, sambil
mencari informasi untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Rupanya
pekerjaan ini menempaku untuk tahan banting, apapun yang dihadapi lanjutkan
saja. Tetapi ada satu aktivitas yang tak pernah dilupakan adalah pendarasan doa
kepada bunda Maria, agar diberi pertolongan olehnya melalui doanya, setiap
hari, setiap malam itu selalu saya lakukan sambil meneteskan air mata.
Pekerjaan yang tak menentu ini hingga akhir April 1984. Untuk memotivasi diriku
selalu ingat pesan ayahku “ merantau artinya menderita” dan kalau kau bisa
sekolah, filsofinya adalah “sekolah karena miskin”. Ketika menjumpai tantangan
yang maha hebat, pesan ini yang selalu membesarkan hatiku, lalu bangkit lagi.
Ayahku memang orang terhebat pendiam tapi pekerja keras dan pintar.
Tuhan datang menyapaku.
Minggu ke 2 bulan Maret 1984, sebagaiman biasa, saya berangkat dari tempat kost
menuju lorong-lorong kota Ujung Pandang, yang saat itu saya tak tahu namanya
apa, pokoknya jalan saja. Siang hari jam 11.15 wita, saya masuk dalam sebuah
rumah, untuk menjajakan barang julan saya minyak gosok cap Rajawali. Beliau
dengan ramah menerima saya dan bertanya nama, dari mana, dan untuk apa datang
ke Ujung Pandang. Beliau mengajak saya untuk makan bersama, dan saya ia kan
saja. Saat itulah beliau juga memperkenalkan diri, dan aktivitasnya. Setelah
selesai makan, beliau mengajakku untuk doa anggelus jam 12 siang. Saya senang
bukan kepalang, setelah berdoa anggelus beliau melanjutkannya dengan memberi
renungan pribadi yang bersumber dari bacaan Injil Lukas Bab 12. ayat 24; beliau
menguatkan saya bahwa Tuhan sudah menyiapkan sebuah pekerjaan untukmu, tapi
harus percaya 100%. Untuk meyakinkanku, beliau menyuruhku untuk berdoa 7
kali Bapa Kami dan Salam Maria, di Gerja Sto Yakobus Mariso, sore hari
Minggu. Saat doa itu, saya berjanji untuk melaksanakannya dengan sungguh. Mulai
hari minggu pasca perjumpaan itu saya melakukannya setiap hari Minggu. Minggu
ke tujuh saya berdoa, hari Senin nya ada informasi dari teman bahwa ada
perusahaan tenunan kain Sutera membutuhkan tenaga untuk memasak benang sutera.
Sayangnya yang dibutuhkan satu orang saja, sementara kami ada dua orang.
Keputusannya teman ku yang menghadap.sang bos. Setelah dia menghadap bos,
dijanjikan seminggu kemudian hari senin menghadap lagi. Hari sabtu sebelum
temanku menghadap bos, datang ke saya, memberitahukan bahwa dia tidak jadi menghadap
bos hari Senin, karena besok hari Minggunya mu balik ke Manggarai lewat kapal
kecil. Saya katakan ok lah nanti saya yang menghadap. Tiba saat nya hari Senin
tgl 1 Mei 1984, kira-kira jam 08.00 wita, saya disuruh masuk ke kantor
menghadap ibu, Ibu Ester namanya. Beliau bertanya mau kerja, saya katakan ia
bu, tapi gajinya kecil dan kerjanya jam 05.00 wita, sudah harus di kantor masak
benang sutera. Gajinya Rp 250 per minggu. Saya katakan ok bu, saya setuju.
Setelah itu beliau menyuruh saya untuk langsung bekerja dan belajar sama
teman-teman dari Flores yang duluan masuk kerja dari saya.
Setahun kemudian saya kerja sini, ibu melihat bahwa saya ada potensi yang
tersembunyi dalam diri saya untuk dikembangkan, karena itu beliau panggil,”
Nis, kalau kau mau kerja disini terus saya tidak setuju, kau harus sekolah”, jawabku,
tapi bu, saya tak punya uang, orang tua ku tak mampu membiayai saya kuliah jawabku.
Beliau katakan uang yang kau dapat ini jangan makan semua, ditabung untuk
bayar uang kuliah. Begitu mulianya bos ini, akhirnya saya setuju, bu terima
kasih atas niat baiknya, tapi bagiamana kalau saya kuliah, kerja disini
bagaimana? Beliau katakan, begini, kami kasih kompensasi sama kau, kalau ada
kuliah sore jam 14.00, boleh pulang duluan, tapi kalau malam hari, tetap pulang
jama 17.00. Saya setuju. Saya cari informasi dan saya dapat kampusnya.
CITA-CITAKU MULAI BERSEMI KEMBALI.
Akhir Juli 1985, saya mendaftarkan diri di salah satu perguruan tinggi swasta
di Makassar. Fakultasnya adalah Pendidikan. Maka daftarlah saya di Universitas
Muhammadiyah Makassar, FKIP, jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.
Saya melaporkan kepada bos saya, bahwa saya sudah daftar kuliah, diterima dan
mulai kulianya akhri Agustus 1985. Kuliahlah saya disana mulai Agustus 1985.
Gangguan datang lagi, pada bulan Oktober ada informasi dari temanku bahwa ada
prpgram bea siswa di Unhas untuk profesi guru, tapi harus tes.

Saya coba memberanikan diri untuk tes, dan ternyata saya lulus.
Kuliah selama kurang lebih tiga bulan jurusan Biologi, sambil juga malam hari
tetap kuliah di PTS swasta. Januari 1986, pimpinakuyang laki-laki
datang dari Jakarta. Beliau tahu bahwa saya kuliah di UNHAS, beliau memanggil
saya, dan mengatakan bahwa kamu harus angkat kaki dari sini. Pilih kuliah atau
kerja, atau kuliah sambil kerja tetap di swasta karena malam hari. Kami
bernego, hasil negonya adalah selama seminggu saya diberi kesempatan untuk
berpikir dan memutuskan. Hari sabtu, saya menghadap beliau dan berdiskusi
tentang masalah kuliah saya. Beliau memberi masukkan bahwa selain kau dapat
gaji bulanan, kau juga dapat Rp 250 perbulan untuk uang kuliah tetapi tetap di
swasta dan tinggalkan UNHAS. Akhirnya diputuskan saya mengundurkan diri dari
UNHAS, dan tetap kuliah di UNISMUH Makassar. Tahun 1989, tepatanya bulan
Oktober, saya menyelesaikan studi S1 ku di UNISMUH, dan mengundurkan diri dari
pekerjaan di Sutera Alam Sulawesi, dengan alasan mau menjadi guru. Pimpinanku
menerima dengan baik, dan berpesan agar relasi dengan beliau tidak boleh putus,
dan saya mengatakan terima kasih pak dan ibu.
CHARA MEMBUKA TANGAN MERANGKULKU MEWUJUDKAN CITA-CITAKU
Bersma seorang sahabatku, kami bekerja mencetak sablon sendiri
sertifikat-sertifikat untuk apa saja. Saya yang menjadi marketingnya dan beliau
bertugas untuk mencetaknya. Ketika itu SMA Katolik Rajawali mau
melaksanakan penataran P4 untuk siswa/i barunya. Saya bertemu dengan suster
kepala sekolahnya, yaitu suster Bernadette Mokorimban. JMJ. Belau mengatakan,
seminggu lagi Bapak datang, banyak yang kami harus cetak. Seminggu kemudian
saya datang ketemu beliau, dari bincang-bincang itu beliau bertanya, kamu
kuliah dimana? Saya menjawab suster saya sudah selesai kuliah bulan oktober
kemarin 1989 Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Oh.. kami butuh
jurusan anda, karena dari dinas mewajibkan setiap sekolah harus ada jurusan
itu. Kalau begitu kau buat lamaran, tanggal 23 Juni 1990 kau bawa ke Sekolah.
Tanggal yang dijanjikan saya bawa lamaranku, dan beliau meminta agar tgl 24
Juli 1990 kau datang ikut rapat guru, dan sambil menunggu itu kau jalan-jalan
ke sekolah, saya mengiakan semua yang disampaikan beliau. Ketika rapat guru,
saya diperkenalkan oleh beliau kepada kawan-kawan guru.
TEMPAT BARU, TANTANGAN BARU.
Pasca saya diterima di Chara, masalah muncul,
saya ditempatkan dibagian kurikulum yang secara teori saya dapat ilmunya, tapi
prakteknya, aduh jauh antara langit dan bumi. Suster mengajarkan kepada saya
bagaimana cara membuat jadwal/roster. Beliau memberi tugas kepada saya untuk
mengajar pelajaran Sejarah dan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB),
dunia dimana di perguruan tinggi saya belum pernah sentuh sedikitpun. Tap saya
terima, dan belajar dengan segala daya, dan akhirnya bisa juga mengajar. Untuk
memastikan apakah saya sudah bisa mengajar, suster selalu mensupervisi
saya di kelas, dan sesudahnya berdiskusi dengan beliau apa kekurangan dari apa
yang diajarkan. Suster selalau membesarkan hati saya ketika saya mendapat
tantangan dari para murid dan teman-teman juga memberi suport, bahwa pasti kamu
mengjar dengan baik, kuncinya kuasai materi yang kamu ajarkan. Proses itu
terus berjalan dan tantangan juga terus
berjalan. Ada pada momen tertentu mendapat tantangan dari murid yang ingin coba
gurunya. Dia menantangku untuk adu fisik… saya jawab dia, nak saya disini bukan
untuk itu, saya hanya mau berbagi apa yang ada paduku untuk kalian, tapi kalau
terpaksa boleh juga tapi bukan disini tempatnya. Kalu gitu… begini… jangan
disini yah… sebentar malam kita ketemu di Karebosi, Ananda bawa siapa saja….
Kita ketemu jam 10 malam. Tiba hari h dan j nya saya menunggu dikarebosi hingga
jam 12 malam. Sambil menunggu para bencong dating menggoda saya….. saya katakan
menjauh… kalau tidak parang ini melayang di lehermu, eee mereka lari pontang panting.
Ketika lewat jam 12 malam, mereka tidak dating, akhirnya saya pulang. Keesokkan
hari nya saya datangi kelas nya dan menghampiri dia, dan bertanya mengapa tidak
dating tadi malam di Karebosi? Dia tunduk dan tidak menjawab. Pasca peristiwa
itu, resistensi dari para siswa-i sudah sangat berkurang bahkan tidak ada sama
sekali.

Tahun 1995, sejalan dengan kebijakan pemerintah dimana mata pelajaran sosiologi
dan antropologi harus diajarkan kepada seluruh siswa SMA mulai kelas II jurusan
IPS, maka saya ditugaskan untuk mengampuh mata pelajaran tersebut mendapingi
kawanku yang jam mengajarnya terlalu banyak. Saat itu memang peminat jurusan
IPS, hingga 5 kelas. Pelajaran ini, saya ampuh dengan agak santai karena di Perguruan
Tinggi dua semester diajarkan yaitu
sosiologi umum dan sosiologi Pendidikan. Sebagaimana biasa, selalu belajar
keras lagi, membaca buku-buku yang terkait dengan mata pelajaran yang saya
ampuh. Pada akhirya justeru mata pelajaran ini sangat saya senangi, mengajarnya
kepada murid-muridku. Kerap saya bertanya kepada beberapa dari mereka
bagaiamana mengajarku hari ini, apakah lebih baik? ya.... lumayan pak, tapi
mana catatannya pak, masa Bapak menjelaskan terus, kami belajar nya dari mana?
Dari pengalaman itulah, kamai buat tradisi, agar murid kami harus punya buku
catatan yang tebal, untuk menulis materi ajar yang diajarkan kepada siswa/i.
PERUBAHAN PARADIGMA
Tahun 2000, LCD sudah mulai diperkenalkan di
sekolah, setiap kali kami ikut pelatihan para nara sumber selalu menggunakan
alat canggih ini. Sebagaiaman kebiasaanku, selalu ingin tahu, bagaiaman cara
mengoperasikannya. Macam-macam juga jawabannya, harus kuasai power point, punya
komputer sendiri, punya LCD di sekolah. Saya belajar power point, semua catatan
dari buku tebal saya pindahkan ke powe point, dan hasilnya sangat baik.
Murid-muridku juga termotivasi kalau ngajar menggunakan power poin. Karena
sambutan murid-murid sangat baik dengan penggunaan teknologi dalam proses
pembelajaran, maka tak terkecuali para guru memacu diri untuk belajar komputer
khsusnya power poin yang difasilitasi pimpinan sekolah. Sejak tahun 2005, kami
di mata pelajaran Sosiologi benar-benar tradisi mencatat di buka tebal
ditinggalkan total menjadi sistem pembelajaran menggunakan power poin. Apa lagi
setelah seorang mantan murid kami menjadi guru bersama kami dan sangat lihai
komputer, kami banyak belajar dari dia, khususnya saya.
Pendampingku yang sabar dan tahan uji.
CHARA SEMAKIN PESAT PERKEMBANGANNYA.Seiring program pemerintah dimana diadakan lomba
bidang studi tingkat nasional seperti olimpiade Sains Nasonal, maka SMA Katolik
Rajawali terlibat didalamnya. Tahun 2005, SMA K Rajawali mengirim utusan untuk
lomba bidang studi di tingkat Nasional, saat itu Chara hanya mendapat
sebuah medali Perunggu untuk bidang studi Ekonomi, diraih oleh siswi bernama
Novi dari XII IPS-2. Tahun 2006, terjadi pergantian pucuk pimpinan di Chara,
pimpinan lama diganti oleh pimpinan baru, saya sendiri belum kenal, tapi informasi
yang saya himpun dari teman-teman, beliau energik, kepala sekolah SMP Pelita
Bangsa Tana Toraja. Tiba saatnya beliau datang ke sekolah, dan meperkenalkan
diri bahawa nama beliau adalah Sr.Leonie Taroreh, JMJ. Awal kehadirannya selalu
memberi semangat kepada kami para guru, bahwa milikilah sekolah ini, karena
dengan rasa memiliki akan mucul rasa tanggung jawab, dan dengan adanya rasa
tanggung jawab disiplin akan terpelihara terus menerus. Dan ciri khas Chara
adalah sekolah yang disiplin, terus kan itu dipertahankan, kata suster mantap.
Dalam rangka membangkitkan rasa kebersamaan pimpinan selalu melakukan
pendekatan informal kepda guru bahkan kepada Yayasan juga. Untuk mendukung
terwujudkanya Chara go internasional maka diciptkan kelas unggulan IPA dan IPS,
unggulan Inggris dengan kurikulum Cambrige. Hasilnya luar biasa, Chara
sederajad dengan sekolah lain secara nasional. Sudah sekian banyak medali emas,
perak, perunggu, dari even olimpiade Sain Nasional. Satu cita-citanya yang
belum terwujud adalah medali untuk olimpiade Penelitian Siswa Indonesia.
(OPSI). Untuk mewujudkan cita-cita ini, tahun 2015, dibentuk gugus guru untuk
melatih siswa/i Chara yang memiliki potensi untuk itu. Karena pada pelajaran
sosiologi ada materi ajar khusus tentang penelitian, maka saya menerima tugas
itu dengan senang hati. Hasil dari
bimbingan kami untuk karya ilmiah lumayan bagus. Sebelum kami bertanding ke
level kota, Propinsi dan nasional, maka dialakukan lomba KTI (karya tulis
ilmiah tingkat sekolah. Dan semua kelas wajib mengutus 1 kelompok untuk ikut.
Kepala sekolah menyambut baik usul tersebut dan menyiapkan hadiah, uara I dapat
piala dan uang sejumalh Rp 1,500,000, Juara II sejumalah Rp 1.250.000, Juara
III sejumlah 1.000.000, Juara harapan I sejumlah Rp 750.000, Jaura harapan II
sejumlah Rp 500.000, dan Juara harapan III sejumlah Rp 250.000,- Dan yang
menjadi juri adalah dosen dari Universitas Hasanuddin Makassar. Ini lah awal
kisah dari Karya Tulis Ilmiah berkembang di SMA Katolik Rajawali, dimana
pendampingnya adalah kami sendiri. Hasilnya piala juara 1,2 dan 3 bahkan
olimpiade Sosiologi yang dilaksanakan oleh universitas Negeri Makassar, SMA
Rajawali mendapt medali emas. Perlombaan tangkat kota Makassar, Propinsi
Sulawesi selatan, Chara selalu mendapt juara. Perkembangan Chara kini, memang
semakin pesat, data peminat untuk belajar di Chara untuk lima tahun terakhir
meningkat secara signifikan, bahkan tahun 2015, sejumlah 849 murid mendaftar,
sedangkan yang diterima hanya 472 orang.
Perekmbangan ini tidak terlepas dari strategi pimpinan Chara berkolaborasi
dengan Yayasan, dimana setiap guru diizinkan melanjutkan studi magister, para
guru yang mengampuh mata pelajaran OSN diberi tugas khusus untuk mendampingi
anak-anak secara khusus. Untuk mewujudkan ini, hari Jumaat dipilih sebagai hari
bimbingan OSN. Hasilnya ..... luar biasa, medali emas, perak,perunggu di raih
Chara.
KETERBUKAAN CHARA (YAYASAN) MEWUJUDKAN CITA-CITAKU..
Andaikan Chara(yayasan) tidak membuka tangannya untuk merangkulku? Mau jadi apa
yah, saya ini? Tapi itulah rancangan Ilahi yang tak terselami. Ia bekerja
melalui orang lain (kepala sekolah), Yayasan untuk menjaring manusia-manusia
yang sudah diseting sejak awal untuk masuk di Chara ini. 25 tahun sudah, saya
bersmamu Chara, intelktualitasku berhasil dioptimalkan olehmu, melalui pimpinan
ku. Tapi dasar aku yang lemah, tak berdaya, belum memberi baktiku yang luar
biasa untuk Mu. Tapi izinkan ku memohon maaf kepada mu (yayasan, pimpinan
sekolah, rekan-rekanku) karena aku belum meberi yang terbaik, tapi sebaliknya
mungkin yang menyusahkan. Terima kasihku kepada pimpinan ku Suster Leonie SJMJ,
yang kerap mengeritkan dahinya ketika saya berulah, dan tertawa lepas ketika
ada canda yang tak bermakna dariku. Untukmu suster saya haturkan terima kasih,
karena kepasitasku secara akademik berhasil ditingkatkan, Tuhan pasti
membalasNya. Dan untuk Yayasanku, para suster, secara khusus suster Bernadette
Mokorimban, JMJ, suster yang mulia Chantia Toar, JMJ yang ada dialam sana,
terima kasih tak terhingga kepada para suster semua. Aku akan pensiun dari
sini, tetapi hatiku tetap tinggal disini, sampai kapanpun. Mungkin sukaku
adalah dukanya yayasan (sekolah), karena sering merepotkan yayasan, sekolah.
Dan sukanya yayasan (sekolah, kepala sekolah) ketika aku sudah pergi dari
hadapan kalian semua. Tapi apapun itu kita alami, itulah bingkai kenangan yang
kerap dikenang oleh kita semua, khususnya saya dan keluargaku, secara istimewa
anak-anakku.

Generasi pelanjut kami