Rabu, 23 September 2015

HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN,MENGENANG SAUDARIKU BERGITA YG TELAH TIADA

Ketika seseorang dihadirkan oleh Tuhan kedunia melalui kedua orang tua, rasa syukur, tahjud, bangga dirasakan oleh setiap keluarga. Di balut oleh rasa gembira yang luar biasa, merasuk sanubari dari kedua orang tua yang menantikan kehadirannya, seperti apa rupa dari rahasia Ilahi yang akan hadir di tengah-tengah keluarga. Kerinduan itu dipendam kuarang lebih  270 hari, dan pada akhirnya hari yang ditunggu juga tiba, itulah peristiwa kelahiran kita namakan. Kelahiran tersebut memberi warna ceria kepada kelaurga besar, maka selanjutnya dibuatkan prosesi syukuran baik lewat budaya yang dianut masing-masing maupun ritual agama yang dianut oleh kedua orang tua sang pewarna hidup. Selanjutnya dibuatkan ritual budaya pemberian nama dengan segala macam syarat itu ini yang harus dipenuhi dalam rangka keselamatan sang pewarna hidup(bayi). Tujuannya adalah agar perjalanan hidupnya nanti terjaga dengan baik oleh para leluhur, akan demikian juga dalam ritual keagamaan, upacara permberian nama sepertia permandian dalam tradisi Katolik, hakekah dalam tradisi Islam, emua dialakukan agar perjalan hidupnya mendapat perlindungan dari Yang Maha Esa. Itulah sebabnya knapa kita sangat gembira ketika seorang dilahirkan, yaitu kerinduan kita melihat sosok yang akan hadir ditengah kita, seperti apa tampanya.

Ketika sudah dewasa, bergaul dengan sesama, dan untuk menjamin pergaulan itu berlangsung dengan baik, maka norma masyarakat diperkenalkan melalui keluarga, sehingga keteraturan dalam pergaulan terjaga dengan baik. Norma agama memperkuat norma masyarakat sehingga relasi antara sesama manusia ddipastikan dapat berlangsung dengan baik. Ketika seseorang berhasil menajalankan perannya sesaui dengan kehendak masyarakat maka akan mendapat penghargaan dari masyarakat dengan predikat orang baik, dihargai, dihormati. Dalam agama diberi penghargaan sebagai orang saleh, taat beragama, dannya  penghargaanpun  diberikan oleh masyarakat dengan predikat masuk surga kalau nanti sudah berakhir hidupnya didunia ini.  Kebaikan-kebaikan yang ditebarkan oleh sesorang kepada sesama akan membekas dalam hati setiap orang yang berjumpa dengan siapapun. Rupanya, karena kebaikan-kebaikan yang ditebarkan demikian luarbiasa tertanam dalam hati sanubari kelaurga, sehingga ketiak seseorang beralih dari dunia ini, kelaurga yang masih hidup meraung-raung menangis, karena tampan yang sudah hadir melalui peristiwa kelahiran, kini hilang lenyap tanpa pernah akan terlihat lagi. Itulah sebabnya knapa kita menangis ketika seseorang  beralih dari dunia ini ke alam baka.

Inspirasi renungan dari seorang uztazt dalam buka puasa tahun 2013, pada buka puasa bersama dengan pengurus OSIS SMAK Rajawali, di rumahnya sdr Rifdah. Beliau bertanya, mengapa orang menangis ketika ada anggota kelaurganya meninggal? Dan apa saja yang dibawa oleh seseorang kehadapan TYE ketika meninggal?. Pertama yang dibawa adalah amal baiknya didunia ini, kedua adalah seluruh anggota kelurganya dan yang ketiga adalah seluruh harta benda yang dimilikinya selama berada didunia. Lalu mana yang diterima oleh TUHAN? Ternyata yang diterima oleh Tuhan adalah amal perbuatan baik,sedangkan keluarga dan harta bendanya dikembalikan oleh Tuhan. Itulah perjalan hidup kita.
Maka benarlah bahwa hidup itu adalah sebuah perjalanan. Tulisan ini, sebagai ungkapan kemashulan hatiku, atas kepergian saudariku yang tercinta Bergita Evi Jem,jam 04.00 wita di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Selamat saudariku, beristirahatlah dalam damai, dan doa kan kami semua yang masih mengembara didunia ini.


Senin, 21 September 2015

MEMOAR GUNTUR





MEMOAR GUNTUR.

 

Prolog. 
Kehidupan manusia laksana awan yang membentang tak bertepi, tak berujung, namun satu yang pasti bahwa kehidupan itu ada awal, pertengahan dan ada pula akhir. Demikian pula kehadiranku di Bumi Rajawali, laksana tak bertepi dan tak berujung namun yang pasti ada mulai dan pula akhir. Mengapa saya berada disini? Postulan sederhana adalah kebetulan, tapi dibalik kebetulan itulah rahasia Ilahi yang tak terselami. Mengungkap rahasia itu, rasanya kurang pas jika mulai dari pertengan pada hal ada tepi lain kehidupan  dan berujung pada ujung yang lain pula.  Tepi pertama adalah cita-citaku, tantangan, permurnian, dan akhirnya menampakan diri dalam lika liku kehidupan, pada tikungan hidup itulah sang Ilahi hadir memberi kepastian.

CITA-CITA KU SEJAK KECIL 
.
Lahir di Ri,i sebuah kampung kecil yang terletak dipunggung bukit wasewengke, dari seorang ayah Wilibrodus Kes almarhum  dan ibu Katarina Padung. Sejak memasukki sekolah dasar disebuah desa kecil Manggarai Flores Kecamatan Ruteng, tepatnya SDK Beo Rahong, cita-citaku ingin menjadi seorang guru, maklum lingkungan pergaulanku hanya bapa gurulah yang ku jumpai setiap hari. Kebetulan juga adik dari ayahku seorang guru, yang sangat dihormati oleh seluruh masyarakat yang ada di kampung maupun dimana beliau bertugas. Tahun 1971, awal  kehadiranku di sekolah. Sebagai anak desa, dengan segala keterbatan bersama dengan teman-teman seangkatan rutinitas harian mengikuti sekolah. Sekolahnya tak serius, karena di tempat dimana kami menuntut ilmu hanya ada seorang guru yang usianya juga sudah agak usur tapi  semangatnya masih tetap luar biasa mendidik kami. Kami belajar imalah dan berhitung di bawah sebuah pohon jeruk dari  jama 07.30 - 10.00. itu terus dilakukan setiap hari hingga kelas II. Kami maklumi karena ruang kelas di gunakan oleh kakak kelas II dan III. Sekolah ini memang baru dibangun dan kami  adalah angkatan ke tiga, kakak kelas diatas kami tertinggi adalah kelas III, Bangunannya sudah beratap zink tapi dindinganya dari gemeca bambu, tempat duduk juga dari kayu juga seadanya. Alat tulis menulis yang kami gunakan terbuat dari batu pualam hitam, gampang ditulis dan gampang juga di hapus. Kakak kelas II dan III sudah mulai menggunakan batu kalam dengan batu tulis dimana untuk menulis pada batu tulis tersebut harus menggunakan pensil dan untuk menghapusnya harus ada karet hapus yang sudah ada di ujung pensil. Angkatan kami sendiri, batu tulis atau sering juga disebut batu karton baru digunakan pada kelas IV seiring dengan hadirnya 2 orang guru muda pak Don dan pak Yan. Kehadiran tenaga muda berdua ini melipatgandakan motivasi kami untuk belajar, kami inten belajar " INI BUDI, INI IBU BUDI,INI BAPA BUDI, INI KAKAK BUDI, INI ADIK BUDI, SEMUANYA ADA 5 ORANG" ritual budi selalu dilantunkan setiap awal dan akhir pelajaran. Setelah itu baru mulai pelajaran inti.
Tahun 1976, saya dapat menyelesaikan studiku di SD berkat bimbingan dari 2 orang  guru muda dan seorang kepala sekolah baru yang datang dari kota kabupaten untuk mendidik kami dengan baik. Kedua pemuda itu demikian mempesoana kami khusunya saya karena kepiaiawan mereka dalam mendidik kami dalam sisi akademis dan non akademis. Kebaikan hati mereka ini menambah motivasiku untuk menjaga asahku menjadi guru.


Pasca lulus SD saya masuk disebuah sekolah menengah pertama didekat dengan kampung halaman, jarakanya kurang lebih 10 km, melewati salah satu sungai besar wae Lega yaitu SMP KATOLIK SURYA CANCAR.  Saat menempuh pendidikan di sekolah lajutan pertama himpitan ekonomi terus menerpa cita-citaku, maklum keluargaku  digolongkan keluarga miskin, membiayai hidup sehari-hari saja susah apalagi untuk biaya sekolah. Tapi ayah dan kakak-kakak ku memberi semangat bahwa saya harus sekolah meski tiada biaya, cukup mereka saja yang susah hidupnya kata-kata mereka. Untuk mebuktikan dukungan tersebut ayahku bekerja sebagai tukang sadap tuak/moke selanjutnya beliau menjual dari kampung-ke kampung. Hasilnya untuk membayar uang sekolahku. Selain itu kakak-kakaku bekerja juga sebagai buruh tani dengan bayaran uang seadanya. Untuk mendukung sekolahku keluarga dekat mengajak ku untuk tinggal bersama mereka sambil sekolah. Ayahku bekerja tidak saja sebagai tukang sadap pohon enau untuk dapat tuaknya tapi juga apa saja pekerjaan yang bisa menghasilkan uang sejauh bahwa itu halal, seperti jual ikan kering, bekerja sebagai penggergaji kayu dihutan bersama dengan keluarga lain, buat lesung untuk tumbuk padi, bahkan kerja borongan kebunnya orang, yang penting mendapatkan uang untuk biaya sekolahku. Saya sadar betul bahwa sekolah tidaklah murah, dan untuk saya sekolah keluargaku mulai dari kakek nenek, ayah ibu berserta kakak ku rela menahan lapar agar cita-citaku tercapai. Karena itu dengan keterbatasan ekonomi saya belajar dengan amat giat, setiap sore hari pergi belajar di sekolah mulai jam 15.30 - 17.00, dan malam hari menyelesaikan seluruh tugas dari Bapa dan Ibu guru, kecuali hari Rabu untuk cari kayu dihutan. Pagi hari jam 04.30 sudah bangun, membasuh muka dengan air dan mulai belajar lagi dengan lampu kaleng kecil berisi minyak tanah, setiap hari kebiasaan itu dilakukan terus menerus. Setiap hari Rabu saya harus ke hutan untuk mencari kayu bakar, selain untuk asrama sebagiannya dijual untuk dapat uang dan setiap hari Sabtu pulang kampung untuk bantu orang tua kerja di kebun. Karena perjuangan keluargaku demikian luar biasa, maka hari Rabu, kalau tidak ke hutan maka saya pergi tanam padi disawah dan mendapat upah dari pemberi kerja seadanya, uangnya saya serahkan kepada kelaurga dimana saya bertempat tinggal.  Saking susahnya kehidupan ekonomi kelurga kami, maka suatu ketika saya pulang kampung dan berdiskusi dengan keluarga, apakah mereka setuju kalau saya mau buat usaha jualan di asrama sekolah, mereka setuju asal tidak mengganggu belajarku. Saat itu sudah kelas III SMP, sekolah mewajibkan para murid untuk harus tinggal di asrama. Jadilah saya  menjual  diasrsama dengan sistem barter. Barang apa yang dijual? Tepung dari ubi kayu dicampur gula sehingga jika dimakan rasanya enak bahasa lokalnya rebok koil (tepuk gaplek). Setiap hari Sabtu saya pulang kampung dan pulang minggu sore  kembali ke asrama dengan membawa kurang lebih 10 kg material dengan nama rebok istilah lokalnya. Setiap hari teman-temanku minta ditukarkan dengan beras, maklum perut lapar,nasi belum masak, pulang sekolah baru masak nasi, situasi itulah yang saya manfaatkan untuk menjual daganganku. Satu gelas rebok ditukar dengan satu gelas beras. Jadi kalau saya pulang kampung maka pasti saya bawa pulang 10 kg beras. Kegiatan ini dilakukan hingga akhir kelas III. Akhir tahun 1979, kami tamat dari SMP Surya cancar. Pasca tamat sekolah Menengah pertama,cita-citaku  untuk menjadi guru, tetap berkobar dalam benakku. Beberapa temanku tidak lulus SMP, sedangkan ,saya lulus, puji Tuhan. Begitu lulus, saya mau sekali untuk masuk sekolah guru di ibu kota kabupaten. Tapi untuk masuk disana harus lulus tes, dan mahal juga bayarannya. Kami diskusi lagi dengan keluarga, dan mereka semua sangat mendukung.


CITA-CITA KU MULAI MENDAPAT TANTANGAN

Tiba juga waktunya untuk mengikuti tes masuk di salah satu sekolah guru terkemuka di ibu kota. Sayapun ikut didalamnya, penerimaan di sekolah ini sangat terbatas sesuai jatah yang ditentukan oleh pemerintah. Setelah selesai tes, saya membayangkan bagaimana senangnya menjadi seorang guru nanti, setelah 3 tahun sekolah. Sayang nya ketika diumumkan namaku tidak ada, alias tak lulus. Letih, lesu, bercampur aduk dalam rasa hatiku. Saya kemudian diskusi dengan omku yang menjadi guru, beliau menyarankan tak usah putus asa, masuk di SMA saja, di perguruan tinggi bisa masuk sekolah guru lagi. Tapi ku katakan sama om ku, bagaimana bisa masuk PT.SMP saja sudah susah untuk membiayainya, pada hal kalau masuk SPG, 3 tahun selesai sudah bisa mengajar di SD. Tapi demikianlah hasil perbincangan itu tak menghsilkan keputusan apa-apa. Saya pulang kampung berdiskusi dengan keluargaku, apakah saya lanjutkan studi atau tidak. Semua mereka memberi dukungan agar harus melanjutkan studi. Kali ini saya sudah menerima dengan lapang dada ketidak lulusanku tes SPG.  Akhirnya kami putuskan bahwa ikut tes di salah SMA terbaik di ibu kota kabupaten. Ibu menceritakan bahwa di sekolah itu ada kelurga dekat yang menjadi guru, saya mencoba untuk mencari tahu di sekolah itu siang harinya apakah ada nama guru seperti yang diceritakan ibu. Ternyata benar ada. Saya ketemu beliau, dan beliau siap bantu. Besok harinya ikut tes bersama ratusan peminat disekolah ini. Saya pun ikut tes bersama dengan teman-teman dari sekolah lain maupun dari sesama rekan alumni SMP yang sama. Semnggu kemudian ada beritanya, dan saya dinyatakan lulus. Jadilah saya menjadi salah seorang siswa dari sekolah ini, saat itu namanya SMA Swata Swadaya Ruteng. Tantangan finansial tetap menjadi momok yang mengerikan bagiku, sedangkan dari sisi kemampuan akademik bisa  bersaing dengan teman-teman lain. Untungnya saya sudah terbiasa di SMP untuk nyambi cari penghasilan, tapi dalam cara yang berbeda.Untuk menutup biaya uang sekolah dan biaya hidup, sehari-hari setiap hari Rabu harus ke hutan untuk mencari kayu bakar untuk di jual kadang-kadang ke guruku, kadang juga ke keluarga lain yang bersimpati. Selain usaha jual kayu, juga membantu membawa padi ke penggilingan padi dari beberapa keluarga yang bersimpati, dan sebagai ongkos sewanya dikasih beras sesuai kasihannya. Ketika kelas III SMA, kesempatan untuk masuk hutan cari kayu bakar sudah tak mungkin lagi, karena keharusan dari sekolah bahwa semua kelas III harus diasramakan dan wajib sore hari belajar di sekolah. Rupanya Tuhan tak tutup jalan, om ku memberi informasi bahwa salah seorang dokter butuh anak sekolah untuk membersihkan lingkungan sekitar rumah dinasnya dan diaksih uang lelah. Sekali lagi saya bersama seorang temanku menghadap ibu dari sang dokter, dan dengan tangan terbuka beliau menerima kami, dengan berbagai syarat-syarat yang harus dipenuhi. Jadilah setiap hari rabu kami membersihkan rumah sang dokter, dan setiap pulang kerja dari rumahnya, kami selalu diberikan makanan dan minuman. Setiap akhir bulan kami dikasih uang lelah, sekedar membantu kami kata beliau tapi buat saya inilah kehadiran Tuhan untuk menolongku. Saat yang sama ayahku dan kakak-kakak ku tetap berjibaku mendapatkan dana untuk penyelesaian studiku di sekolah lanjutan atas dengan pola yang sama saat saya masih di bangku SMP.
Tahun 1983, tepatnya bulan April, kami mengadapi ujian akhir Nasional saat itu dinamakan EBTANAS. Hasil ujian tersebut saya dinyatakan LULUS. Rasa bangga, haru, bercampur aduk dalam hatiku karena babak perjuanganku di SMA sudah selesai. Saya pulang kampung menjumpai keluargaku yang harap-harap cemas, apakah saya lulus atau tidak, maklum di Flores saat itu banyak sekali siswa-siswi yang tidak lulus ujian akhir, termasuk ada 21 teman seangkatanku tidak lulus dan terpaksa mengulang untuk tahun berikutnya dengan tidak ada jaminan untuk lulus pula. Ada temanku yang frustasi ada juga terima kenyataan dengan mengulang disana. Ada juga yang pilih mengulang di luar kota Ruteng dengan merantau ke Ujung Pandang. Ketika saya tiba di rumah, ayahku dan kakak ku belum pulang dari kebun. Sore malam hari mereka baru pulang, mereka melihat saya ceria sekali, sutu tanda berita baik. Begitu ayahku datang, beliau merangkulku dan menangis yang juga diikuti oleh seluruh anggota keluarga, menangis karena hasil perjuangan mereka sudah berhasil selesai untuk SMA.

                                                    Sang inpirator dan pahlawan keluarga kami
 

Malam hari berdiskusi lebih lanjut, bagaimana rencana selanjutnya, ayahku berkata, nak rasanya Bapa sudah tidak mampu lagi membiayai sekolahmu, jadi biar tamat SMA saja. Saya hanya pasrah, tapi kakak ku mengusulkan kita buat pesta sekolah, kalau ada hasilnya, dipakai untuk biaya merantau ke Ujung Pandang. Usul itu diterima oleh Bapa dan dibicarakan dalam keluarga besar di kampung. Mereka semua mendukung, jadilah saya pesta, tgl 7 Agustus 1983. Sayang, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Tap dari uang itu keluarga menyimpannya untuk bekal merantau. Pasca pelaksanaan pesta saya mencari informasi, dimana sebaiknya saya merantau. Akhir Juli hingga september 1983, arus informasi demikian banyak didapatkan, tapi belum saya putuskan hendak kemana saya pergi. Awal Agustus 1983, seorang saudariku anak dari om ku datang libur dari Ujung Pandang, beliau sekolah perawat di SPK Stelamaris, dan sudah tamat serta kerja di RS Stelamaris. Beliau mendengar rencana kami untuk merantau, om ku dan beliau datang ke kampung untuk kunjungi kakek dan nenek kami, sekalian berdikusi secara matang tentang saya merantau kemana. Setelah berdiskusi panjang lebar, keluarga sepakat untuk merantau ke Ujung Pandang, dan datang bersama dengan beberapa teman yang kuliah di Atmajaya nama bapa Aloysius Weot sebagai penunjuk jalan. Tgl 23 Oktober tahun 1983, tiba di Ujung Pandang. Saya sementara tinggal di keluarga om ku bapak alamarhum Yan Jemani, selama satu minggu. Setelah satu minggu di rumahnya bapa Yan, ada beberrapa keluarga mengajak untuk tinggal kost bersama dengan mereka, dengan harapan bisa kerja bangunan. Akhirnya saya setujui dan minta izin pada Bapa Yan, untuk tinggal bersama teman-teman.





Ujung Pandang, 23 Oktober 1983.

Untuk menyambung hidup di Ujung Pandang, pekerjaanku serawutan mulai dari kuli bangunan, kerja di tempat photo copy, percetakan, jual minyak gosok dari lorong-ke lorong di kota Ujung Pandang. Saya lakukan dengan ikhlas hati, sambil mencari informasi untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Rupanya pekerjaan ini menempaku untuk tahan banting, apapun yang dihadapi lanjutkan saja. Tetapi ada satu aktivitas yang tak pernah dilupakan adalah pendarasan doa kepada bunda Maria, agar diberi pertolongan olehnya melalui doanya, setiap hari, setiap malam itu selalu saya lakukan sambil meneteskan air mata. Pekerjaan yang tak menentu ini hingga akhir April 1984. Untuk memotivasi diriku selalu ingat pesan ayahku “ merantau artinya menderita” dan kalau kau bisa sekolah, filsofinya adalah “sekolah karena miskin”. Ketika menjumpai tantangan yang maha hebat, pesan ini yang selalu membesarkan hatiku, lalu bangkit lagi. Ayahku memang orang terhebat pendiam tapi pekerja keras dan pintar.

Tuhan datang menyapaku.

Minggu ke 2 bulan Maret 1984, sebagaiman biasa, saya berangkat dari tempat kost menuju lorong-lorong kota Ujung Pandang, yang saat itu saya tak tahu namanya apa, pokoknya jalan saja. Siang hari jam 11.15 wita, saya masuk dalam sebuah rumah, untuk menjajakan barang julan saya minyak gosok cap Rajawali. Beliau dengan ramah menerima saya dan bertanya nama, dari mana, dan untuk apa datang ke Ujung Pandang. Beliau mengajak saya untuk makan bersama, dan saya ia kan saja. Saat itulah beliau juga memperkenalkan diri, dan aktivitasnya. Setelah selesai makan, beliau mengajakku untuk doa anggelus jam 12 siang. Saya senang bukan kepalang, setelah berdoa anggelus beliau melanjutkannya dengan memberi renungan pribadi yang bersumber dari bacaan Injil Lukas Bab 12. ayat 24; beliau menguatkan saya bahwa Tuhan sudah menyiapkan sebuah pekerjaan untukmu, tapi harus percaya 100%. Untuk meyakinkanku, beliau menyuruhku untuk berdoa 7 kali  Bapa Kami dan Salam Maria, di Gerja Sto Yakobus Mariso, sore hari Minggu. Saat doa itu, saya berjanji untuk melaksanakannya dengan sungguh. Mulai hari minggu pasca perjumpaan itu saya melakukannya setiap hari Minggu. Minggu ke tujuh saya berdoa, hari Senin nya ada informasi dari teman bahwa ada perusahaan tenunan kain Sutera membutuhkan tenaga untuk memasak benang sutera. Sayangnya yang dibutuhkan satu orang saja, sementara kami ada dua orang. Keputusannya teman ku yang menghadap.sang bos. Setelah dia menghadap bos, dijanjikan seminggu kemudian hari senin menghadap lagi. Hari sabtu sebelum temanku menghadap bos, datang ke saya, memberitahukan bahwa dia tidak jadi menghadap bos hari Senin, karena besok hari Minggunya mu balik ke Manggarai lewat kapal kecil. Saya katakan ok lah nanti saya yang menghadap. Tiba saat nya hari Senin tgl 1 Mei 1984, kira-kira jam 08.00  wita, saya disuruh masuk ke kantor menghadap ibu, Ibu Ester namanya. Beliau bertanya mau kerja, saya katakan ia bu, tapi gajinya kecil dan kerjanya jam 05.00 wita, sudah harus di kantor masak benang sutera. Gajinya Rp 250 per minggu. Saya katakan ok bu, saya setuju. Setelah itu beliau menyuruh saya untuk langsung bekerja dan belajar sama teman-teman dari Flores yang duluan masuk kerja dari saya.
Setahun kemudian saya kerja sini, ibu melihat bahwa saya ada potensi yang tersembunyi dalam diri saya untuk dikembangkan, karena itu beliau panggil,” Nis, kalau kau mau kerja disini terus saya tidak setuju, kau harus sekolah”, jawabku, tapi bu, saya tak punya uang, orang tua ku tak mampu membiayai saya kuliah jawabku.  Beliau katakan uang yang kau dapat ini jangan makan semua, ditabung untuk bayar uang kuliah. Begitu mulianya bos ini, akhirnya saya setuju, bu terima kasih atas niat baiknya, tapi bagiamana kalau saya kuliah, kerja disini bagaimana? Beliau katakan, begini, kami kasih kompensasi sama kau, kalau ada kuliah sore jam 14.00, boleh pulang duluan, tapi kalau malam hari, tetap pulang jama 17.00. Saya setuju. Saya cari informasi dan saya dapat kampusnya.

CITA-CITAKU MULAI BERSEMI KEMBALI.


Akhir Juli 1985, saya mendaftarkan diri di salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar. Fakultasnya adalah Pendidikan. Maka daftarlah saya di Universitas Muhammadiyah Makassar, FKIP, jurusan Kurikulum dan Teknologi  Pendidikan. Saya melaporkan kepada bos saya, bahwa saya sudah daftar kuliah, diterima dan mulai kulianya akhri Agustus 1985. Kuliahlah saya disana mulai Agustus 1985. Gangguan datang lagi, pada bulan Oktober ada informasi dari temanku bahwa ada prpgram bea siswa di Unhas untuk profesi guru, tapi harus tes.


Saya coba memberanikan diri untuk tes, dan ternyata saya lulus. Kuliah selama kurang lebih tiga bulan jurusan Biologi, sambil juga malam hari tetap kuliah  di PTS swasta. Januari 1986, pimpinakuyang laki-laki  datang dari Jakarta. Beliau tahu bahwa saya kuliah di UNHAS, beliau memanggil saya, dan mengatakan bahwa kamu harus angkat kaki dari sini. Pilih kuliah atau kerja, atau kuliah sambil kerja tetap di swasta karena malam hari. Kami bernego, hasil negonya adalah selama seminggu saya diberi kesempatan untuk berpikir dan memutuskan. Hari sabtu, saya menghadap beliau dan berdiskusi tentang masalah kuliah saya. Beliau memberi masukkan bahwa selain kau dapat gaji bulanan, kau juga dapat Rp 250 perbulan untuk uang kuliah tetapi tetap di swasta dan tinggalkan UNHAS. Akhirnya diputuskan saya mengundurkan diri dari UNHAS, dan tetap kuliah di UNISMUH Makassar. Tahun 1989, tepatanya bulan Oktober, saya menyelesaikan studi S1 ku di UNISMUH, dan mengundurkan diri dari pekerjaan di Sutera Alam Sulawesi, dengan alasan mau menjadi guru. Pimpinanku menerima dengan baik, dan berpesan agar relasi dengan beliau tidak boleh putus, dan saya mengatakan terima kasih pak dan ibu.

CHARA MEMBUKA TANGAN MERANGKULKU MEWUJUDKAN CITA-CITAKU


Bersma seorang sahabatku, kami bekerja mencetak sablon sendiri sertifikat-sertifikat untuk apa saja. Saya yang menjadi marketingnya dan beliau bertugas untuk mencetaknya. Ketika itu SMA Katolik  Rajawali mau melaksanakan penataran P4 untuk siswa/i barunya. Saya bertemu dengan suster kepala sekolahnya, yaitu suster Bernadette Mokorimban. JMJ. Belau mengatakan, seminggu lagi Bapak datang, banyak yang kami harus cetak. Seminggu kemudian saya datang ketemu beliau, dari bincang-bincang itu beliau bertanya, kamu kuliah dimana? Saya menjawab suster saya sudah selesai kuliah bulan oktober kemarin 1989 Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Oh.. kami butuh jurusan anda, karena dari dinas mewajibkan setiap sekolah harus ada jurusan itu. Kalau begitu kau buat lamaran, tanggal 23 Juni 1990 kau bawa ke Sekolah. Tanggal yang dijanjikan saya bawa lamaranku, dan beliau meminta agar tgl 24 Juli 1990 kau datang ikut rapat guru, dan sambil menunggu itu kau jalan-jalan ke sekolah, saya mengiakan semua yang disampaikan beliau. Ketika rapat guru, saya diperkenalkan oleh beliau kepada kawan-kawan guru.

TEMPAT BARU, TANTANGAN BARU. 

 Pasca saya diterima di Chara, masalah muncul, saya ditempatkan dibagian kurikulum yang secara teori saya dapat ilmunya, tapi prakteknya, aduh jauh antara langit dan bumi. Suster mengajarkan kepada saya bagaimana cara membuat jadwal/roster. Beliau memberi tugas kepada saya untuk mengajar pelajaran Sejarah dan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), dunia dimana di perguruan tinggi saya belum pernah sentuh sedikitpun. Tap saya terima, dan belajar dengan segala daya, dan akhirnya bisa juga mengajar. Untuk memastikan apakah saya sudah bisa mengajar, suster selalu mensupervisi  saya di kelas, dan sesudahnya berdiskusi dengan beliau apa kekurangan dari apa yang diajarkan. Suster selalau membesarkan hati saya ketika saya mendapat tantangan dari para murid dan teman-teman juga memberi suport, bahwa pasti kamu mengjar dengan baik, kuncinya kuasai materi yang kamu ajarkan.  Proses itu terus berjalan  dan tantangan juga terus berjalan. Ada pada momen tertentu mendapat tantangan dari murid yang ingin coba gurunya. Dia menantangku untuk adu fisik… saya jawab dia, nak saya disini bukan untuk itu, saya hanya mau berbagi apa yang ada paduku untuk kalian, tapi kalau terpaksa boleh juga tapi bukan disini tempatnya. Kalu gitu… begini… jangan disini yah… sebentar malam kita ketemu di Karebosi, Ananda bawa siapa saja…. Kita ketemu jam 10 malam. Tiba hari h dan j nya saya menunggu dikarebosi hingga jam 12 malam. Sambil menunggu para bencong dating menggoda saya….. saya katakan menjauh… kalau tidak parang ini melayang di lehermu, eee mereka lari pontang panting. Ketika lewat jam 12 malam, mereka tidak dating, akhirnya saya pulang. Keesokkan hari nya saya datangi kelas nya dan menghampiri dia, dan bertanya mengapa tidak dating tadi malam di Karebosi? Dia tunduk dan tidak menjawab. Pasca peristiwa itu, resistensi dari para siswa-i sudah sangat berkurang bahkan tidak ada sama sekali.


Tahun 1995, sejalan dengan kebijakan pemerintah dimana mata pelajaran sosiologi dan antropologi harus diajarkan kepada seluruh siswa SMA mulai kelas II jurusan IPS, maka saya ditugaskan untuk mengampuh mata pelajaran tersebut mendapingi kawanku yang jam mengajarnya terlalu banyak. Saat itu memang peminat jurusan IPS, hingga 5 kelas. Pelajaran ini, saya ampuh dengan agak santai karena di Perguruan Tinggi  dua semester diajarkan yaitu sosiologi umum dan sosiologi Pendidikan. Sebagaimana biasa, selalu belajar keras lagi, membaca buku-buku yang terkait dengan mata pelajaran yang saya ampuh. Pada akhirya justeru mata pelajaran ini sangat saya senangi, mengajarnya kepada murid-muridku. Kerap saya bertanya kepada beberapa dari mereka bagaiamana mengajarku hari ini, apakah lebih baik? ya.... lumayan pak, tapi mana catatannya pak, masa Bapak menjelaskan terus, kami belajar nya dari mana? Dari pengalaman itulah, kamai buat tradisi, agar murid kami harus punya buku catatan yang tebal, untuk menulis materi ajar yang diajarkan kepada siswa/i.

 PERUBAHAN PARADIGMA

 

Tahun 2000, LCD sudah mulai diperkenalkan di sekolah, setiap kali kami ikut pelatihan para nara sumber selalu menggunakan alat canggih ini. Sebagaiaman kebiasaanku, selalu ingin tahu, bagaiaman cara mengoperasikannya. Macam-macam juga jawabannya, harus kuasai power point, punya komputer sendiri, punya LCD di sekolah. Saya belajar power point, semua catatan dari buku tebal saya pindahkan ke powe point, dan hasilnya sangat baik. Murid-muridku juga termotivasi kalau ngajar menggunakan power poin. Karena sambutan murid-murid sangat baik dengan penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran, maka tak terkecuali para guru memacu diri untuk belajar komputer khsusnya power poin yang difasilitasi pimpinan sekolah. Sejak tahun 2005, kami di mata pelajaran Sosiologi benar-benar tradisi mencatat di buka tebal ditinggalkan total menjadi sistem pembelajaran menggunakan power poin. Apa lagi setelah seorang mantan murid kami menjadi guru bersama kami dan sangat lihai komputer, kami banyak belajar dari dia, khususnya saya.




Pendampingku yang sabar dan tahan uji.


CHARA SEMAKIN PESAT PERKEMBANGANNYA.

Seiring program pemerintah dimana diadakan lomba bidang studi tingkat nasional seperti olimpiade Sains Nasonal, maka SMA Katolik Rajawali terlibat didalamnya. Tahun 2005, SMA K Rajawali mengirim utusan untuk lomba  bidang studi di tingkat Nasional, saat itu Chara hanya mendapat sebuah medali Perunggu untuk bidang studi Ekonomi, diraih oleh siswi bernama Novi dari XII IPS-2. Tahun 2006, terjadi pergantian pucuk pimpinan di Chara, pimpinan lama diganti oleh pimpinan baru, saya sendiri belum kenal, tapi informasi yang saya himpun dari teman-teman, beliau energik, kepala sekolah SMP Pelita Bangsa Tana Toraja. Tiba saatnya beliau datang ke sekolah, dan meperkenalkan diri bahawa nama beliau adalah Sr.Leonie Taroreh, JMJ. Awal kehadirannya selalu memberi semangat kepada kami para guru, bahwa milikilah sekolah ini, karena dengan rasa memiliki akan mucul rasa tanggung jawab, dan dengan adanya rasa tanggung jawab disiplin akan terpelihara terus menerus. Dan ciri khas Chara adalah sekolah yang disiplin, terus kan itu dipertahankan, kata suster mantap.


Dalam rangka membangkitkan rasa kebersamaan pimpinan selalu melakukan pendekatan informal kepda guru bahkan kepada Yayasan juga. Untuk mendukung terwujudkanya Chara go internasional maka diciptkan kelas unggulan IPA dan IPS, unggulan Inggris dengan kurikulum Cambrige. Hasilnya luar biasa, Chara sederajad dengan sekolah lain secara nasional. Sudah sekian banyak medali emas, perak, perunggu, dari even olimpiade Sain Nasional. Satu cita-citanya yang belum terwujud adalah medali untuk olimpiade Penelitian Siswa Indonesia. (OPSI). Untuk mewujudkan cita-cita ini, tahun 2015, dibentuk gugus guru untuk melatih siswa/i Chara yang memiliki potensi untuk itu. Karena pada pelajaran sosiologi ada materi ajar khusus tentang penelitian, maka saya menerima tugas itu dengan senang hati.  Hasil dari bimbingan kami untuk karya ilmiah lumayan bagus. Sebelum kami bertanding ke level kota, Propinsi dan nasional, maka dialakukan lomba KTI (karya tulis ilmiah tingkat sekolah. Dan semua kelas wajib mengutus 1 kelompok untuk ikut. Kepala sekolah menyambut baik usul tersebut dan menyiapkan hadiah, uara I dapat piala dan uang sejumalh Rp 1,500,000, Juara II sejumalah Rp 1.250.000, Juara III sejumlah 1.000.000, Juara harapan I sejumlah Rp 750.000, Jaura harapan II sejumlah Rp 500.000, dan Juara harapan III sejumlah Rp 250.000,- Dan yang menjadi juri adalah dosen dari Universitas Hasanuddin Makassar. Ini lah awal kisah dari Karya Tulis Ilmiah berkembang di SMA Katolik Rajawali, dimana pendampingnya adalah kami sendiri. Hasilnya piala juara 1,2 dan 3 bahkan olimpiade Sosiologi yang dilaksanakan oleh universitas Negeri Makassar, SMA Rajawali mendapt medali emas. Perlombaan tangkat kota Makassar, Propinsi Sulawesi selatan, Chara selalu mendapt juara. Perkembangan Chara kini, memang semakin pesat, data peminat untuk belajar di Chara untuk lima tahun terakhir meningkat secara signifikan, bahkan tahun 2015, sejumlah 849 murid mendaftar, sedangkan yang diterima hanya 472 orang.
Perekmbangan ini tidak terlepas dari strategi pimpinan Chara berkolaborasi dengan Yayasan, dimana setiap guru diizinkan melanjutkan studi magister, para guru yang mengampuh mata pelajaran OSN diberi tugas khusus untuk mendampingi anak-anak secara khusus. Untuk mewujudkan ini, hari Jumaat dipilih sebagai hari bimbingan OSN. Hasilnya ..... luar biasa, medali emas, perak,perunggu di raih Chara.



KETERBUKAAN CHARA (YAYASAN) MEWUJUDKAN CITA-CITAKU..

Andaikan Chara(yayasan) tidak membuka tangannya untuk merangkulku? Mau jadi apa yah, saya ini? Tapi itulah rancangan Ilahi yang tak terselami. Ia bekerja melalui orang lain (kepala sekolah), Yayasan untuk menjaring manusia-manusia yang sudah diseting sejak awal untuk masuk di Chara ini. 25 tahun sudah, saya bersmamu Chara, intelktualitasku berhasil dioptimalkan olehmu, melalui pimpinan ku. Tapi dasar aku yang lemah, tak berdaya, belum memberi baktiku yang luar biasa untuk Mu. Tapi izinkan ku memohon maaf kepada mu (yayasan, pimpinan sekolah, rekan-rekanku) karena aku belum meberi yang terbaik, tapi sebaliknya mungkin yang menyusahkan. Terima kasihku kepada pimpinan ku Suster Leonie SJMJ, yang kerap mengeritkan dahinya ketika saya berulah, dan tertawa lepas ketika ada canda yang tak bermakna dariku. Untukmu suster saya haturkan terima kasih, karena kepasitasku secara akademik berhasil ditingkatkan, Tuhan pasti membalasNya. Dan untuk Yayasanku, para suster, secara khusus suster Bernadette Mokorimban, JMJ, suster yang mulia Chantia Toar, JMJ yang ada dialam sana, terima kasih tak terhingga kepada para suster semua. Aku akan pensiun dari sini, tetapi hatiku tetap tinggal disini, sampai kapanpun. Mungkin sukaku adalah dukanya yayasan (sekolah), karena sering merepotkan yayasan, sekolah. Dan sukanya yayasan (sekolah, kepala sekolah) ketika aku sudah pergi dari hadapan kalian semua. Tapi apapun itu kita alami, itulah bingkai kenangan yang kerap dikenang oleh kita semua, khususnya saya dan keluargaku, secara istimewa anak-anakku.



                                                          Generasi pelanjut kami

 

Rekreasi bersama keluarga besa Wily Makassar

Makassar, 21 September 2015, jam 08.00 - 13.45.

Revisi: 19 Nop 021, jam 11,00 wita

 


Sabtu, 08 Agustus 2015

QUO VADIS SMA KATOLIK RAJAWALi.

Tanggal 1 september 2013, pukul 14.35 menit, telponku bordering saat asiknya memberikan pelatihan kepada sekelompok masyrakat yang mau mendalami lika liku hidup ber CU, diam sejenak, ku perhatikan oh… ada nama suster Leoni. Dalam kondisi setengah bertanya, ada apa ini? Eh…. Ternyata minta tolong untuk berdiskusi dengan suster Sherly, terkait dengan rencana Tarekat JMJ propinsi Makassar untuk menerbitkan bulletin. Karena saat itu lagi sibuk, maka dicapai kesepakatan bahwa besok hari senin tanggal 2 September pak Guntur harus bertemu dengan Suster Sherly, mengakhiri pembicaraan sore itu.  Keesokkan harinya, kurang lebih jam 09.30, saya menjumpai suster Sherly di SD Sto Joseph, sayangnya belum sempat bertemu. Saya mencoba mencari informasi pada rekan guru di SD Sto Joseph, ada yang mengatakan barusan ada tadi, tapi sekarang sudah tidak ada, beliau pergi ada acara di biara Sti Mariam. Penasaran, saya coaba cek no handphone beliau di hpku eh…. Ternyata tak a da. Tiba-tiba muncul seorang karyawati saya tak tahu namanya, lalu saya minta nomor beliau, tapi mereka tak mau kasih, rupanya teman ini langsung menelpon beliau, dan saya mendapat jawaban, oaduh….. pak Guntur ditunggu dari tadi untuk meliput acara peresmian lading karya baru Societas JMJ, yaitu panti penitipan anak di Asrama Sti Meriam. Saya terperangah juga, karena ternyata infonya tidak sejalan, tapi suster mengatakan sudah pak Guntur, saya punya perelngkapan cukup memadai untuk meliput aktivitas ini, jadi nanti saya yang menulis dan kamera juga suster punya. Saya hanya mengatakan ok suster terima kasih, dan diakhir pembicaraan itu, dibuat poiment bahwa besaok hari selasa tanggal 3 September 2013, suster akan ke SMA Katolik Rajawali untuk membicarakan lebih dalam tentang pokok soal yang kami maksudkan.  Kesesokan harinya kurang lebih jam 10.15 tanggal 3 Sept, suster berada di SMA, jadilah kami bertemu. Suster berbicara panjang tentang rencana penerbitan perdana majalah yang akan dibuatoleh Societas JMP propinisi Makassar bagian apendidikan. Di tengah pembicaraan itu suster meminta kepada pak Guntur menulis berita  dalam bentuk artikel, yang memuat tentang profil SMA Katolik Rajawali. Oaduh…… tugas berat nih… suster, soalnya banyak aktivitas lain sudah berkutat disekeliling pak Guntur. Tapi suster mengatakan anda bisa lah setengah memotivasi, saya menjawab ok suster, saya coba. Pasca pertemua tersebut kurang lebih satu minggu saya mencari inspirasi apa tema yang akan saya angkat di edisi pertama majalah ini. Saya coba berrefleksi dan muncul inpirasi oh….. mau ke mana SMA Katolik Rajawali ke depan????? Akhirnya ditemukan lah temanya ‘ QUO VADIS SMA KATOLIK RAJAWALI.
    Tema ini diangkat, karena tantangan didepan mata kita saat ini, sangat luar biasa, kebijakan pendidikan gratis dari pemerintah, munculnya sekolah-sekolah internasional di Makassar, sekolah-sekolah local yang mencontek sepak terjang SMA Katolik Rajawali, belum lagi sekolah-sekolah unggulan lain yang sudah eksis di kota Makassar. Untuk   menjawab ini ada tiga poin penting yang disoroti, pertama, sepak terjang SMA Katolik Rajawali dahulu. Kedua sepak terjang SMA Katolik Rajawali sekarang, dan apa yang persiapan strategis SMA Katolik Rajawali menghadapi laut biru persaingan didunia pendidikan di Makassar, sehingga minimal tetap eksis atau lebih progresig terbang tinggi lagi.
SMA Katolik Rajawali dahulu.
  Jasmerah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah, itulah pesan Bung Karno setiap kali berpidato didepan generasi muda bangsa Indonesia, untuk membakar semangat warga bangsa, dan hasilnya memang luar biasa, hingga kini belum ada generasi bangsa ini yang bisa menyaingi gaya pidato Bung Karno. Demikian juga kita sebagai generasi yang masih bergelut dan menikmati buah perjuangan dari generasi pendahulu  SMA Katolik Rajawali, untuk selanjutnya disingkat Kara.
Tahun 1954, atas desakan masyarakat agar para suster JMJ mendirikan sekolah SMA pada saat itu, maka didirikanlah SMA Katolik Rajawali dengan nama SMA Katolik Cabang Rajawali, nomenklatur Cabang Rajawali diberikan karena masih berafiliasi dengan  sekolah induknya yaitu SMA Katolik, yang lebih dikenal sekarang SMA Katolik Cenderwasih atau disngkat KACA. Jumlah murid yang diterimapun hanya putri semua dengan jumlah 40 orang saja, jurusan yang dibuka saat itu hanya satu yaitu jurusan Humaniora atau jurusan Bahasa saat itu dikelnal kelas A. Pembukaan kelas putri dilakukan karena sekolah induknya kaca hanya menerima putra semua. Setahun kemudian tepatnya tahun 1955, mendapat desakan dari masyrakat agar sekolah cabang Rajawali menambah satu jurusan yaitu jurusan social atau kelas C. Dengan demikian SMA Katolik Cabang Rajawali sudah bertambah jumlah siswanya yang memilih kedua jurusan tersebut yaitu kelas A dan kelas C, meski keunikannya tetap semuanya putri. SMA Katolik Rajawali saat itu dinahkodai Sr Alphonse Van Der Linden,JMJ,suster Belanda yang sangat disiplin. Awal kepemimpin beliaulah benih disiplin bersemi di bumi Kara khususnya SMA Katolik Rajawali. Kedua jurusan ini pertama dibuka karena keterbatasan sarana dan prasarana pada masa itu, dimana kedua jurusan tersebut belum membutuhkan laboratorium. Sarana dan prasarana pada saat itu masih sangat jauh dari yang dikatakan memadai untuk sebuah lembaga pendidikan. Gedung sekolah, perpustakaan, ruang kelas, bangku meja, papan tulis semunya serba sederhana sesuai dengan situasi pada saat itu. Dengan segala keterbatasan yang ada, satu yang paling diingat oleh para alumninya pada saat itu adalah benih DISIPLIN yang ditanamkan oleh pimpinan sekolah pada saat itu.  Hasil ketekunan dari para suster dan guru pada saat itu menghasilkan lulusan yang berkwalitas, mandiri  ditengah masyarakat. Atas keberhasilan ini masyrarakat meberi apresiasi dengan mendorong suster-suster JMJ untuk menambah satu jurusan lagi yatu jurusan Ilmu Pasti atau Kelas B. Tahun 1967 barulah jurusan ilmu pasti dibuka, dengan demikian SMA Katolik Rajawali sudah lengkap menjadi sekolah SMA. Hal yang menarik di tahun ini adalah penerimaan siswa baru pria. Jumlah siswa kelas B pada saat itu berjumlah 50 orang. Sarana Laboratorium mulai dibangun dengan sangat sederhana, sebagai tempat praktek siswa/I kelas B. Suster Alphonnse Van Der Linden,JMJ, memipin SMA Katolik Rajawali selamat 17 tahun, beliau digantikan oleh suster Johana De Chantal Rawung JMJ. Suster Johana dikenal sebagai pemimpin yang memiliki visi yang jauh ke depan, satu hal yang diperjuangkannya adalah bagaiaman SMA Katolik Rajawali berdiri sendiri tidak lagi berafiliasi dengan saudaranya SMA Katolik Cenderwasih. Untuk bisa mandiri sebagai sekolah yang tidak berafiliasi dengan sekolah induknya diperlukan syarat, gedung sekolah memadai, guru, jumlah murid, proses belajar mengajar.  Hasil perjuangannya membawa hasil manis yaitu dengan dikeluarkannya surat ketetapan dari menteri P & K (diknas red) no: 1612/D/I/80, tanggal 1april 1980.(From past till present, smakara,2008).
    Pasca penetapan Kara sebagai sekolah yang mandiri, diangkatlah Sr.  C.L.Senduk, JMJ sebagi kepala sekolah, prestasi yang plaing dikenang ketika beliau manjadi kepala sekolah adalah usaha beliau untuk untuk perubahan akte notaris dimana sebelumnya dibawah naungan Yayasan Paulus, diserahkan kepada Yayasan Joseph. Hasilnya, melalui akte nomor : 63, tanggal 18 Februari 1982, secara resmi diserahkan sepenuhnya kepada Yayasan Joseph, dan serah terimanya tanggal 30 Maret 1982, setelah mendapat persetujuan dr Mgr.Dr.Th.Lumanaw. Setelah serah terima tersebut, usaha perbaikan sarana dan prasarana sekolah semakin diintesifkan hal ini dilakukan dalam rangka persiapan  untuk mendapatkan akreditasi dari pemerintah. Selain itu bangunan baru untuk kelas baru, laboratorium, perpustakaan, ruang pertemuan, ruang guru dan ruang tata usaha, perbaikan sarana olah raga seperti lapangan basket dan volley dilakukan. Dari sisi legalitas akreditasi sekolah, setelah dilakukan pembenahan sarana prasarana, peningkatan kwantitas dan kwalitas guru dan tenaga kependidikan, menghasilkan status akreditasi dari terdaftar menjadi diakui dan tak lama kemudian status disamakan disandang oleh Kara higga saat ini. Suksesi kepemimpinan di Kara terus belanjut, tercatat suster yang dua kali menjadi kepala sekolah adalah Sr C.L.Senduk, Sr.Johana De Chantal, dan   dua orang awam yaitu alamarhum Bapak Felix Boro dan pejabat kepala sekolah almarhum Bapak Nico Slai. Setelah suster Johana, berturut yang menjabat sebagai kepala sekolah adalah suster Bernadete Mokorimban JMJ, Sr.C.L.Senduk JMJ, Sr Rita Manuel, JMJ, Sr.Maria Makalew,JMJ, Sr. Kathrin Widiastuti,JMJ, Sr.Theresia Tulung,JMJ dan saat ini Sr Leonie Taroreh JMJ. Hal yang menarik dari semua para kepala sekolah yang pernah menahkodai Kara adalah DISIPLIN, TANGGUNG JAWAB, KEJUJURAN, KETERBUKAAN, taka da kompromi, baik kepada para guru, pegawai maupun kepada para murid.

KARa kini,
 Hal yang membanggakan Kara adalah predikat sekolah favorit yang disematkan masyarakat. Predikat favorit disandang Kara tidak didapat dengan gampang, tetapi melaui sebuah proses panjang. Dalam usia Kara 59 tahun, usia emas, pantas mendapat gelar itu dari masyarkat. Jika ditanya kepada masyarakat, apa sebabnya Kara diberi predikat favorit, sebahagian besar mengatakan, sekolah yang paling disiplin di Makassar adalah Kara. Buah dari kedisiplinan adalah prestasi-prestasi lain yang mengitarinya. Teringat saat belajar di Universitas Negeri Makassar, seorang guru besar yang kebetulan alumni Kara 1963, mengisahkan, hal yang tak pernah dilupakan ketika sekolah di Kara adalah KEDISIPLINAN, dan KETEGASAN. Pernah ada seorang temannya laki-laki, nakal sekali, saat suster kepala sekolah (Sr Alphonse Van Der Linden,JMJ,) memberi wejangan, dia ribut, suster tidak marah, tapi memanggil siswa yang bersangkutan untuk berdiri didepan podium lapangan upacara sekolah, lalu disampaikan kepada para murid lain;” jangan ikut cara dari siswa ini, tapi kalau ada yang mau coba, akan diberi kesempatan untuk berdiri disini”. Mulai saat itu semua para muridnya sangat segan kepada suster. Menurut Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), sekolah favorit memiliki indicator sebagai berikut: memiliki visi dan misi yang jelas dan harus ada langkah-langkah untuk mencapai visi misi,memiliki komitmen yang tinggi untuk menjadi yang unggul, memiliki kepemimpinan yang handal,  ada pengaturan waktu dan penjadwalan yang jelas, lingkungan yang nyaman asri dan tertata rapih ( Kalteng Pos, 2013). Apa yang disampaikan LPMP agak berbeda yang disampaikan oleh masyarakat. Buat Kara, fovorit itu terserah masyarakat sebagai pengguna jasa lembaga pendidikan Kara. Predikat favorit Kara adalah buah dari tetesan perjuangan para pendahulunya, kalau sekarang menjadi lebih baik itu adalah kumulatif dari kebaikan-kebaikan yang telah disemaikan sebelumnya.
Setiap periode kepemimpinan kepala sekolah masing-masing memiliki gaya yang berbeda, akan tetapi memiliki komitmen yang sama untuk membenahi Kara kea rah yang lebih baik-lebih baik lagi. Suster Bernadette Mokorimban, misalanya beliau seorang pekerja keras, cerdas, disiplin dan tegas tapi berhati lembut, baik terhadap guru maupun para muridnya. Hal yang paling menarik pada masa kepemimpinan beliau adalah pendidikan karakter dengan menerjunkan langsung para muridnya ke kampung-kampung di daerah pedalam sulaesi selatan seperti Toraja, Sopeng, Mamasa dan lain-lain. Mereka sungguh diperhadapkan dengan realita masyarakat yang sebenarnya. Hasilnya para murid sungguh menghargai kehidupan, relasi antara murid dengan guru demikian akrab, kepala sekolah dengan guru juga demikian, karena semua terlibat untuk menyuksesan aktivitas yang dibebankan pada masing-masing seksi/bagian.
Pada masa Sr Rita Manuel, JMJ, gebrakan yang paling menonjol adalah keputusan tentang tidak diizinkannya siswa/I yang tidak naik kelas untuk mengulang di Kara. Tradisi ini memberi efek jera pada para murid untuk sungguh belajar ketika sudah berada dalam lingkungan sekolah Kara. Pada masa kepemimpinan kepala sekolah selanjutnya peraturan yang sudah menjadi cultue Kara dipertahankan terus menerus sehingga menjadi habit seluruh warga Kara, baik pimpinan sekolah, para guru dan para murid.
Kehadiran suster Leoni sebagai nahkoda Kara, memberi inspirasi baru bagi kehidupan Kara. Beliau mulai membenahi  Kara dari berbagai aspek, aspek pertama yang dibenahi adalah kebersamaan antara para guru, dengan meluncurkan program rekreasi bersama keluarga  para guru setiap akhir semester,  mengingatkan para guru pentingnya menjaga integritas dihadapan siswa dengan menjaga kode etik guru sebagai pendidik. Kedua, kesejahteraan para  guru dan pegawai sungguh diperhatikan dengan cara berkomunikasi langsung dengan Yayasan bahwa guru dan karyawan adalah garda terdepan untuk menjaga kelangsungah hidup Kara, ketiga mempertahankan bahkan menaikkan kualitas system pembelajaran yang mengarah pada peningkatan hasil belajar.  Sistem pembelajaran dilakukan dengan merancang modifikasi kurikulum nasional menjadi berbasis  sekolah seperti membuka kelas-kelas khsus bagi yang memiliki bakat khusus, kelas Cambrige, untuk memeprsiapkan siswa/I yang melanjutkan studi ke laur negeri, kelas unggulan untuk siswa/I yang dipersiapkan untuk ikut lomba antar sekolah baik tingkat kota, propinsi maupun nasional.  Untuk kelas unggulan setiap hari jumaat dalam  tiap minggu menjadi hari pendalam materi pelajaran yang berpotensi untuk dilombakan. Program seperti dilakukan untuk menjawab program pemerintah yaitu adanya olimpiade sains nasional yang diadakan setiap tahun. Kreatifitas program ini telah membuahkanhasil yang spektakuler yaitu 5 tahun terakhir Kara selalu meraih medali emas, perak dan perunggu pada tingkat nasional.  Keberhasilan inilah yang makin memantapkan Kara sebagai sekolah favorit versi masyarakat. Menyadari bahwa  kepintaran otak tidak cukup untuk menjadi manusi yang membebaskan maka diluncurkan juga program peningkatan kecakapan emosi siswa/I dengan menggalakan program karakter building dengan mendatangkan pembicaraan  dari luar yang berkompeten seperti para romo yang  menguasai pendidikan karakter, mendatangkan psikolog dari Universitas Parahiangan Bandung untuk mengedukasi bakat dan kemampuan siswa/I kelas  X, sehingga orang tuanya memahami kepribadian anaknya. Sedangkan untuk meningkatkan kepintaran spiritual, dilurncukran juga program rekoleksi untuk para murid dan guru setiap akhri semester, dan setiap hari selalu dimulai dan diakhiri dengan do’a bersama dikordidinir oleh OSIS.  Selain kegiatan intrakurikuler yang diuraikan diatas, juga kegiatan ekstra kurikuler seperti  Seni music, desain grafis, basket, volley, takrow, jurnalistik dan photografi. Sr Leoni menyadari, meningkatkan kwalitas siswa tidak bisa dilakukan dengan membiarkan gurunya memiliki kwalitas biasa-biasa saja. Karena itu beliau mendorong gurunya untuk melanjutkan pendidikan ke jenajng yang lebih tinggi yaitu magister. Hasilnya 8 orang guru Kara sudah bergelar magister dan beberapa orang lagi tengah mengikuti kuliah magister.  Ke empat, perbaikan dan peningkatan sarana dan prasaran pembelajaran. Ruang kelas dipercantik, bangku meja siswa yang memadai, ruang kelas ber AC, LCD setiap ruangan kelas, bahkan di depan kelas diletakan kursi mewah untuk para siswa. Kelima, lingkungan sekolah yang asri, memberi rasa aman dan nyaman sehingga warga Kara sungguh merasakan lebih nyaman berada disekolah sehingga kondisi untuk belajar lebih kondusif.

Tantangan ke depan.
Kita bangga, karena Kara hingga saat ini masih mendapat kepercayaan masyarakat untuk mendidik putra putri mereka, tentu saja tepat ita ucapakan terima kasih untuk itu.  Kompetisi didunia pendidikan menengah di Makassar saat ini sudah sangat luar biasa, baik dengan sekolah yang sudah lama bersama dengan Kara maupun pendatang baru dari Makassar sendiri maupun yang baru hadir dari luar dengan label internasional dan label-label lain yang lebih menarik minat masyarakat pengguna jasa pendidikan. Tanda-tanda kompetisi itu begitu ketat sudah mulai dirasakan Kara, lima tahun lalu ke bawah, Kara masih bisa menerima pendaftaran calon murid baru diatas 700 orang bahkan diatas 1000 orang. Mari kita renungkan trend pendaftar calon siswa/I baru 5 tahun terakhir:
NO    TAHUN    PENDAFTAR (ORANG)    DITERIMA (ORANG)
01    2009    565    395
02    2010    591    382
03    2011    556    426
04    2012    520    402
05    2013    500    388
06    2014    601    397
07    2015    749    477
 Sumber: Tata Usaha Kara, 4 Sept 2013 dan PSB 2014,2015
Dari data ini,  kita melihat trendnya stagnan atau kalau boleh dikatakan menurun, tentu saja kita bisa berargumen bahwa dampak dari pesaingan dengan munculnya banyak sekolah pesaing Kara, sehingga trend peminat Kara menurun. Tapi kalau menggunakan pendekatan konflik, maka ini  peringatan dini bagi seluruh warga Kara khususnya para guru, pimpinan sekolah, karyawan, dan Yayasan untuk lebih meningkatkan diri dalam pelayanan kepada masyarakat dalam berbagai aspek. Kita semua memilik tafsiran yang berbeda terhadap data yang ditampilkan diatas, apaun tafsiran kita, wajib kita menjawab pertanyaan berikut untuk direnungkan yaitu masihkah Kara Berjaya untuk 20 tahun yang akan datang? Apa saja yang perlu dilakukan untuk untuk mengantisipasi kondisi itu? Apa yang harus kita lakukan sekarang untuk menyongsong kondisi itu? Apa yang saya sumbangkan untuk Kara agar eksis untuk generasi selanjutnya?. Mari menjawab sesuai dengan porsi dan posisi kita masing-masing!  Masih banyak yang dibutuhkan Kara dari kita untuk kita sumbangkan kepadanya, sehingga dia bisa hidup 1000 tahun lagi. Dia membutuhkan system manajemen sekolah yang memadai, sehingga bisa dijadikan pedoman oleh generasi sesudah kita, pemberian  diri dan pelayanan yang tulus dengan menjauhkan diri dari prilaku asal atasan senang (AAS)dan mencari mukadidhadapan atasan , kerjasama yang haromonis dengan pihak gereja (hiraki) dan kerjasama dengan sekolah-sekolah katolik lain dalam satu region.

Referensi:
Alumni Kara,From  Past  till present, 2009
Daniel Goleman,Gramedia,Jakart,2007
Gatra News, 5 Mei 2008, diakses 4 sept 2013
Gale,Aurelius, Wawancara, 10 September 2013
http//www.aelovebel.com/2012, SMA terbaik di Indonesia, diakses 4 sept 2013
Hidu Katolik.com, 24agustus 2008, diakses 4 sept 2013
LPMP, dalam Kalteng Pos, edisi Juni 2013.
Catatan: sudah pernah dimuat di majalah "CHARA MAGAZINE"


Kamis, 09 Juli 2015

PUISI "MUNCUL SAATNYA"

Mungkin ini adalah tradisi
Setiap waktu-waktu akhir
Ada suatu ketenangan
Mungkin ini terlalu subjektif
Tapi ini yang kutangkap

Sebelum tutup usia
Hari ini aku lupa mencoret
Coret-moret di atas ruang
Aku lupa nasihat sang hari
kutulis ini pun saat yang lain

ah sudahlah...
Aku mau tenggelam
Sendirian
Sampai saatnya muncul

Oleh: Arkadus Ianuar Guntur_LudungKole.blogspot.com

(ditulis pada sebuah malam yang tenang di bawah kabut desa Mataloko, Ngada - Flores, NTT. Selasa, 26 Mei 2015) 



MENCARI HERUCOKRO DALAM ‘LUMPUR’GLOBALISASI



Kepengarangan
Remy Sylado adalah salah satu dari nama samaran yang digunakan oleh Japi Panda Abdiel Tambayong (samaran lain yang biasa digunakannya ialah Dova Zalit, Alit Danya Munsyi, Juliana C. Panda, dan Jubal Anak Perang Immanuel) . Pria ini lahir di tanah para penakluk lautan, Makassar, pada tanggal 12 Juni 1945.   
Remy juga dikenal sebagai seorang Munsyi (ahli di bidang bahasa). Dalam karya fiksinya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.
Ia memulai kariernya sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel (sejak usia 18), drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi.
Selain aktif sebagai penulis, dia juga aktif mengajar teater, senirupa, music, dan agama. Karya tulisnya banyak diterjemahkan ke bahasa Jerman, Australia, Belanda, Amerika, dan Jepang.
Karya-karya yang sudah dipublikasikan, antara lain. 
  • Orexas.
  • Gali Lobang Gila Lobang.
  • Siau Ling
  • Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa), 1999; diangkat menjadi film Ca Bau Kan yang disutradarai Nia di Nata dan dirilis tahun 2002.
  • Kerudung Merah Kirmizi, 2002
  • Kembang Jepun, 2003
  • Parijs van Java, 2003
  • Menunggu Matahari Melbourne 2004
  • Sam Po Kong, 2004?
  • Puisi Mbeling 2005
  • Rumahku di Atas Bukit
  • 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing
  • Drama Musikalisasi Tarragon "Born To Win"
  • Novel Pangeran Diponegoro

Filmografi
  • Pesta (1991)
  • Tutur Tinular IV (1992)
  • Capres (Calo Presiden) (2009)   
Hubungan Buku dengan Tema Aktual
Menurut Plato, suatu komunitas harus diperintah oleh individu yang lebih unggul. Indonesia telah menjalani masa penjajahan selama 350 tahun yang penuh dengan penderitaan (Soelaeman, M. Munandar. 2000.  Ilmu Sosial Dasar. Hal 148). Dalam hal ini apa yang dikatakan oleh Plato menjadi benar bahwa bangsa koloni (Belanda) memang memiliki keunggulan yang sangat menonjol dibandingkan dengan bangsa Indonesia.  Oleh karena itu, mereka memerintah komunitas Indonesia selama lebih dari 3 abad.
Seiring berjalannya waktu, perubahan masyarakat tradisional pun terjadi dalam jejak langkah menuju kemerdekaan. Perubahan menuju masa modern itu ditandai dengan perubahan pola pikir yang pada akhirnya dapat disatukan untuk menuntaskan penderitaan yang selama ini disebabkan oleh para penjajah. Hasil dari perjuangan para pahlawan kita waktu itu begitu terasa pada kata ‘merdeka’. Sayangnya, realita yang terjadi pada kehidupan masyarakat Indonesia abad ke 21 ini menjadi antitesis dari kemerdekaan. Kata ‘merdeka’ dijadikan pajangan dan hanya menjadi catatan sejarah yang disimpan rapi dalam lemari kaca yang dihias indah. ‘merdeka’ menjadi sebuah kata yang tidak bermakna di tengah arus globalisasi, karena saat ini masyarakat Indonesia kembali dijajah oleh arus global yang sering di-sama-artikan dengan perkembangan teknologi.
Teknologi yang berkembang pesat, meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Masa sekarang tampaknya sulit memisahkan kehidupan manusia dengan teknologi, bahkan sudah merupakan kebutuhan manusia. Awal perkebambangan teknik yang sebelumnya merupakan bagian dari ilmu atau bergantung dari ilmu, sekarang ilmu dapat pula bergantung dari teknik. (Soelaeman, M. Munandar. 2000.  Ilmu Sosial Dasar. Hal 217). Sungguh sangat disayangkan melihat realita miris yang terjadi pada zaman modern ini. Seolah rasa nasionalisme dan patriotisme para pejuang yang darahnya tertumpah ketika merebut kemerdekaan, digantikan perannya dengan teknologi. Dengan kata lain rasa kebangsaan kita sudah dibutakan oleh teknologi.
Menanggapi realita miris ini, Japi Tambayong (=Remy Sylado) mencoba mencambuki masyarakat Indonesia saat ini agar sadar dan kembali meresapi apa arti dari rasa kebangsaan. Melalui sosok Pangeran Diponegoro yang menjadi salah satu tokoh pejuang kemerdekaan yang cendekia dan mawas menanggapi zaman, Japi ingin menunjukkan betapa seorang pejuang dulu begitu meresapi arti dari kemerdekaan. Jika ditanyakan mengapa digunakan tokoh Pangeran Diponegoro, saya kira jawabannya adalah karena kita semua yang hidup di bumi Indonesia ini adalah seorang pejuang, kita adalah Herucokro. Namun, tidak bisa disangkal pula bahwa Japi mengundang kembali sosok pahlawan baru, sosok seorang Herucokro yang mampu mengatasi masalah-masalah politik, sosial, budaya, keamanan, teknologi, dan kemanusiaan yang terjadi terang-terangan di depan mata kita dan sampai detik ini masih menjajah bangsa Indonesia. Perihal undangan ini dapat dihayati lebih khidmat melalui judul bukunya ini, ‘…, Menggagas Ratu Adil.’           
  
Sinopsis
Menjadi seorang Ratu Adil merupakan satu tugas yang sudah mendarah daging dalam dirinya. Sejak masa kecilnya, di dalam dirinya sudah ditanamkan ilmu-ilmu nan luhur yang kiranya akan digunakannya nanti saat memimpin perang sucinya. Dia adalah Ontowiryo putra dari Gusti Raden Mas Suroyo. Awal perjumpaannya dengan penjajah Belanda saat umurnya masih sangat belia. Ketika itu ia sedang memancing di seberang kali Winongo di desa Tegalrejo, dan tiba-tiba muncul seorang Belanda. Spontan ia pun berteriak bahwa Belanda tersebut adalah setan.
Sejak kecil ia dibesarkan oleh eyang buyutnya, Ratu Ageng, istri dari Hamengku Buwono I. Eyangnya ini sangat ingin agar Ontowiryo menjadi Herucokro yang mampu membebaskan masyarakat bangsa Jawa dari kolonialisme dan imperialisme Belanda. Oleh karena itu, Ontowiryo disekolahkan di Perdikan Mlangi. Di sinilah Ontowiryo tumbuh semakin cendekia dalam usia yang masih belia.
Semakin hari, semakin tumbuh dan berkembanglah ia. Baik itu dalam hal iman yang eyangnya sendiri yang menjadi mandornya dan ilmu dari Perdikan Mlangi maupun dari buku-buku yang dibacanya. Demikian, pamannya, Pangeran Bei, melatihnya untuk mahir dalam bermain galah, pedang, keris, serta alat-alat perang lainnya. Semakin hari, ia semakin mahir. Tetapi, anehnya hatinya pun semakin merendah.
Di sisi lain, Patih Danurejo II berfoya-foya dengan persekongkolannya dengan Belanda. Dia membeberkan semua rencana perlawanan yang dibuat oleh Hamengku Buwono II. Namun, kepicikannya itu segera terbongkar. Orang dibalik itu semua adalah toleknya (=penerjemah bahasa) sendiri, Raden Mas Sunarko. Kala itu Danurejo II dan Raden Mas Sunarko sebagai tolek, serta Jan Willem Van Rijnst sebagai ilmuwan Belanda yang ahli juga dalam bahasa, membeberkan lebih luas rencana perlawanan Kraton kepada Gubernur Jendral Daendels. . Setelah pertemuannya dengan Gubernur Jendral baru, Herman Willem Daendels di Buitenzorg (Sekarang Istana Bogor), Danurejo langsung mendapatkan hadiah pahit ketika tiba di Kraton, sebab dia langsung ditangkap oleh Adipati Anom (Ayah Ontowiryo) dan dieksekusi mati dihadapan seluruh masyarakat Kraton. Semua ini dilakukan atas perintah Sultan Sepuh (Hamengku Buwono II) kepada Adipati Anom.
Lama setelah matinya Danurejo II, Daendels bersama seluruh pasukannya datang menuju Kraton dengan maksud untuk memakzulkan Sultan Sepuh. Hal ini juga merupakan hasil dari hasutan Residen Weise dan Van Rijnst. Namun, maksud kehadirannya tidak sejalan dengan perkiraan Sultan Sepuh. Dia berkipir bahwa, Gubernur Jendral Daendels datang untuk bersilahturahmi. Segera setelah tiba, Daendels memerintahkan pasukannya untuk segera menangkap Sultan Sepuh dan memakzulkan dia. Ontowiryo yang sempat hadir pun merasa sangat marah dengan kelakuan Gubernur tersebut. Hampir saja dia menyarangkan kerisnya ke leher Gubernur, syukurlah bahwa pamannya, Pangeran Mangkubumi, dan ibunya, Raden Ajeng Mangkarawati,  berhasil menahan amarahnya. Sultan Sepuh pun digantikan oleh anaknya Adipati Anom, dengan gelar Hamengku Buwono III, juga bahwa dia langsung ditunjuk oleh Daendels dihadapan semua warga Kraton untuk menggantikan ayahnya itu.
Sesuai dengan nazar yang pernah diberitahukannya kepada neneknya, Ratu Ageng. Ayah Ontowiryo. Dia akan memberikan gelar kepada Ontowiryo. Saat ditanyakan langsung oleh ayahnya itu, Ontowiryo ingin menggunakan nama moyangnya, Pangeran Sungkawa : Pangeran Diponegoro. Sejak saat itulah dia dikenal dengan nama barunya itu.
             
Penilaian
Keunggulan
·         Novel Sejarah
Novel yang ditulis oleh remy Sylado ini merupakan novel ilmiah yang seluruh isinya merupakan ulasan rinci kehidupan Pangeran Diponegoro. Dimulai dari masa kecilnya hingga masa saat Diponegoro menemukan makna kehidupan. Novel ini termasuk dalam novel dokumenter, karena melukiskan kembali sebuah sejarah. Novel ini menjadi representasi perkataan Soekarno saat pidato perdananya, “JAS MERAH” (=JAngan Sekali-sekali MElupakan sejaRAH). Dari sini, jelas bahwa Remy meng-amin-kan perkataan Soekarno, karena dengan adanya sejarah kita bisa hidup lebih baik di masa depan. Artinya, sejarah merupakan sumber reflektif yang paling baik terutama bila sejarah itu meninggalkan bekas luka yang cukup dalam. Joseph Campbell pernah berkata, “hanya bila kita jatuh ke dalam jurang, kita akan temukan harta kehidupan. Di tempat kita tersandunglah harta itu terletak. Gua dalam yang tidak berani kamu masuki sesungguhnya menjadi tempat yang selama ini kamu cari.” Sejarah kelam akan membangkitkan semangat kita untuk berubah ke arah yang lebih baik.
·         Bahasa Penulisan yang Unik
Dalam setiap karya tulisnya, Remy Sylado sering mengenalakan kata-kata bahasa Indonesia yang lama yang sangat jarang dipakai. Oleh karena itu, Remy dikenal sebagai Munsy atau ahli bahasa. Cara unik Remy ini menunjukkan secara gambling kecintaannya pada tanah air. Konsistensinya dalam menggunakan bahasa Indonesia yang jarang dipakai menggambarkan rasa nasionalisme dan patriotisme seorang pejuang bangsa. Penggunaan kata-kata tersebut juga membawa pembaca untuk lebih dalam menyelami kehidupan Pangeran Diponegoro. Dari sini pula, kita diajak untuk menumbuhkan kembali rasa nasionalisme seorang pujuang, Herucokro di zaman global ini. Memang sulit untuk meniru gaya Remy, tetapi setidaknya sejarah harus betul-betul diresapkan di dalam hati dan menunjukkan rasa nasionalisme dan patriotisme seorang Herucokro.
·         Sosok Herucokro yang tampak melalui sosok Pageran Diponegoro dan Sunan Kalijogo
Pangeran Diponegoro merupakan sosok Herucokro secara jasmani maupun rohani. Sejak kecil ia sudah dilatih untuk taat pada agama, terbukti dari pendalamannya di Perdikan Mlangi. Di sini, seperti halnya di sekolah, dia diajarkan ilmu-ilmu dasar yang membantunya berkembang ke arah kematangan iman. Nenek buyutnya pula turut membantunya dalam pembagunan imannya. Selain mahir dalam kerohaian, Diponegoro juga diajarkan oleh pamannya, Pangeran Bei dan Pangeran Mangkubumi, dalam hal penggunaan alat-alat perang. Pada tingkat kemahiran yang luar biasa yang juga diakui oleh kedua pamannya dan seluruh masyarakat di sana, Diponegoro justru merendah dengan menyucikan diri dengan bertapa. Sosok Herucokro ataupun Amirulmikminin Panatogomo Kalifatullah juga dibuktikan oleh Sunan Kalijogo dalam gagasannya mencipta Punokawan: Semar, Petruk, Gareng, Bagong, yaitu leluri Islam di atas leluri Hindu (Sylado, Remy. 2007. Novel Pangeran Diponegoro, Menggagas Ratu Adil. Hal 70)
·         Aspek-aspek kehidupan
Bijaksana. Seorang pemimpin harus bijaksana dalam bertindak, bersikap, mendengar, dan berkata. Aspek ini dapat ditemukan dalam sosok Ratu Ageng. Ratu Ageng adalah tokoh utama yang bergerak di balik layar. Dia memimpin Pangeran Diponegoro dan petinggi-petinggi lainnya di Kraton. Dia bersikap tegas menolak Belanda dan juga memberikan wejangan-wejangan yang sangat akurat untuk dilakukan oleh Diponegoro dan petinggi lainnya dalam menghadapi Belanda, tetapi sebagai tokoh yang berada di balik layar beliau tidak langsung adu fisik dengan Belanda. Seorang pemimpin harus bisa bijak dalam bertindak, bersikap, mendengar, dan berkata, seperti halnya ratu Ageng. Namun, sedikit penambahan pada keberanian untuk adu fisik dengan zaman ini juga suatu kreativitas yang patut ditambahkan.
Kejujuran. Dalam aspek ini, Raden Mas Sunarko menjadi sorotan utamanya, karena dapat diketahui dalam cerita bahwa dia sangat menjunjung nilai kejujuran. Terbukti dari eksekusi Patih Danurejo II. Dia adalah dalang dari keputusan tersebut. Dia sudah muak berada dalam permainan Danurejo II dengan Belanda, dan tidak sega-segan dia laporakan tindakan danurejo II itu kepada Ratu Ageng, Ontowiryo, Pangeran Bei dan Mangkubui, serta Hamengku Buwono II dan III. Menjadi pemimpin harus bisa tanggap terhadap setiap penipuan dengan sikap jujur. Jujur terhadap diri sendiri dan terhadap sesama.
Simpati dan empati. Ketika elihat mayat seorang petani yang sudah mulai membusuk di pematang sawah Ontowiryo lagsung menyuruh warga sekitar yang ketakutan untuk segera mengubur mayat tersebut secara layak. Pada bagian ini, secara tidak langsung Remy menggambarkan aspek simpati dan empati yang ditunjukka oleh Ontowiryo. Sang Herucokro ini merasa sangat marah ketika baru pulang dari pertapaannya menemukan salah seorang warganya tergeletak tanpa nyawa di pematang sawah dan membusuk adalah sikap simpati. Ketika ia memerintahkan warga untuk menguburkan mayat tersebut, dari sini dapat dilihat aspek simpati dan aspek empati. Merasakan dan bertindak adalah cirri khas yang digalang oleh sosok Herucokro ini, karena seorang Heruckro adalah sosok pemimpin yang harus bisa mendengarkan suara-suara kecil masyarakat yang bisu.
Tegas. Pada aspek ini, Remy tampaknya membuka ruang untuk pemeran antagonis, Herman Willem Daendels. Walaupun hadir dalam balutan tokoh yang jahat, tetapi nilai ketegasan merupakan nilai positif yang berhasil dibangunnya. Terbukti ketika pembuatan jalan raya Anyer-Panurukan, Daendels begitu tegas pada setiap perintahnya.
Berani untuk belajar. Tokoh antagonis kali ini adalah Van Rijnst. Dia menjadi sumber inspirasi para pemimpin untuk terus belajar. Ia adalah ilmuwan Belanda yang menurut Raden Mas Sunarko adalah ‘kutu loncat’, mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar. Terbukti dari kemampuannya untuk berbahasa Jawa, padahal ia baru tiga bulan di sana.     

Kekurangan
·         Kualitas Kertas
Kertas yang digunakan dalam novel Remy ini merupakan kertas daur ulang yang notabenenya berlatar gelap. Sehingga tulisan yang dicetak hitam menjadi sedikit sama dengan latarnya. Walaupun penggunaan kertas daur ulang ini adalah salah satu bentuk kepedulian lingkungan, tetapi ketika kepedulian itu menimbulkan masalah maka akan ada keluhan meskipun itu sedikit.   
·         Gelar Tokoh
Sebagai novel sejarah yang mempunyai tingkat akurasi waktu dan peristiwa yang bisa dipercaya, sudah sepantasnya Remy menuliskan apa adanya menurut sejarahnya. Namun, satu hal yang saya kira perlu diingat, yakni bukunya ini adalah novel. Novel mempunyai sifat menghibur. Oleh karena itu, sebaiknya nama ataupun gelar yang dipakai sebaiknya tidak terlalu banyak ataupun terlalu panjang. Seperti halnya Pangeran Diponegoro yang mempunyai nama Ontowiryo, Seh Ngabdulrohim, dan gelarnya Pangeran Diponegoro.  
·         Glosarium
Penggunaan kata-kata Arkai yang dipakai oleh Rey Sylado dalam setiap novelnya memang merupakan satu keunikan dan keunggulan dalam tulisannya. Namun, satu hal yang saya kira dilupakan oleh Remy adalah glosarium. Penggunaan kata-kata Arkai yang terlampau banyak dapat menyebabkan kebingungan bagi para pembaca. Bahkan pernah disampaikan oleh Rika Yunita dalam blog-nya yang mengupas tentang biografi Remy Sylado yang diposkan Selasa, 8 Mei 2012, demikian, “bahkan penggunaan kata istilah yang ada dalam karya tulis beliau belum tentu ada di kamus Bahasa Indonesia, sebab beliau menggunakan istilah kata dari beragam bahasa, seperti Bahasa Sansekerta, Jawa, Sunda, Menado, Betawi, Ambon, dan beberapa bahasa asing lainnya.”  
·         Latar Tempat
Latar tempat yang disajika dalam novel ini tidak dirincikan secara jelas. Sperti halnya desa Tegalrejo. Tempat ini tidak digambarkan letaknya secara jelas. Seperti letaknya di Pulau Jawa, berbatasan dengan apa, dan sebagainya. Hal ini menyulitkan para pembaca yang belum pernah menelusuri Pulau Jawa, juga akan mengalami kesulitan untuk lebih dalam menyelam ke dalam sejarah tempat tersebut.   

 Kesimpulan
Kebanyakan dari kita pernah belajar dan merasakan perubahan. Namun, berubah bukanlah suatu hal yang mudah. Begitu pula yang terjadi dalam sejarah Indonesia. Perubahan masyarakat tradisional ke arah modern menimbulkan pergeseran peran serta fungsi lama ke yang baru. Pergeseran-pergeseran tersebut melahirkan teori-teori baru dalam kehidupan bangsa. Namun, pada intinya kita tidak akan dihukum oleh perubahan, melainkan dididik. Kejadian apapun berpotensi mengubah diri kita. Demikian pula, setiap musibah berpotensi besar mengubah pemikiran. Bertindaklah seolah-olah setiap peristiwa memiliki tujuan, sehingga kamu juga mempunyai tujuan hidup. Ketahuilah mengapa kamu memerlukan pengalaman, mengatasinya sehingga kamu tidak memerlukannya lagi.
Berbicara tentang perubahan yang dialami oleh Indonesia, sosok Pangeran Diponegoro tampil sebagai Herucokro yang membawa perubahan besar dalam sejarah Indonesia. Perubahan yang nantinya menyesakkan napas Belanda ini berupa perang Diponegoro yang dilatarbelakangi oleh kemarahan warga dan Pangeran Diponegoro terhadap tingkah laku Belanda yang sewenang-wenang.
Mencari Herucokro dalam ‘lumpur’globalisasi. Frank LIoyd Wright pernah mengatakan, “segalanya tercapai kalau kamu yakin; keyakinanlah yang membuat segalanya tercapai.” Bertolak dari pernyataan Wright ini, Remy Sylado menampilkan sosok Diponegoro sebagai Herucokro yang dinanti-nantikan dan diyakini kemampuannya, baik oleh keluarganya maupun masyarakat Kraton dan Tegalrejo. Dia adalah Ratu Adil yang akan menyelamatkan masyarakatnya dari cengkraman Belanda. Berkaitan dengan ini, Remy yakin bahwa di dalam ‘lumpur’globalisasi yang menenggelamkan masyarakat Indonesia, aka nada seorang Herucokro yang mampu membersihkan masyarakat dari lumpur-’lumpur’globalisasi. Keyakinannya ini sekiranya sudah mendapatkan titik terang ketika muncul sosok pemimpin modern yang membersihkan sedikit ‘lumpur’tersebut. Sosok-sosok ini adalah Joko Widodo dan Tri Rismaharini.
Sosok Pangeran Diponegoro yang bijaksana terlihat dalam keputusan Jokowi yang tidak mengangkat anggota-anggota partai sebagai menteri-menterinya, tetapi justru mengangkat para wirausahawan/i. Hasilnya sekarang sudah bisa dirasakan. Sebut saja contohnya adalah Menteri Kelautan, Ibu Susi. Kapal-kapal asing yang masuk daerah Indonesia dan menangkap flora maupun fauna laut Indonesia langsung ditenggelamkan, dan saat ini para pelaut di Indonesia mulai melihat kembali cahaya di laut mereka.
Sosok Diponegoro yang selalu memperhatikan rakyat dapat ditemukan dalam diri Tri Rismaharini. Wanita dengan julukan Wagiman- Wanita gila taman- ini berhasil menghijaukan kota Surabaya. Kota Surabaya yang dulunya ber-‘lumpur’ kini menjadi kota hijau.
Keyakinan Remy Sylado ini memang sudah membuahkan hasil. Namun, hasil ini masih sangat sedikit, dibandingkan dengan ‘lumpur’ yang ada di masyarakat. Cambukan yang dibuat oleh Remy  dalam Novel Pangeran Diponegoro,… ini menuntut generasi muda untuk bisa memproduksi lebih banyak lagi Herucokro-herucokro layaknya Diponegoro. Kita harus belajar dari pengalaman. JAS MERAH!
   
 Rekomendasi
Novel sejarah yang ditulis oleh Remy Sylado ini sangat cocok bagi para remaja yang ingin hidupnya dipersembahkan untuk menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. Selain itu, cocok juga bagi para pembaca yang ‘katanya’ anti sejarah, karena novel Remy ini dikemas sedemikian rupa sehingga menarik untuk dibaca. Bahkan, sekali baca dapat menyebabkan ketagihan untuk menelusuri sejarah lebih jauh. 


ARKADUS IANUAR GUNTUR, Sudah diikutsertakan dalam lomba resensi pada seminari menengah Mataloko, 5 Mei 2015 dalam rangka harkitnas.