Rabu, 23 September 2015
HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN,MENGENANG SAUDARIKU BERGITA YG TELAH TIADA
Ketika sudah dewasa, bergaul dengan sesama, dan untuk menjamin pergaulan itu berlangsung dengan baik, maka norma masyarakat diperkenalkan melalui keluarga, sehingga keteraturan dalam pergaulan terjaga dengan baik. Norma agama memperkuat norma masyarakat sehingga relasi antara sesama manusia ddipastikan dapat berlangsung dengan baik. Ketika seseorang berhasil menajalankan perannya sesaui dengan kehendak masyarakat maka akan mendapat penghargaan dari masyarakat dengan predikat orang baik, dihargai, dihormati. Dalam agama diberi penghargaan sebagai orang saleh, taat beragama, dannya penghargaanpun diberikan oleh masyarakat dengan predikat masuk surga kalau nanti sudah berakhir hidupnya didunia ini. Kebaikan-kebaikan yang ditebarkan oleh sesorang kepada sesama akan membekas dalam hati setiap orang yang berjumpa dengan siapapun. Rupanya, karena kebaikan-kebaikan yang ditebarkan demikian luarbiasa tertanam dalam hati sanubari kelaurga, sehingga ketiak seseorang beralih dari dunia ini, kelaurga yang masih hidup meraung-raung menangis, karena tampan yang sudah hadir melalui peristiwa kelahiran, kini hilang lenyap tanpa pernah akan terlihat lagi. Itulah sebabnya knapa kita menangis ketika seseorang beralih dari dunia ini ke alam baka.
Inspirasi renungan dari seorang uztazt dalam buka puasa tahun 2013, pada buka puasa bersama dengan pengurus OSIS SMAK Rajawali, di rumahnya sdr Rifdah. Beliau bertanya, mengapa orang menangis ketika ada anggota kelaurganya meninggal? Dan apa saja yang dibawa oleh seseorang kehadapan TYE ketika meninggal?. Pertama yang dibawa adalah amal baiknya didunia ini, kedua adalah seluruh anggota kelurganya dan yang ketiga adalah seluruh harta benda yang dimilikinya selama berada didunia. Lalu mana yang diterima oleh TUHAN? Ternyata yang diterima oleh Tuhan adalah amal perbuatan baik,sedangkan keluarga dan harta bendanya dikembalikan oleh Tuhan. Itulah perjalan hidup kita.
Maka benarlah bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan. Tulisan ini, sebagai ungkapan kemashulan hatiku, atas kepergian saudariku yang tercinta Bergita Evi Jem,jam 04.00 wita di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Selamat saudariku, beristirahatlah dalam damai, dan doa kan kami semua yang masih mengembara didunia ini.
Senin, 21 September 2015
MEMOAR GUNTUR
MEMOAR GUNTUR.
CITA-CITA KU SEJAK KECIL
.
Pasca lulus SD saya masuk disebuah sekolah
menengah pertama didekat dengan kampung halaman, jarakanya kurang lebih 10 km,
melewati salah satu sungai besar wae Lega yaitu SMP KATOLIK SURYA CANCAR.
Saat menempuh pendidikan di sekolah lajutan pertama himpitan ekonomi terus
menerpa cita-citaku, maklum keluargaku digolongkan keluarga miskin,
membiayai hidup sehari-hari saja susah apalagi untuk biaya sekolah. Tapi ayah
dan kakak-kakak ku memberi semangat bahwa saya harus sekolah meski tiada biaya,
cukup mereka saja yang susah hidupnya kata-kata mereka. Untuk mebuktikan
dukungan tersebut ayahku bekerja sebagai tukang sadap tuak/moke selanjutnya
beliau menjual dari kampung-ke kampung. Hasilnya untuk membayar uang sekolahku.
Selain itu kakak-kakaku bekerja juga sebagai buruh tani dengan bayaran uang
seadanya. Untuk mendukung sekolahku keluarga dekat mengajak ku untuk tinggal
bersama mereka sambil sekolah. Ayahku bekerja tidak saja sebagai tukang sadap
pohon enau untuk dapat tuaknya tapi juga apa saja pekerjaan yang bisa
menghasilkan uang sejauh bahwa itu halal, seperti jual ikan kering, bekerja
sebagai penggergaji kayu dihutan bersama dengan keluarga lain, buat lesung
untuk tumbuk padi, bahkan kerja borongan kebunnya orang, yang penting
mendapatkan uang untuk biaya sekolahku. Saya sadar betul bahwa sekolah tidaklah
murah, dan untuk saya sekolah keluargaku mulai dari kakek nenek, ayah ibu
berserta kakak ku rela menahan lapar agar cita-citaku tercapai. Karena itu
dengan keterbatasan ekonomi saya belajar dengan amat giat, setiap sore hari
pergi belajar di sekolah mulai jam 15.30 - 17.00, dan malam hari menyelesaikan
seluruh tugas dari Bapa dan Ibu guru, kecuali hari Rabu untuk cari kayu
dihutan. Pagi hari jam 04.30 sudah bangun, membasuh muka dengan air dan mulai
belajar lagi dengan lampu kaleng kecil berisi minyak tanah, setiap hari
kebiasaan itu dilakukan terus menerus. Setiap hari Rabu saya harus ke hutan
untuk mencari kayu bakar, selain untuk asrama sebagiannya dijual untuk dapat
uang dan setiap hari Sabtu pulang kampung untuk bantu orang tua kerja di kebun.
Karena perjuangan keluargaku demikian luar biasa, maka hari Rabu, kalau tidak
ke hutan maka saya pergi tanam padi disawah dan mendapat upah dari pemberi
kerja seadanya, uangnya saya serahkan kepada kelaurga dimana saya bertempat
tinggal. Saking susahnya kehidupan ekonomi kelurga kami, maka suatu
ketika saya pulang kampung dan berdiskusi dengan keluarga, apakah mereka setuju
kalau saya mau buat usaha jualan di asrama sekolah, mereka setuju asal tidak
mengganggu belajarku. Saat itu sudah kelas III SMP, sekolah mewajibkan para
murid untuk harus tinggal di asrama. Jadilah saya menjual diasrsama
dengan sistem barter. Barang apa yang dijual? Tepung dari ubi kayu dicampur
gula sehingga jika dimakan rasanya enak bahasa lokalnya rebok koil (tepuk
gaplek). Setiap hari Sabtu saya pulang kampung dan pulang minggu sore
kembali ke asrama dengan membawa kurang lebih 10 kg material dengan nama
rebok istilah lokalnya. Setiap hari teman-temanku minta ditukarkan dengan
beras, maklum perut lapar,nasi belum masak, pulang sekolah baru masak nasi,
situasi itulah yang saya manfaatkan untuk menjual daganganku. Satu gelas rebok
ditukar dengan satu gelas beras. Jadi kalau saya pulang kampung maka pasti saya
bawa pulang 10 kg beras. Kegiatan ini dilakukan hingga akhir kelas III. Akhir
tahun 1979, kami tamat dari SMP Surya cancar. Pasca tamat sekolah Menengah
pertama,cita-citaku untuk menjadi guru, tetap berkobar dalam
benakku. Beberapa temanku tidak lulus SMP, sedangkan ,saya lulus, puji Tuhan.
Begitu lulus, saya mau sekali untuk masuk sekolah guru di ibu kota kabupaten.
Tapi untuk masuk disana harus lulus tes, dan mahal juga bayarannya. Kami
diskusi lagi dengan keluarga, dan mereka semua sangat mendukung.
CITA-CITA KU MULAI MENDAPAT TANTANGAN
Malam hari berdiskusi lebih lanjut, bagaimana
rencana selanjutnya, ayahku berkata, nak rasanya Bapa sudah tidak mampu lagi
membiayai sekolahmu, jadi biar tamat SMA saja. Saya hanya pasrah, tapi kakak ku
mengusulkan kita buat pesta sekolah, kalau ada hasilnya, dipakai untuk biaya
merantau ke Ujung Pandang. Usul itu diterima oleh Bapa dan dibicarakan dalam
keluarga besar di kampung. Mereka semua mendukung, jadilah saya pesta, tgl 7 Agustus
1983. Sayang, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Tap dari uang itu
keluarga menyimpannya untuk bekal merantau. Pasca pelaksanaan pesta saya
mencari informasi, dimana sebaiknya saya merantau. Akhir Juli hingga september
1983, arus informasi demikian banyak didapatkan, tapi belum saya putuskan
hendak kemana saya pergi. Awal Agustus 1983, seorang saudariku anak dari om ku
datang libur dari Ujung Pandang, beliau sekolah perawat di SPK Stelamaris, dan
sudah tamat serta kerja di RS Stelamaris. Beliau mendengar rencana kami untuk
merantau, om ku dan beliau datang ke kampung untuk kunjungi kakek dan nenek
kami, sekalian berdikusi secara matang tentang saya merantau kemana. Setelah
berdiskusi panjang lebar, keluarga sepakat untuk merantau ke Ujung Pandang, dan
datang bersama dengan beberapa teman yang kuliah di Atmajaya nama bapa Aloysius
Weot sebagai penunjuk jalan. Tgl 23 Oktober tahun 1983, tiba di Ujung Pandang.
Saya sementara tinggal di keluarga om ku bapak alamarhum Yan Jemani, selama
satu minggu. Setelah satu minggu di rumahnya bapa Yan, ada beberrapa keluarga
mengajak untuk tinggal kost bersama dengan mereka, dengan harapan bisa kerja
bangunan. Akhirnya saya setujui dan minta izin pada Bapa Yan, untuk tinggal
bersama teman-teman.
Ujung Pandang, 23 Oktober 1983.
Tuhan datang menyapaku.
CITA-CITAKU MULAI BERSEMI KEMBALI.
CHARA MEMBUKA TANGAN MERANGKULKU MEWUJUDKAN CITA-CITAKU
TEMPAT BARU, TANTANGAN BARU.
PERUBAHAN PARADIGMA
Tahun 2000, LCD sudah mulai diperkenalkan di
sekolah, setiap kali kami ikut pelatihan para nara sumber selalu menggunakan
alat canggih ini. Sebagaiaman kebiasaanku, selalu ingin tahu, bagaiaman cara
mengoperasikannya. Macam-macam juga jawabannya, harus kuasai power point, punya
komputer sendiri, punya LCD di sekolah. Saya belajar power point, semua catatan
dari buku tebal saya pindahkan ke powe point, dan hasilnya sangat baik.
Murid-muridku juga termotivasi kalau ngajar menggunakan power poin. Karena
sambutan murid-murid sangat baik dengan penggunaan teknologi dalam proses
pembelajaran, maka tak terkecuali para guru memacu diri untuk belajar komputer
khsusnya power poin yang difasilitasi pimpinan sekolah. Sejak tahun 2005, kami
di mata pelajaran Sosiologi benar-benar tradisi mencatat di buka tebal
ditinggalkan total menjadi sistem pembelajaran menggunakan power poin. Apa lagi
setelah seorang mantan murid kami menjadi guru bersama kami dan sangat lihai
komputer, kami banyak belajar dari dia, khususnya saya.
CHARA SEMAKIN PESAT PERKEMBANGANNYA.
Seiring program pemerintah dimana diadakan lomba
bidang studi tingkat nasional seperti olimpiade Sains Nasonal, maka SMA Katolik
Rajawali terlibat didalamnya. Tahun 2005, SMA K Rajawali mengirim utusan untuk
lomba bidang studi di tingkat Nasional, saat itu Chara hanya mendapat
sebuah medali Perunggu untuk bidang studi Ekonomi, diraih oleh siswi bernama
Novi dari XII IPS-2. Tahun 2006, terjadi pergantian pucuk pimpinan di Chara,
pimpinan lama diganti oleh pimpinan baru, saya sendiri belum kenal, tapi informasi
yang saya himpun dari teman-teman, beliau energik, kepala sekolah SMP Pelita
Bangsa Tana Toraja. Tiba saatnya beliau datang ke sekolah, dan meperkenalkan
diri bahawa nama beliau adalah Sr.Leonie Taroreh, JMJ. Awal kehadirannya selalu
memberi semangat kepada kami para guru, bahwa milikilah sekolah ini, karena
dengan rasa memiliki akan mucul rasa tanggung jawab, dan dengan adanya rasa
tanggung jawab disiplin akan terpelihara terus menerus. Dan ciri khas Chara
adalah sekolah yang disiplin, terus kan itu dipertahankan, kata suster mantap.
KETERBUKAAN CHARA (YAYASAN) MEWUJUDKAN CITA-CITAKU..
Makassar, 21 September 2015, jam 08.00 - 13.45.
Revisi: 19 Nop 021, jam 11,00 wita
Sabtu, 08 Agustus 2015
Tanggal 1 september 2013, pukul 14.35 menit, telponku bordering saat asiknya memberikan pelatihan kepada sekelompok masyrakat yang mau mendalami lika liku hidup ber CU, diam sejenak, ku perhatikan oh… ada nama suster Leoni. Dalam kondisi setengah bertanya, ada apa ini? Eh…. Ternyata minta tolong untuk berdiskusi dengan suster Sherly, terkait dengan rencana Tarekat JMJ propinsi Makassar untuk menerbitkan bulletin. Karena saat itu lagi sibuk, maka dicapai kesepakatan bahwa besok hari senin tanggal 2 September pak Guntur harus bertemu dengan Suster Sherly, mengakhiri pembicaraan sore itu. Keesokkan harinya, kurang lebih jam 09.30, saya menjumpai suster Sherly di SD Sto Joseph, sayangnya belum sempat bertemu. Saya mencoba mencari informasi pada rekan guru di SD Sto Joseph, ada yang mengatakan barusan ada tadi, tapi sekarang sudah tidak ada, beliau pergi ada acara di biara Sti Mariam. Penasaran, saya coaba cek no handphone beliau di hpku eh…. Ternyata tak a da. Tiba-tiba muncul seorang karyawati saya tak tahu namanya, lalu saya minta nomor beliau, tapi mereka tak mau kasih, rupanya teman ini langsung menelpon beliau, dan saya mendapat jawaban, oaduh….. pak Guntur ditunggu dari tadi untuk meliput acara peresmian lading karya baru Societas JMJ, yaitu panti penitipan anak di Asrama Sti Meriam. Saya terperangah juga, karena ternyata infonya tidak sejalan, tapi suster mengatakan sudah pak Guntur, saya punya perelngkapan cukup memadai untuk meliput aktivitas ini, jadi nanti saya yang menulis dan kamera juga suster punya. Saya hanya mengatakan ok suster terima kasih, dan diakhir pembicaraan itu, dibuat poiment bahwa besaok hari selasa tanggal 3 September 2013, suster akan ke SMA Katolik Rajawali untuk membicarakan lebih dalam tentang pokok soal yang kami maksudkan. Kesesokan harinya kurang lebih jam 10.15 tanggal 3 Sept, suster berada di SMA, jadilah kami bertemu. Suster berbicara panjang tentang rencana penerbitan perdana majalah yang akan dibuatoleh Societas JMP propinisi Makassar bagian apendidikan. Di tengah pembicaraan itu suster meminta kepada pak Guntur menulis berita dalam bentuk artikel, yang memuat tentang profil SMA Katolik Rajawali. Oaduh…… tugas berat nih… suster, soalnya banyak aktivitas lain sudah berkutat disekeliling pak Guntur. Tapi suster mengatakan anda bisa lah setengah memotivasi, saya menjawab ok suster, saya coba. Pasca pertemua tersebut kurang lebih satu minggu saya mencari inspirasi apa tema yang akan saya angkat di edisi pertama majalah ini. Saya coba berrefleksi dan muncul inpirasi oh….. mau ke mana SMA Katolik Rajawali ke depan????? Akhirnya ditemukan lah temanya ‘ QUO VADIS SMA KATOLIK RAJAWALI.
Tema ini diangkat, karena tantangan didepan mata kita saat ini, sangat luar biasa, kebijakan pendidikan gratis dari pemerintah, munculnya sekolah-sekolah internasional di Makassar, sekolah-sekolah local yang mencontek sepak terjang SMA Katolik Rajawali, belum lagi sekolah-sekolah unggulan lain yang sudah eksis di kota Makassar. Untuk menjawab ini ada tiga poin penting yang disoroti, pertama, sepak terjang SMA Katolik Rajawali dahulu. Kedua sepak terjang SMA Katolik Rajawali sekarang, dan apa yang persiapan strategis SMA Katolik Rajawali menghadapi laut biru persaingan didunia pendidikan di Makassar, sehingga minimal tetap eksis atau lebih progresig terbang tinggi lagi.
SMA Katolik Rajawali dahulu.
Jasmerah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah, itulah pesan Bung Karno setiap kali berpidato didepan generasi muda bangsa Indonesia, untuk membakar semangat warga bangsa, dan hasilnya memang luar biasa, hingga kini belum ada generasi bangsa ini yang bisa menyaingi gaya pidato Bung Karno. Demikian juga kita sebagai generasi yang masih bergelut dan menikmati buah perjuangan dari generasi pendahulu SMA Katolik Rajawali, untuk selanjutnya disingkat Kara.
Tahun 1954, atas desakan masyarakat agar para suster JMJ mendirikan sekolah SMA pada saat itu, maka didirikanlah SMA Katolik Rajawali dengan nama SMA Katolik Cabang Rajawali, nomenklatur Cabang Rajawali diberikan karena masih berafiliasi dengan sekolah induknya yaitu SMA Katolik, yang lebih dikenal sekarang SMA Katolik Cenderwasih atau disngkat KACA. Jumlah murid yang diterimapun hanya putri semua dengan jumlah 40 orang saja, jurusan yang dibuka saat itu hanya satu yaitu jurusan Humaniora atau jurusan Bahasa saat itu dikelnal kelas A. Pembukaan kelas putri dilakukan karena sekolah induknya kaca hanya menerima putra semua. Setahun kemudian tepatnya tahun 1955, mendapat desakan dari masyrakat agar sekolah cabang Rajawali menambah satu jurusan yaitu jurusan social atau kelas C. Dengan demikian SMA Katolik Cabang Rajawali sudah bertambah jumlah siswanya yang memilih kedua jurusan tersebut yaitu kelas A dan kelas C, meski keunikannya tetap semuanya putri. SMA Katolik Rajawali saat itu dinahkodai Sr Alphonse Van Der Linden,JMJ,suster Belanda yang sangat disiplin. Awal kepemimpin beliaulah benih disiplin bersemi di bumi Kara khususnya SMA Katolik Rajawali. Kedua jurusan ini pertama dibuka karena keterbatasan sarana dan prasarana pada masa itu, dimana kedua jurusan tersebut belum membutuhkan laboratorium. Sarana dan prasarana pada saat itu masih sangat jauh dari yang dikatakan memadai untuk sebuah lembaga pendidikan. Gedung sekolah, perpustakaan, ruang kelas, bangku meja, papan tulis semunya serba sederhana sesuai dengan situasi pada saat itu. Dengan segala keterbatasan yang ada, satu yang paling diingat oleh para alumninya pada saat itu adalah benih DISIPLIN yang ditanamkan oleh pimpinan sekolah pada saat itu. Hasil ketekunan dari para suster dan guru pada saat itu menghasilkan lulusan yang berkwalitas, mandiri ditengah masyarakat. Atas keberhasilan ini masyrarakat meberi apresiasi dengan mendorong suster-suster JMJ untuk menambah satu jurusan lagi yatu jurusan Ilmu Pasti atau Kelas B. Tahun 1967 barulah jurusan ilmu pasti dibuka, dengan demikian SMA Katolik Rajawali sudah lengkap menjadi sekolah SMA. Hal yang menarik di tahun ini adalah penerimaan siswa baru pria. Jumlah siswa kelas B pada saat itu berjumlah 50 orang. Sarana Laboratorium mulai dibangun dengan sangat sederhana, sebagai tempat praktek siswa/I kelas B. Suster Alphonnse Van Der Linden,JMJ, memipin SMA Katolik Rajawali selamat 17 tahun, beliau digantikan oleh suster Johana De Chantal Rawung JMJ. Suster Johana dikenal sebagai pemimpin yang memiliki visi yang jauh ke depan, satu hal yang diperjuangkannya adalah bagaiaman SMA Katolik Rajawali berdiri sendiri tidak lagi berafiliasi dengan saudaranya SMA Katolik Cenderwasih. Untuk bisa mandiri sebagai sekolah yang tidak berafiliasi dengan sekolah induknya diperlukan syarat, gedung sekolah memadai, guru, jumlah murid, proses belajar mengajar. Hasil perjuangannya membawa hasil manis yaitu dengan dikeluarkannya surat ketetapan dari menteri P & K (diknas red) no: 1612/D/I/80, tanggal 1april 1980.(From past till present, smakara,2008).
Pasca penetapan Kara sebagai sekolah yang mandiri, diangkatlah Sr. C.L.Senduk, JMJ sebagi kepala sekolah, prestasi yang plaing dikenang ketika beliau manjadi kepala sekolah adalah usaha beliau untuk untuk perubahan akte notaris dimana sebelumnya dibawah naungan Yayasan Paulus, diserahkan kepada Yayasan Joseph. Hasilnya, melalui akte nomor : 63, tanggal 18 Februari 1982, secara resmi diserahkan sepenuhnya kepada Yayasan Joseph, dan serah terimanya tanggal 30 Maret 1982, setelah mendapat persetujuan dr Mgr.Dr.Th.Lumanaw. Setelah serah terima tersebut, usaha perbaikan sarana dan prasarana sekolah semakin diintesifkan hal ini dilakukan dalam rangka persiapan untuk mendapatkan akreditasi dari pemerintah. Selain itu bangunan baru untuk kelas baru, laboratorium, perpustakaan, ruang pertemuan, ruang guru dan ruang tata usaha, perbaikan sarana olah raga seperti lapangan basket dan volley dilakukan. Dari sisi legalitas akreditasi sekolah, setelah dilakukan pembenahan sarana prasarana, peningkatan kwantitas dan kwalitas guru dan tenaga kependidikan, menghasilkan status akreditasi dari terdaftar menjadi diakui dan tak lama kemudian status disamakan disandang oleh Kara higga saat ini. Suksesi kepemimpinan di Kara terus belanjut, tercatat suster yang dua kali menjadi kepala sekolah adalah Sr C.L.Senduk, Sr.Johana De Chantal, dan dua orang awam yaitu alamarhum Bapak Felix Boro dan pejabat kepala sekolah almarhum Bapak Nico Slai. Setelah suster Johana, berturut yang menjabat sebagai kepala sekolah adalah suster Bernadete Mokorimban JMJ, Sr.C.L.Senduk JMJ, Sr Rita Manuel, JMJ, Sr.Maria Makalew,JMJ, Sr. Kathrin Widiastuti,JMJ, Sr.Theresia Tulung,JMJ dan saat ini Sr Leonie Taroreh JMJ. Hal yang menarik dari semua para kepala sekolah yang pernah menahkodai Kara adalah DISIPLIN, TANGGUNG JAWAB, KEJUJURAN, KETERBUKAAN, taka da kompromi, baik kepada para guru, pegawai maupun kepada para murid.
KARa kini,
Hal yang membanggakan Kara adalah predikat sekolah favorit yang disematkan masyarakat. Predikat favorit disandang Kara tidak didapat dengan gampang, tetapi melaui sebuah proses panjang. Dalam usia Kara 59 tahun, usia emas, pantas mendapat gelar itu dari masyarkat. Jika ditanya kepada masyarakat, apa sebabnya Kara diberi predikat favorit, sebahagian besar mengatakan, sekolah yang paling disiplin di Makassar adalah Kara. Buah dari kedisiplinan adalah prestasi-prestasi lain yang mengitarinya. Teringat saat belajar di Universitas Negeri Makassar, seorang guru besar yang kebetulan alumni Kara 1963, mengisahkan, hal yang tak pernah dilupakan ketika sekolah di Kara adalah KEDISIPLINAN, dan KETEGASAN. Pernah ada seorang temannya laki-laki, nakal sekali, saat suster kepala sekolah (Sr Alphonse Van Der Linden,JMJ,) memberi wejangan, dia ribut, suster tidak marah, tapi memanggil siswa yang bersangkutan untuk berdiri didepan podium lapangan upacara sekolah, lalu disampaikan kepada para murid lain;” jangan ikut cara dari siswa ini, tapi kalau ada yang mau coba, akan diberi kesempatan untuk berdiri disini”. Mulai saat itu semua para muridnya sangat segan kepada suster. Menurut Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), sekolah favorit memiliki indicator sebagai berikut: memiliki visi dan misi yang jelas dan harus ada langkah-langkah untuk mencapai visi misi,memiliki komitmen yang tinggi untuk menjadi yang unggul, memiliki kepemimpinan yang handal, ada pengaturan waktu dan penjadwalan yang jelas, lingkungan yang nyaman asri dan tertata rapih ( Kalteng Pos, 2013). Apa yang disampaikan LPMP agak berbeda yang disampaikan oleh masyarakat. Buat Kara, fovorit itu terserah masyarakat sebagai pengguna jasa lembaga pendidikan Kara. Predikat favorit Kara adalah buah dari tetesan perjuangan para pendahulunya, kalau sekarang menjadi lebih baik itu adalah kumulatif dari kebaikan-kebaikan yang telah disemaikan sebelumnya.
Setiap periode kepemimpinan kepala sekolah masing-masing memiliki gaya yang berbeda, akan tetapi memiliki komitmen yang sama untuk membenahi Kara kea rah yang lebih baik-lebih baik lagi. Suster Bernadette Mokorimban, misalanya beliau seorang pekerja keras, cerdas, disiplin dan tegas tapi berhati lembut, baik terhadap guru maupun para muridnya. Hal yang paling menarik pada masa kepemimpinan beliau adalah pendidikan karakter dengan menerjunkan langsung para muridnya ke kampung-kampung di daerah pedalam sulaesi selatan seperti Toraja, Sopeng, Mamasa dan lain-lain. Mereka sungguh diperhadapkan dengan realita masyarakat yang sebenarnya. Hasilnya para murid sungguh menghargai kehidupan, relasi antara murid dengan guru demikian akrab, kepala sekolah dengan guru juga demikian, karena semua terlibat untuk menyuksesan aktivitas yang dibebankan pada masing-masing seksi/bagian.
Pada masa Sr Rita Manuel, JMJ, gebrakan yang paling menonjol adalah keputusan tentang tidak diizinkannya siswa/I yang tidak naik kelas untuk mengulang di Kara. Tradisi ini memberi efek jera pada para murid untuk sungguh belajar ketika sudah berada dalam lingkungan sekolah Kara. Pada masa kepemimpinan kepala sekolah selanjutnya peraturan yang sudah menjadi cultue Kara dipertahankan terus menerus sehingga menjadi habit seluruh warga Kara, baik pimpinan sekolah, para guru dan para murid.
Kehadiran suster Leoni sebagai nahkoda Kara, memberi inspirasi baru bagi kehidupan Kara. Beliau mulai membenahi Kara dari berbagai aspek, aspek pertama yang dibenahi adalah kebersamaan antara para guru, dengan meluncurkan program rekreasi bersama keluarga para guru setiap akhir semester, mengingatkan para guru pentingnya menjaga integritas dihadapan siswa dengan menjaga kode etik guru sebagai pendidik. Kedua, kesejahteraan para guru dan pegawai sungguh diperhatikan dengan cara berkomunikasi langsung dengan Yayasan bahwa guru dan karyawan adalah garda terdepan untuk menjaga kelangsungah hidup Kara, ketiga mempertahankan bahkan menaikkan kualitas system pembelajaran yang mengarah pada peningkatan hasil belajar. Sistem pembelajaran dilakukan dengan merancang modifikasi kurikulum nasional menjadi berbasis sekolah seperti membuka kelas-kelas khsus bagi yang memiliki bakat khusus, kelas Cambrige, untuk memeprsiapkan siswa/I yang melanjutkan studi ke laur negeri, kelas unggulan untuk siswa/I yang dipersiapkan untuk ikut lomba antar sekolah baik tingkat kota, propinsi maupun nasional. Untuk kelas unggulan setiap hari jumaat dalam tiap minggu menjadi hari pendalam materi pelajaran yang berpotensi untuk dilombakan. Program seperti dilakukan untuk menjawab program pemerintah yaitu adanya olimpiade sains nasional yang diadakan setiap tahun. Kreatifitas program ini telah membuahkanhasil yang spektakuler yaitu 5 tahun terakhir Kara selalu meraih medali emas, perak dan perunggu pada tingkat nasional. Keberhasilan inilah yang makin memantapkan Kara sebagai sekolah favorit versi masyarakat. Menyadari bahwa kepintaran otak tidak cukup untuk menjadi manusi yang membebaskan maka diluncurkan juga program peningkatan kecakapan emosi siswa/I dengan menggalakan program karakter building dengan mendatangkan pembicaraan dari luar yang berkompeten seperti para romo yang menguasai pendidikan karakter, mendatangkan psikolog dari Universitas Parahiangan Bandung untuk mengedukasi bakat dan kemampuan siswa/I kelas X, sehingga orang tuanya memahami kepribadian anaknya. Sedangkan untuk meningkatkan kepintaran spiritual, dilurncukran juga program rekoleksi untuk para murid dan guru setiap akhri semester, dan setiap hari selalu dimulai dan diakhiri dengan do’a bersama dikordidinir oleh OSIS. Selain kegiatan intrakurikuler yang diuraikan diatas, juga kegiatan ekstra kurikuler seperti Seni music, desain grafis, basket, volley, takrow, jurnalistik dan photografi. Sr Leoni menyadari, meningkatkan kwalitas siswa tidak bisa dilakukan dengan membiarkan gurunya memiliki kwalitas biasa-biasa saja. Karena itu beliau mendorong gurunya untuk melanjutkan pendidikan ke jenajng yang lebih tinggi yaitu magister. Hasilnya 8 orang guru Kara sudah bergelar magister dan beberapa orang lagi tengah mengikuti kuliah magister. Ke empat, perbaikan dan peningkatan sarana dan prasaran pembelajaran. Ruang kelas dipercantik, bangku meja siswa yang memadai, ruang kelas ber AC, LCD setiap ruangan kelas, bahkan di depan kelas diletakan kursi mewah untuk para siswa. Kelima, lingkungan sekolah yang asri, memberi rasa aman dan nyaman sehingga warga Kara sungguh merasakan lebih nyaman berada disekolah sehingga kondisi untuk belajar lebih kondusif.
Tantangan ke depan.
Kita bangga, karena Kara hingga saat ini masih mendapat kepercayaan masyarakat untuk mendidik putra putri mereka, tentu saja tepat ita ucapakan terima kasih untuk itu. Kompetisi didunia pendidikan menengah di Makassar saat ini sudah sangat luar biasa, baik dengan sekolah yang sudah lama bersama dengan Kara maupun pendatang baru dari Makassar sendiri maupun yang baru hadir dari luar dengan label internasional dan label-label lain yang lebih menarik minat masyarakat pengguna jasa pendidikan. Tanda-tanda kompetisi itu begitu ketat sudah mulai dirasakan Kara, lima tahun lalu ke bawah, Kara masih bisa menerima pendaftaran calon murid baru diatas 700 orang bahkan diatas 1000 orang. Mari kita renungkan trend pendaftar calon siswa/I baru 5 tahun terakhir:
NO TAHUN PENDAFTAR (ORANG) DITERIMA (ORANG)
01 2009 565 395
02 2010 591 382
03 2011 556 426
04 2012 520 402
05 2013 500 388
06 2014 601 397
07 2015 749 477
Sumber: Tata Usaha Kara, 4 Sept 2013 dan PSB 2014,2015
Dari data ini, kita melihat trendnya stagnan atau kalau boleh dikatakan menurun, tentu saja kita bisa berargumen bahwa dampak dari pesaingan dengan munculnya banyak sekolah pesaing Kara, sehingga trend peminat Kara menurun. Tapi kalau menggunakan pendekatan konflik, maka ini peringatan dini bagi seluruh warga Kara khususnya para guru, pimpinan sekolah, karyawan, dan Yayasan untuk lebih meningkatkan diri dalam pelayanan kepada masyarakat dalam berbagai aspek. Kita semua memilik tafsiran yang berbeda terhadap data yang ditampilkan diatas, apaun tafsiran kita, wajib kita menjawab pertanyaan berikut untuk direnungkan yaitu masihkah Kara Berjaya untuk 20 tahun yang akan datang? Apa saja yang perlu dilakukan untuk untuk mengantisipasi kondisi itu? Apa yang harus kita lakukan sekarang untuk menyongsong kondisi itu? Apa yang saya sumbangkan untuk Kara agar eksis untuk generasi selanjutnya?. Mari menjawab sesuai dengan porsi dan posisi kita masing-masing! Masih banyak yang dibutuhkan Kara dari kita untuk kita sumbangkan kepadanya, sehingga dia bisa hidup 1000 tahun lagi. Dia membutuhkan system manajemen sekolah yang memadai, sehingga bisa dijadikan pedoman oleh generasi sesudah kita, pemberian diri dan pelayanan yang tulus dengan menjauhkan diri dari prilaku asal atasan senang (AAS)dan mencari mukadidhadapan atasan , kerjasama yang haromonis dengan pihak gereja (hiraki) dan kerjasama dengan sekolah-sekolah katolik lain dalam satu region.
Referensi:
Alumni Kara,From Past till present, 2009
Daniel Goleman,Gramedia,Jakart,2007
Gatra News, 5 Mei 2008, diakses 4 sept 2013
Gale,Aurelius, Wawancara, 10 September 2013
http//www.aelovebel.com/2012, SMA terbaik di Indonesia, diakses 4 sept 2013
Hidu Katolik.com, 24agustus 2008, diakses 4 sept 2013
LPMP, dalam Kalteng Pos, edisi Juni 2013.
Catatan: sudah pernah dimuat di majalah "CHARA MAGAZINE"
Kamis, 09 Juli 2015
PUISI "MUNCUL SAATNYA"
Setiap waktu-waktu akhir
Ada suatu ketenangan
Mungkin ini terlalu subjektif
Tapi ini yang kutangkap
Sebelum tutup usia
Hari ini aku lupa mencoret
Coret-moret di atas ruang
Aku lupa nasihat sang hari
kutulis ini pun saat yang lain
ah sudahlah...
Aku mau tenggelam
Sendirian
Sampai saatnya muncul
Oleh: Arkadus Ianuar Guntur_LudungKole.blogspot.com
(ditulis pada sebuah malam yang tenang di bawah kabut desa Mataloko, Ngada - Flores, NTT. Selasa, 26 Mei 2015)
MENCARI HERUCOKRO DALAM ‘LUMPUR’GLOBALISASI
- Orexas.
- Gali Lobang Gila Lobang.
- Siau Ling
- Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa), 1999; diangkat menjadi film Ca Bau Kan yang disutradarai Nia di Nata dan dirilis tahun 2002.
- Kerudung Merah Kirmizi, 2002
- Kembang Jepun, 2003
- Parijs van Java, 2003
- Menunggu Matahari Melbourne 2004
- Sam Po Kong, 2004?
- Puisi Mbeling 2005
- Rumahku di Atas Bukit
- 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing
- Drama Musikalisasi Tarragon "Born To Win"
- Novel
Pangeran Diponegoro
- Pesta (1991)
- Tutur Tinular IV (1992)
- Capres (Calo Presiden) (2009)

