Rabu, 23 September 2015

HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN,MENGENANG SAUDARIKU BERGITA YG TELAH TIADA

Ketika seseorang dihadirkan oleh Tuhan kedunia melalui kedua orang tua, rasa syukur, tahjud, bangga dirasakan oleh setiap keluarga. Di balut oleh rasa gembira yang luar biasa, merasuk sanubari dari kedua orang tua yang menantikan kehadirannya, seperti apa rupa dari rahasia Ilahi yang akan hadir di tengah-tengah keluarga. Kerinduan itu dipendam kuarang lebih  270 hari, dan pada akhirnya hari yang ditunggu juga tiba, itulah peristiwa kelahiran kita namakan. Kelahiran tersebut memberi warna ceria kepada kelaurga besar, maka selanjutnya dibuatkan prosesi syukuran baik lewat budaya yang dianut masing-masing maupun ritual agama yang dianut oleh kedua orang tua sang pewarna hidup. Selanjutnya dibuatkan ritual budaya pemberian nama dengan segala macam syarat itu ini yang harus dipenuhi dalam rangka keselamatan sang pewarna hidup(bayi). Tujuannya adalah agar perjalanan hidupnya nanti terjaga dengan baik oleh para leluhur, akan demikian juga dalam ritual keagamaan, upacara permberian nama sepertia permandian dalam tradisi Katolik, hakekah dalam tradisi Islam, emua dialakukan agar perjalan hidupnya mendapat perlindungan dari Yang Maha Esa. Itulah sebabnya knapa kita sangat gembira ketika seorang dilahirkan, yaitu kerinduan kita melihat sosok yang akan hadir ditengah kita, seperti apa tampanya.

Ketika sudah dewasa, bergaul dengan sesama, dan untuk menjamin pergaulan itu berlangsung dengan baik, maka norma masyarakat diperkenalkan melalui keluarga, sehingga keteraturan dalam pergaulan terjaga dengan baik. Norma agama memperkuat norma masyarakat sehingga relasi antara sesama manusia ddipastikan dapat berlangsung dengan baik. Ketika seseorang berhasil menajalankan perannya sesaui dengan kehendak masyarakat maka akan mendapat penghargaan dari masyarakat dengan predikat orang baik, dihargai, dihormati. Dalam agama diberi penghargaan sebagai orang saleh, taat beragama, dannya  penghargaanpun  diberikan oleh masyarakat dengan predikat masuk surga kalau nanti sudah berakhir hidupnya didunia ini.  Kebaikan-kebaikan yang ditebarkan oleh sesorang kepada sesama akan membekas dalam hati setiap orang yang berjumpa dengan siapapun. Rupanya, karena kebaikan-kebaikan yang ditebarkan demikian luarbiasa tertanam dalam hati sanubari kelaurga, sehingga ketiak seseorang beralih dari dunia ini, kelaurga yang masih hidup meraung-raung menangis, karena tampan yang sudah hadir melalui peristiwa kelahiran, kini hilang lenyap tanpa pernah akan terlihat lagi. Itulah sebabnya knapa kita menangis ketika seseorang  beralih dari dunia ini ke alam baka.

Inspirasi renungan dari seorang uztazt dalam buka puasa tahun 2013, pada buka puasa bersama dengan pengurus OSIS SMAK Rajawali, di rumahnya sdr Rifdah. Beliau bertanya, mengapa orang menangis ketika ada anggota kelaurganya meninggal? Dan apa saja yang dibawa oleh seseorang kehadapan TYE ketika meninggal?. Pertama yang dibawa adalah amal baiknya didunia ini, kedua adalah seluruh anggota kelurganya dan yang ketiga adalah seluruh harta benda yang dimilikinya selama berada didunia. Lalu mana yang diterima oleh TUHAN? Ternyata yang diterima oleh Tuhan adalah amal perbuatan baik,sedangkan keluarga dan harta bendanya dikembalikan oleh Tuhan. Itulah perjalan hidup kita.
Maka benarlah bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan. Tulisan ini, sebagai ungkapan kemashulan hatiku, atas kepergian saudariku yang tercinta Bergita Evi Jem,jam 04.00 wita di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Selamat saudariku, beristirahatlah dalam damai, dan doa kan kami semua yang masih mengembara didunia ini.


Tidak ada komentar: