Rabu, 23 September 2015

HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN,MENGENANG SAUDARIKU BERGITA YG TELAH TIADA

Ketika seseorang dihadirkan oleh Tuhan kedunia melalui kedua orang tua, rasa syukur, tahjud, bangga dirasakan oleh setiap keluarga. Di balut oleh rasa gembira yang luar biasa, merasuk sanubari dari kedua orang tua yang menantikan kehadirannya, seperti apa rupa dari rahasia Ilahi yang akan hadir di tengah-tengah keluarga. Kerinduan itu dipendam kuarang lebih  270 hari, dan pada akhirnya hari yang ditunggu juga tiba, itulah peristiwa kelahiran kita namakan. Kelahiran tersebut memberi warna ceria kepada kelaurga besar, maka selanjutnya dibuatkan prosesi syukuran baik lewat budaya yang dianut masing-masing maupun ritual agama yang dianut oleh kedua orang tua sang pewarna hidup. Selanjutnya dibuatkan ritual budaya pemberian nama dengan segala macam syarat itu ini yang harus dipenuhi dalam rangka keselamatan sang pewarna hidup(bayi). Tujuannya adalah agar perjalanan hidupnya nanti terjaga dengan baik oleh para leluhur, akan demikian juga dalam ritual keagamaan, upacara permberian nama sepertia permandian dalam tradisi Katolik, hakekah dalam tradisi Islam, emua dialakukan agar perjalan hidupnya mendapat perlindungan dari Yang Maha Esa. Itulah sebabnya knapa kita sangat gembira ketika seorang dilahirkan, yaitu kerinduan kita melihat sosok yang akan hadir ditengah kita, seperti apa tampanya.

Ketika sudah dewasa, bergaul dengan sesama, dan untuk menjamin pergaulan itu berlangsung dengan baik, maka norma masyarakat diperkenalkan melalui keluarga, sehingga keteraturan dalam pergaulan terjaga dengan baik. Norma agama memperkuat norma masyarakat sehingga relasi antara sesama manusia ddipastikan dapat berlangsung dengan baik. Ketika seseorang berhasil menajalankan perannya sesaui dengan kehendak masyarakat maka akan mendapat penghargaan dari masyarakat dengan predikat orang baik, dihargai, dihormati. Dalam agama diberi penghargaan sebagai orang saleh, taat beragama, dannya  penghargaanpun  diberikan oleh masyarakat dengan predikat masuk surga kalau nanti sudah berakhir hidupnya didunia ini.  Kebaikan-kebaikan yang ditebarkan oleh sesorang kepada sesama akan membekas dalam hati setiap orang yang berjumpa dengan siapapun. Rupanya, karena kebaikan-kebaikan yang ditebarkan demikian luarbiasa tertanam dalam hati sanubari kelaurga, sehingga ketiak seseorang beralih dari dunia ini, kelaurga yang masih hidup meraung-raung menangis, karena tampan yang sudah hadir melalui peristiwa kelahiran, kini hilang lenyap tanpa pernah akan terlihat lagi. Itulah sebabnya knapa kita menangis ketika seseorang  beralih dari dunia ini ke alam baka.

Inspirasi renungan dari seorang uztazt dalam buka puasa tahun 2013, pada buka puasa bersama dengan pengurus OSIS SMAK Rajawali, di rumahnya sdr Rifdah. Beliau bertanya, mengapa orang menangis ketika ada anggota kelaurganya meninggal? Dan apa saja yang dibawa oleh seseorang kehadapan TYE ketika meninggal?. Pertama yang dibawa adalah amal baiknya didunia ini, kedua adalah seluruh anggota kelurganya dan yang ketiga adalah seluruh harta benda yang dimilikinya selama berada didunia. Lalu mana yang diterima oleh TUHAN? Ternyata yang diterima oleh Tuhan adalah amal perbuatan baik,sedangkan keluarga dan harta bendanya dikembalikan oleh Tuhan. Itulah perjalan hidup kita.
Maka benarlah bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan. Tulisan ini, sebagai ungkapan kemashulan hatiku, atas kepergian saudariku yang tercinta Bergita Evi Jem,jam 04.00 wita di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Selamat saudariku, beristirahatlah dalam damai, dan doa kan kami semua yang masih mengembara didunia ini.


Senin, 21 September 2015

MEMOAR GUNTUR





MEMOAR GUNTUR.

 

Prolog. 
Kehidupan manusia laksana awan yang membentang tak bertepi, tak berujung, namun satu yang pasti bahwa kehidupan itu ada awal, pertengahan dan ada pula akhir. Demikian pula kehadiranku di Bumi Rajawali, laksana tak bertepi dan tak berujung namun yang pasti ada mulai dan pula akhir. Mengapa saya berada disini? Postulan sederhana adalah kebetulan, tapi dibalik kebetulan itulah rahasia Ilahi yang tak terselami. Mengungkap rahasia itu, rasanya kurang pas jika mulai dari pertengan pada hal ada tepi lain kehidupan  dan berujung pada ujung yang lain pula.  Tepi pertama adalah cita-citaku, tantangan, permurnian, dan akhirnya menampakan diri dalam lika liku kehidupan, pada tikungan hidup itulah sang Ilahi hadir memberi kepastian.

CITA-CITA KU SEJAK KECIL 
.
Lahir di Ri,i sebuah kampung kecil yang terletak dipunggung bukit wasewengke, dari seorang ayah Wilibrodus Kes almarhum  dan ibu Katarina Padung. Sejak memasukki sekolah dasar disebuah desa kecil Manggarai Flores Kecamatan Ruteng, tepatnya SDK Beo Rahong, cita-citaku ingin menjadi seorang guru, maklum lingkungan pergaulanku hanya bapa gurulah yang ku jumpai setiap hari. Kebetulan juga adik dari ayahku seorang guru, yang sangat dihormati oleh seluruh masyarakat yang ada di kampung maupun dimana beliau bertugas. Tahun 1971, awal  kehadiranku di sekolah. Sebagai anak desa, dengan segala keterbatan bersama dengan teman-teman seangkatan rutinitas harian mengikuti sekolah. Sekolahnya tak serius, karena di tempat dimana kami menuntut ilmu hanya ada seorang guru yang usianya juga sudah agak usur tapi  semangatnya masih tetap luar biasa mendidik kami. Kami belajar imalah dan berhitung di bawah sebuah pohon jeruk dari  jama 07.30 - 10.00. itu terus dilakukan setiap hari hingga kelas II. Kami maklumi karena ruang kelas di gunakan oleh kakak kelas II dan III. Sekolah ini memang baru dibangun dan kami  adalah angkatan ke tiga, kakak kelas diatas kami tertinggi adalah kelas III, Bangunannya sudah beratap zink tapi dindinganya dari gemeca bambu, tempat duduk juga dari kayu juga seadanya. Alat tulis menulis yang kami gunakan terbuat dari batu pualam hitam, gampang ditulis dan gampang juga di hapus. Kakak kelas II dan III sudah mulai menggunakan batu kalam dengan batu tulis dimana untuk menulis pada batu tulis tersebut harus menggunakan pensil dan untuk menghapusnya harus ada karet hapus yang sudah ada di ujung pensil. Angkatan kami sendiri, batu tulis atau sering juga disebut batu karton baru digunakan pada kelas IV seiring dengan hadirnya 2 orang guru muda pak Don dan pak Yan. Kehadiran tenaga muda berdua ini melipatgandakan motivasi kami untuk belajar, kami inten belajar " INI BUDI, INI IBU BUDI,INI BAPA BUDI, INI KAKAK BUDI, INI ADIK BUDI, SEMUANYA ADA 5 ORANG" ritual budi selalu dilantunkan setiap awal dan akhir pelajaran. Setelah itu baru mulai pelajaran inti.
Tahun 1976, saya dapat menyelesaikan studiku di SD berkat bimbingan dari 2 orang  guru muda dan seorang kepala sekolah baru yang datang dari kota kabupaten untuk mendidik kami dengan baik. Kedua pemuda itu demikian mempesoana kami khusunya saya karena kepiaiawan mereka dalam mendidik kami dalam sisi akademis dan non akademis. Kebaikan hati mereka ini menambah motivasiku untuk menjaga asahku menjadi guru.


Pasca lulus SD saya masuk disebuah sekolah menengah pertama didekat dengan kampung halaman, jarakanya kurang lebih 10 km, melewati salah satu sungai besar wae Lega yaitu SMP KATOLIK SURYA CANCAR.  Saat menempuh pendidikan di sekolah lajutan pertama himpitan ekonomi terus menerpa cita-citaku, maklum keluargaku  digolongkan keluarga miskin, membiayai hidup sehari-hari saja susah apalagi untuk biaya sekolah. Tapi ayah dan kakak-kakak ku memberi semangat bahwa saya harus sekolah meski tiada biaya, cukup mereka saja yang susah hidupnya kata-kata mereka. Untuk mebuktikan dukungan tersebut ayahku bekerja sebagai tukang sadap tuak/moke selanjutnya beliau menjual dari kampung-ke kampung. Hasilnya untuk membayar uang sekolahku. Selain itu kakak-kakaku bekerja juga sebagai buruh tani dengan bayaran uang seadanya. Untuk mendukung sekolahku keluarga dekat mengajak ku untuk tinggal bersama mereka sambil sekolah. Ayahku bekerja tidak saja sebagai tukang sadap pohon enau untuk dapat tuaknya tapi juga apa saja pekerjaan yang bisa menghasilkan uang sejauh bahwa itu halal, seperti jual ikan kering, bekerja sebagai penggergaji kayu dihutan bersama dengan keluarga lain, buat lesung untuk tumbuk padi, bahkan kerja borongan kebunnya orang, yang penting mendapatkan uang untuk biaya sekolahku. Saya sadar betul bahwa sekolah tidaklah murah, dan untuk saya sekolah keluargaku mulai dari kakek nenek, ayah ibu berserta kakak ku rela menahan lapar agar cita-citaku tercapai. Karena itu dengan keterbatasan ekonomi saya belajar dengan amat giat, setiap sore hari pergi belajar di sekolah mulai jam 15.30 - 17.00, dan malam hari menyelesaikan seluruh tugas dari Bapa dan Ibu guru, kecuali hari Rabu untuk cari kayu dihutan. Pagi hari jam 04.30 sudah bangun, membasuh muka dengan air dan mulai belajar lagi dengan lampu kaleng kecil berisi minyak tanah, setiap hari kebiasaan itu dilakukan terus menerus. Setiap hari Rabu saya harus ke hutan untuk mencari kayu bakar, selain untuk asrama sebagiannya dijual untuk dapat uang dan setiap hari Sabtu pulang kampung untuk bantu orang tua kerja di kebun. Karena perjuangan keluargaku demikian luar biasa, maka hari Rabu, kalau tidak ke hutan maka saya pergi tanam padi disawah dan mendapat upah dari pemberi kerja seadanya, uangnya saya serahkan kepada kelaurga dimana saya bertempat tinggal.  Saking susahnya kehidupan ekonomi kelurga kami, maka suatu ketika saya pulang kampung dan berdiskusi dengan keluarga, apakah mereka setuju kalau saya mau buat usaha jualan di asrama sekolah, mereka setuju asal tidak mengganggu belajarku. Saat itu sudah kelas III SMP, sekolah mewajibkan para murid untuk harus tinggal di asrama. Jadilah saya  menjual  diasrsama dengan sistem barter. Barang apa yang dijual? Tepung dari ubi kayu dicampur gula sehingga jika dimakan rasanya enak bahasa lokalnya rebok koil (tepuk gaplek). Setiap hari Sabtu saya pulang kampung dan pulang minggu sore  kembali ke asrama dengan membawa kurang lebih 10 kg material dengan nama rebok istilah lokalnya. Setiap hari teman-temanku minta ditukarkan dengan beras, maklum perut lapar,nasi belum masak, pulang sekolah baru masak nasi, situasi itulah yang saya manfaatkan untuk menjual daganganku. Satu gelas rebok ditukar dengan satu gelas beras. Jadi kalau saya pulang kampung maka pasti saya bawa pulang 10 kg beras. Kegiatan ini dilakukan hingga akhir kelas III. Akhir tahun 1979, kami tamat dari SMP Surya cancar. Pasca tamat sekolah Menengah pertama,cita-citaku  untuk menjadi guru, tetap berkobar dalam benakku. Beberapa temanku tidak lulus SMP, sedangkan ,saya lulus, puji Tuhan. Begitu lulus, saya mau sekali untuk masuk sekolah guru di ibu kota kabupaten. Tapi untuk masuk disana harus lulus tes, dan mahal juga bayarannya. Kami diskusi lagi dengan keluarga, dan mereka semua sangat mendukung.


CITA-CITA KU MULAI MENDAPAT TANTANGAN

Tiba juga waktunya untuk mengikuti tes masuk di salah satu sekolah guru terkemuka di ibu kota. Sayapun ikut didalamnya, penerimaan di sekolah ini sangat terbatas sesuai jatah yang ditentukan oleh pemerintah. Setelah selesai tes, saya membayangkan bagaimana senangnya menjadi seorang guru nanti, setelah 3 tahun sekolah. Sayang nya ketika diumumkan namaku tidak ada, alias tak lulus. Letih, lesu, bercampur aduk dalam rasa hatiku. Saya kemudian diskusi dengan omku yang menjadi guru, beliau menyarankan tak usah putus asa, masuk di SMA saja, di perguruan tinggi bisa masuk sekolah guru lagi. Tapi ku katakan sama om ku, bagaimana bisa masuk PT.SMP saja sudah susah untuk membiayainya, pada hal kalau masuk SPG, 3 tahun selesai sudah bisa mengajar di SD. Tapi demikianlah hasil perbincangan itu tak menghsilkan keputusan apa-apa. Saya pulang kampung berdiskusi dengan keluargaku, apakah saya lanjutkan studi atau tidak. Semua mereka memberi dukungan agar harus melanjutkan studi. Kali ini saya sudah menerima dengan lapang dada ketidak lulusanku tes SPG.  Akhirnya kami putuskan bahwa ikut tes di salah SMA terbaik di ibu kota kabupaten. Ibu menceritakan bahwa di sekolah itu ada kelurga dekat yang menjadi guru, saya mencoba untuk mencari tahu di sekolah itu siang harinya apakah ada nama guru seperti yang diceritakan ibu. Ternyata benar ada. Saya ketemu beliau, dan beliau siap bantu. Besok harinya ikut tes bersama ratusan peminat disekolah ini. Saya pun ikut tes bersama dengan teman-teman dari sekolah lain maupun dari sesama rekan alumni SMP yang sama. Semnggu kemudian ada beritanya, dan saya dinyatakan lulus. Jadilah saya menjadi salah seorang siswa dari sekolah ini, saat itu namanya SMA Swata Swadaya Ruteng. Tantangan finansial tetap menjadi momok yang mengerikan bagiku, sedangkan dari sisi kemampuan akademik bisa  bersaing dengan teman-teman lain. Untungnya saya sudah terbiasa di SMP untuk nyambi cari penghasilan, tapi dalam cara yang berbeda.Untuk menutup biaya uang sekolah dan biaya hidup, sehari-hari setiap hari Rabu harus ke hutan untuk mencari kayu bakar untuk di jual kadang-kadang ke guruku, kadang juga ke keluarga lain yang bersimpati. Selain usaha jual kayu, juga membantu membawa padi ke penggilingan padi dari beberapa keluarga yang bersimpati, dan sebagai ongkos sewanya dikasih beras sesuai kasihannya. Ketika kelas III SMA, kesempatan untuk masuk hutan cari kayu bakar sudah tak mungkin lagi, karena keharusan dari sekolah bahwa semua kelas III harus diasramakan dan wajib sore hari belajar di sekolah. Rupanya Tuhan tak tutup jalan, om ku memberi informasi bahwa salah seorang dokter butuh anak sekolah untuk membersihkan lingkungan sekitar rumah dinasnya dan diaksih uang lelah. Sekali lagi saya bersama seorang temanku menghadap ibu dari sang dokter, dan dengan tangan terbuka beliau menerima kami, dengan berbagai syarat-syarat yang harus dipenuhi. Jadilah setiap hari rabu kami membersihkan rumah sang dokter, dan setiap pulang kerja dari rumahnya, kami selalu diberikan makanan dan minuman. Setiap akhir bulan kami dikasih uang lelah, sekedar membantu kami kata beliau tapi buat saya inilah kehadiran Tuhan untuk menolongku. Saat yang sama ayahku dan kakak-kakak ku tetap berjibaku mendapatkan dana untuk penyelesaian studiku di sekolah lanjutan atas dengan pola yang sama saat saya masih di bangku SMP.
Tahun 1983, tepatnya bulan April, kami mengadapi ujian akhir Nasional saat itu dinamakan EBTANAS. Hasil ujian tersebut saya dinyatakan LULUS. Rasa bangga, haru, bercampur aduk dalam hatiku karena babak perjuanganku di SMA sudah selesai. Saya pulang kampung menjumpai keluargaku yang harap-harap cemas, apakah saya lulus atau tidak, maklum di Flores saat itu banyak sekali siswa-siswi yang tidak lulus ujian akhir, termasuk ada 21 teman seangkatanku tidak lulus dan terpaksa mengulang untuk tahun berikutnya dengan tidak ada jaminan untuk lulus pula. Ada temanku yang frustasi ada juga terima kenyataan dengan mengulang disana. Ada juga yang pilih mengulang di luar kota Ruteng dengan merantau ke Ujung Pandang. Ketika saya tiba di rumah, ayahku dan kakak ku belum pulang dari kebun. Sore malam hari mereka baru pulang, mereka melihat saya ceria sekali, sutu tanda berita baik. Begitu ayahku datang, beliau merangkulku dan menangis yang juga diikuti oleh seluruh anggota keluarga, menangis karena hasil perjuangan mereka sudah berhasil selesai untuk SMA.

                                                    Sang inpirator dan pahlawan keluarga kami
 

Malam hari berdiskusi lebih lanjut, bagaimana rencana selanjutnya, ayahku berkata, nak rasanya Bapa sudah tidak mampu lagi membiayai sekolahmu, jadi biar tamat SMA saja. Saya hanya pasrah, tapi kakak ku mengusulkan kita buat pesta sekolah, kalau ada hasilnya, dipakai untuk biaya merantau ke Ujung Pandang. Usul itu diterima oleh Bapa dan dibicarakan dalam keluarga besar di kampung. Mereka semua mendukung, jadilah saya pesta, tgl 7 Agustus 1983. Sayang, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Tap dari uang itu keluarga menyimpannya untuk bekal merantau. Pasca pelaksanaan pesta saya mencari informasi, dimana sebaiknya saya merantau. Akhir Juli hingga september 1983, arus informasi demikian banyak didapatkan, tapi belum saya putuskan hendak kemana saya pergi. Awal Agustus 1983, seorang saudariku anak dari om ku datang libur dari Ujung Pandang, beliau sekolah perawat di SPK Stelamaris, dan sudah tamat serta kerja di RS Stelamaris. Beliau mendengar rencana kami untuk merantau, om ku dan beliau datang ke kampung untuk kunjungi kakek dan nenek kami, sekalian berdikusi secara matang tentang saya merantau kemana. Setelah berdiskusi panjang lebar, keluarga sepakat untuk merantau ke Ujung Pandang, dan datang bersama dengan beberapa teman yang kuliah di Atmajaya nama bapa Aloysius Weot sebagai penunjuk jalan. Tgl 23 Oktober tahun 1983, tiba di Ujung Pandang. Saya sementara tinggal di keluarga om ku bapak alamarhum Yan Jemani, selama satu minggu. Setelah satu minggu di rumahnya bapa Yan, ada beberrapa keluarga mengajak untuk tinggal kost bersama dengan mereka, dengan harapan bisa kerja bangunan. Akhirnya saya setujui dan minta izin pada Bapa Yan, untuk tinggal bersama teman-teman.





Ujung Pandang, 23 Oktober 1983.

Untuk menyambung hidup di Ujung Pandang, pekerjaanku serawutan mulai dari kuli bangunan, kerja di tempat photo copy, percetakan, jual minyak gosok dari lorong-ke lorong di kota Ujung Pandang. Saya lakukan dengan ikhlas hati, sambil mencari informasi untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Rupanya pekerjaan ini menempaku untuk tahan banting, apapun yang dihadapi lanjutkan saja. Tetapi ada satu aktivitas yang tak pernah dilupakan adalah pendarasan doa kepada bunda Maria, agar diberi pertolongan olehnya melalui doanya, setiap hari, setiap malam itu selalu saya lakukan sambil meneteskan air mata. Pekerjaan yang tak menentu ini hingga akhir April 1984. Untuk memotivasi diriku selalu ingat pesan ayahku “ merantau artinya menderita” dan kalau kau bisa sekolah, filsofinya adalah “sekolah karena miskin”. Ketika menjumpai tantangan yang maha hebat, pesan ini yang selalu membesarkan hatiku, lalu bangkit lagi. Ayahku memang orang terhebat pendiam tapi pekerja keras dan pintar.

Tuhan datang menyapaku.

Minggu ke 2 bulan Maret 1984, sebagaiman biasa, saya berangkat dari tempat kost menuju lorong-lorong kota Ujung Pandang, yang saat itu saya tak tahu namanya apa, pokoknya jalan saja. Siang hari jam 11.15 wita, saya masuk dalam sebuah rumah, untuk menjajakan barang julan saya minyak gosok cap Rajawali. Beliau dengan ramah menerima saya dan bertanya nama, dari mana, dan untuk apa datang ke Ujung Pandang. Beliau mengajak saya untuk makan bersama, dan saya ia kan saja. Saat itulah beliau juga memperkenalkan diri, dan aktivitasnya. Setelah selesai makan, beliau mengajakku untuk doa anggelus jam 12 siang. Saya senang bukan kepalang, setelah berdoa anggelus beliau melanjutkannya dengan memberi renungan pribadi yang bersumber dari bacaan Injil Lukas Bab 12. ayat 24; beliau menguatkan saya bahwa Tuhan sudah menyiapkan sebuah pekerjaan untukmu, tapi harus percaya 100%. Untuk meyakinkanku, beliau menyuruhku untuk berdoa 7 kali  Bapa Kami dan Salam Maria, di Gerja Sto Yakobus Mariso, sore hari Minggu. Saat doa itu, saya berjanji untuk melaksanakannya dengan sungguh. Mulai hari minggu pasca perjumpaan itu saya melakukannya setiap hari Minggu. Minggu ke tujuh saya berdoa, hari Senin nya ada informasi dari teman bahwa ada perusahaan tenunan kain Sutera membutuhkan tenaga untuk memasak benang sutera. Sayangnya yang dibutuhkan satu orang saja, sementara kami ada dua orang. Keputusannya teman ku yang menghadap.sang bos. Setelah dia menghadap bos, dijanjikan seminggu kemudian hari senin menghadap lagi. Hari sabtu sebelum temanku menghadap bos, datang ke saya, memberitahukan bahwa dia tidak jadi menghadap bos hari Senin, karena besok hari Minggunya mu balik ke Manggarai lewat kapal kecil. Saya katakan ok lah nanti saya yang menghadap. Tiba saat nya hari Senin tgl 1 Mei 1984, kira-kira jam 08.00  wita, saya disuruh masuk ke kantor menghadap ibu, Ibu Ester namanya. Beliau bertanya mau kerja, saya katakan ia bu, tapi gajinya kecil dan kerjanya jam 05.00 wita, sudah harus di kantor masak benang sutera. Gajinya Rp 250 per minggu. Saya katakan ok bu, saya setuju. Setelah itu beliau menyuruh saya untuk langsung bekerja dan belajar sama teman-teman dari Flores yang duluan masuk kerja dari saya.
Setahun kemudian saya kerja sini, ibu melihat bahwa saya ada potensi yang tersembunyi dalam diri saya untuk dikembangkan, karena itu beliau panggil,” Nis, kalau kau mau kerja disini terus saya tidak setuju, kau harus sekolah”, jawabku, tapi bu, saya tak punya uang, orang tua ku tak mampu membiayai saya kuliah jawabku.  Beliau katakan uang yang kau dapat ini jangan makan semua, ditabung untuk bayar uang kuliah. Begitu mulianya bos ini, akhirnya saya setuju, bu terima kasih atas niat baiknya, tapi bagiamana kalau saya kuliah, kerja disini bagaimana? Beliau katakan, begini, kami kasih kompensasi sama kau, kalau ada kuliah sore jam 14.00, boleh pulang duluan, tapi kalau malam hari, tetap pulang jama 17.00. Saya setuju. Saya cari informasi dan saya dapat kampusnya.

CITA-CITAKU MULAI BERSEMI KEMBALI.


Akhir Juli 1985, saya mendaftarkan diri di salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar. Fakultasnya adalah Pendidikan. Maka daftarlah saya di Universitas Muhammadiyah Makassar, FKIP, jurusan Kurikulum dan Teknologi  Pendidikan. Saya melaporkan kepada bos saya, bahwa saya sudah daftar kuliah, diterima dan mulai kulianya akhri Agustus 1985. Kuliahlah saya disana mulai Agustus 1985. Gangguan datang lagi, pada bulan Oktober ada informasi dari temanku bahwa ada prpgram bea siswa di Unhas untuk profesi guru, tapi harus tes.


Saya coba memberanikan diri untuk tes, dan ternyata saya lulus. Kuliah selama kurang lebih tiga bulan jurusan Biologi, sambil juga malam hari tetap kuliah  di PTS swasta. Januari 1986, pimpinakuyang laki-laki  datang dari Jakarta. Beliau tahu bahwa saya kuliah di UNHAS, beliau memanggil saya, dan mengatakan bahwa kamu harus angkat kaki dari sini. Pilih kuliah atau kerja, atau kuliah sambil kerja tetap di swasta karena malam hari. Kami bernego, hasil negonya adalah selama seminggu saya diberi kesempatan untuk berpikir dan memutuskan. Hari sabtu, saya menghadap beliau dan berdiskusi tentang masalah kuliah saya. Beliau memberi masukkan bahwa selain kau dapat gaji bulanan, kau juga dapat Rp 250 perbulan untuk uang kuliah tetapi tetap di swasta dan tinggalkan UNHAS. Akhirnya diputuskan saya mengundurkan diri dari UNHAS, dan tetap kuliah di UNISMUH Makassar. Tahun 1989, tepatanya bulan Oktober, saya menyelesaikan studi S1 ku di UNISMUH, dan mengundurkan diri dari pekerjaan di Sutera Alam Sulawesi, dengan alasan mau menjadi guru. Pimpinanku menerima dengan baik, dan berpesan agar relasi dengan beliau tidak boleh putus, dan saya mengatakan terima kasih pak dan ibu.

CHARA MEMBUKA TANGAN MERANGKULKU MEWUJUDKAN CITA-CITAKU


Bersma seorang sahabatku, kami bekerja mencetak sablon sendiri sertifikat-sertifikat untuk apa saja. Saya yang menjadi marketingnya dan beliau bertugas untuk mencetaknya. Ketika itu SMA Katolik  Rajawali mau melaksanakan penataran P4 untuk siswa/i barunya. Saya bertemu dengan suster kepala sekolahnya, yaitu suster Bernadette Mokorimban. JMJ. Belau mengatakan, seminggu lagi Bapak datang, banyak yang kami harus cetak. Seminggu kemudian saya datang ketemu beliau, dari bincang-bincang itu beliau bertanya, kamu kuliah dimana? Saya menjawab suster saya sudah selesai kuliah bulan oktober kemarin 1989 Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Oh.. kami butuh jurusan anda, karena dari dinas mewajibkan setiap sekolah harus ada jurusan itu. Kalau begitu kau buat lamaran, tanggal 23 Juni 1990 kau bawa ke Sekolah. Tanggal yang dijanjikan saya bawa lamaranku, dan beliau meminta agar tgl 24 Juli 1990 kau datang ikut rapat guru, dan sambil menunggu itu kau jalan-jalan ke sekolah, saya mengiakan semua yang disampaikan beliau. Ketika rapat guru, saya diperkenalkan oleh beliau kepada kawan-kawan guru.

TEMPAT BARU, TANTANGAN BARU. 

 Pasca saya diterima di Chara, masalah muncul, saya ditempatkan dibagian kurikulum yang secara teori saya dapat ilmunya, tapi prakteknya, aduh jauh antara langit dan bumi. Suster mengajarkan kepada saya bagaimana cara membuat jadwal/roster. Beliau memberi tugas kepada saya untuk mengajar pelajaran Sejarah dan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), dunia dimana di perguruan tinggi saya belum pernah sentuh sedikitpun. Tap saya terima, dan belajar dengan segala daya, dan akhirnya bisa juga mengajar. Untuk memastikan apakah saya sudah bisa mengajar, suster selalu mensupervisi  saya di kelas, dan sesudahnya berdiskusi dengan beliau apa kekurangan dari apa yang diajarkan. Suster selalau membesarkan hati saya ketika saya mendapat tantangan dari para murid dan teman-teman juga memberi suport, bahwa pasti kamu mengjar dengan baik, kuncinya kuasai materi yang kamu ajarkan.  Proses itu terus berjalan  dan tantangan juga terus berjalan. Ada pada momen tertentu mendapat tantangan dari murid yang ingin coba gurunya. Dia menantangku untuk adu fisik… saya jawab dia, nak saya disini bukan untuk itu, saya hanya mau berbagi apa yang ada paduku untuk kalian, tapi kalau terpaksa boleh juga tapi bukan disini tempatnya. Kalu gitu… begini… jangan disini yah… sebentar malam kita ketemu di Karebosi, Ananda bawa siapa saja…. Kita ketemu jam 10 malam. Tiba hari h dan j nya saya menunggu dikarebosi hingga jam 12 malam. Sambil menunggu para bencong dating menggoda saya….. saya katakan menjauh… kalau tidak parang ini melayang di lehermu, eee mereka lari pontang panting. Ketika lewat jam 12 malam, mereka tidak dating, akhirnya saya pulang. Keesokkan hari nya saya datangi kelas nya dan menghampiri dia, dan bertanya mengapa tidak dating tadi malam di Karebosi? Dia tunduk dan tidak menjawab. Pasca peristiwa itu, resistensi dari para siswa-i sudah sangat berkurang bahkan tidak ada sama sekali.


Tahun 1995, sejalan dengan kebijakan pemerintah dimana mata pelajaran sosiologi dan antropologi harus diajarkan kepada seluruh siswa SMA mulai kelas II jurusan IPS, maka saya ditugaskan untuk mengampuh mata pelajaran tersebut mendapingi kawanku yang jam mengajarnya terlalu banyak. Saat itu memang peminat jurusan IPS, hingga 5 kelas. Pelajaran ini, saya ampuh dengan agak santai karena di Perguruan Tinggi  dua semester diajarkan yaitu sosiologi umum dan sosiologi Pendidikan. Sebagaimana biasa, selalu belajar keras lagi, membaca buku-buku yang terkait dengan mata pelajaran yang saya ampuh. Pada akhirya justeru mata pelajaran ini sangat saya senangi, mengajarnya kepada murid-muridku. Kerap saya bertanya kepada beberapa dari mereka bagaiamana mengajarku hari ini, apakah lebih baik? ya.... lumayan pak, tapi mana catatannya pak, masa Bapak menjelaskan terus, kami belajar nya dari mana? Dari pengalaman itulah, kamai buat tradisi, agar murid kami harus punya buku catatan yang tebal, untuk menulis materi ajar yang diajarkan kepada siswa/i.

 PERUBAHAN PARADIGMA

 

Tahun 2000, LCD sudah mulai diperkenalkan di sekolah, setiap kali kami ikut pelatihan para nara sumber selalu menggunakan alat canggih ini. Sebagaiaman kebiasaanku, selalu ingin tahu, bagaiaman cara mengoperasikannya. Macam-macam juga jawabannya, harus kuasai power point, punya komputer sendiri, punya LCD di sekolah. Saya belajar power point, semua catatan dari buku tebal saya pindahkan ke powe point, dan hasilnya sangat baik. Murid-muridku juga termotivasi kalau ngajar menggunakan power poin. Karena sambutan murid-murid sangat baik dengan penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran, maka tak terkecuali para guru memacu diri untuk belajar komputer khsusnya power poin yang difasilitasi pimpinan sekolah. Sejak tahun 2005, kami di mata pelajaran Sosiologi benar-benar tradisi mencatat di buka tebal ditinggalkan total menjadi sistem pembelajaran menggunakan power poin. Apa lagi setelah seorang mantan murid kami menjadi guru bersama kami dan sangat lihai komputer, kami banyak belajar dari dia, khususnya saya.




Pendampingku yang sabar dan tahan uji.


CHARA SEMAKIN PESAT PERKEMBANGANNYA.

Seiring program pemerintah dimana diadakan lomba bidang studi tingkat nasional seperti olimpiade Sains Nasonal, maka SMA Katolik Rajawali terlibat didalamnya. Tahun 2005, SMA K Rajawali mengirim utusan untuk lomba  bidang studi di tingkat Nasional, saat itu Chara hanya mendapat sebuah medali Perunggu untuk bidang studi Ekonomi, diraih oleh siswi bernama Novi dari XII IPS-2. Tahun 2006, terjadi pergantian pucuk pimpinan di Chara, pimpinan lama diganti oleh pimpinan baru, saya sendiri belum kenal, tapi informasi yang saya himpun dari teman-teman, beliau energik, kepala sekolah SMP Pelita Bangsa Tana Toraja. Tiba saatnya beliau datang ke sekolah, dan meperkenalkan diri bahawa nama beliau adalah Sr.Leonie Taroreh, JMJ. Awal kehadirannya selalu memberi semangat kepada kami para guru, bahwa milikilah sekolah ini, karena dengan rasa memiliki akan mucul rasa tanggung jawab, dan dengan adanya rasa tanggung jawab disiplin akan terpelihara terus menerus. Dan ciri khas Chara adalah sekolah yang disiplin, terus kan itu dipertahankan, kata suster mantap.


Dalam rangka membangkitkan rasa kebersamaan pimpinan selalu melakukan pendekatan informal kepda guru bahkan kepada Yayasan juga. Untuk mendukung terwujudkanya Chara go internasional maka diciptkan kelas unggulan IPA dan IPS, unggulan Inggris dengan kurikulum Cambrige. Hasilnya luar biasa, Chara sederajad dengan sekolah lain secara nasional. Sudah sekian banyak medali emas, perak, perunggu, dari even olimpiade Sain Nasional. Satu cita-citanya yang belum terwujud adalah medali untuk olimpiade Penelitian Siswa Indonesia. (OPSI). Untuk mewujudkan cita-cita ini, tahun 2015, dibentuk gugus guru untuk melatih siswa/i Chara yang memiliki potensi untuk itu. Karena pada pelajaran sosiologi ada materi ajar khusus tentang penelitian, maka saya menerima tugas itu dengan senang hati.  Hasil dari bimbingan kami untuk karya ilmiah lumayan bagus. Sebelum kami bertanding ke level kota, Propinsi dan nasional, maka dialakukan lomba KTI (karya tulis ilmiah tingkat sekolah. Dan semua kelas wajib mengutus 1 kelompok untuk ikut. Kepala sekolah menyambut baik usul tersebut dan menyiapkan hadiah, uara I dapat piala dan uang sejumalh Rp 1,500,000, Juara II sejumalah Rp 1.250.000, Juara III sejumlah 1.000.000, Juara harapan I sejumlah Rp 750.000, Jaura harapan II sejumlah Rp 500.000, dan Juara harapan III sejumlah Rp 250.000,- Dan yang menjadi juri adalah dosen dari Universitas Hasanuddin Makassar. Ini lah awal kisah dari Karya Tulis Ilmiah berkembang di SMA Katolik Rajawali, dimana pendampingnya adalah kami sendiri. Hasilnya piala juara 1,2 dan 3 bahkan olimpiade Sosiologi yang dilaksanakan oleh universitas Negeri Makassar, SMA Rajawali mendapt medali emas. Perlombaan tangkat kota Makassar, Propinsi Sulawesi selatan, Chara selalu mendapt juara. Perkembangan Chara kini, memang semakin pesat, data peminat untuk belajar di Chara untuk lima tahun terakhir meningkat secara signifikan, bahkan tahun 2015, sejumlah 849 murid mendaftar, sedangkan yang diterima hanya 472 orang.
Perekmbangan ini tidak terlepas dari strategi pimpinan Chara berkolaborasi dengan Yayasan, dimana setiap guru diizinkan melanjutkan studi magister, para guru yang mengampuh mata pelajaran OSN diberi tugas khusus untuk mendampingi anak-anak secara khusus. Untuk mewujudkan ini, hari Jumaat dipilih sebagai hari bimbingan OSN. Hasilnya ..... luar biasa, medali emas, perak,perunggu di raih Chara.



KETERBUKAAN CHARA (YAYASAN) MEWUJUDKAN CITA-CITAKU..

Andaikan Chara(yayasan) tidak membuka tangannya untuk merangkulku? Mau jadi apa yah, saya ini? Tapi itulah rancangan Ilahi yang tak terselami. Ia bekerja melalui orang lain (kepala sekolah), Yayasan untuk menjaring manusia-manusia yang sudah diseting sejak awal untuk masuk di Chara ini. 25 tahun sudah, saya bersmamu Chara, intelktualitasku berhasil dioptimalkan olehmu, melalui pimpinan ku. Tapi dasar aku yang lemah, tak berdaya, belum memberi baktiku yang luar biasa untuk Mu. Tapi izinkan ku memohon maaf kepada mu (yayasan, pimpinan sekolah, rekan-rekanku) karena aku belum meberi yang terbaik, tapi sebaliknya mungkin yang menyusahkan. Terima kasihku kepada pimpinan ku Suster Leonie SJMJ, yang kerap mengeritkan dahinya ketika saya berulah, dan tertawa lepas ketika ada canda yang tak bermakna dariku. Untukmu suster saya haturkan terima kasih, karena kepasitasku secara akademik berhasil ditingkatkan, Tuhan pasti membalasNya. Dan untuk Yayasanku, para suster, secara khusus suster Bernadette Mokorimban, JMJ, suster yang mulia Chantia Toar, JMJ yang ada dialam sana, terima kasih tak terhingga kepada para suster semua. Aku akan pensiun dari sini, tetapi hatiku tetap tinggal disini, sampai kapanpun. Mungkin sukaku adalah dukanya yayasan (sekolah), karena sering merepotkan yayasan, sekolah. Dan sukanya yayasan (sekolah, kepala sekolah) ketika aku sudah pergi dari hadapan kalian semua. Tapi apapun itu kita alami, itulah bingkai kenangan yang kerap dikenang oleh kita semua, khususnya saya dan keluargaku, secara istimewa anak-anakku.



                                                          Generasi pelanjut kami

 

Rekreasi bersama keluarga besa Wily Makassar

Makassar, 21 September 2015, jam 08.00 - 13.45.

Revisi: 19 Nop 021, jam 11,00 wita