Tanggal bersejarah dalam perjuangan hidupku adalah 19 Maret 2016, hal ini terkait dengan perayaan 25 tahun pengabdianku di Yayasan Joseph Yeemye, meski sebetulnya pencapaian 25 tahun itu sudah terjadi pada 1 Juli 2015. Artinya 19 Maret 2016 adalah perayaan seremonial saja, karena sesungguhnya tahun 2016 pengabdianku disini (Chara) sudah 26 tahun. Entah sebuah kebetulan atau karena memang sengaja dirancang oleh Yayasan bahwa perayaan hari bakti Yayasan dibuat sedemikian wah, dimana seluruh unit persekolah Yayasan Joseph Yeemye se sulselra di kumpul di Makassar, mulai dari Raha, Pomalaa, Toraja, dan tentu saja Makassar sendiri. Dua mata acara yaitu Retret suci yang berlangsung di Malino, dibawah bimbingan Rm Tery Panomban yang luar biasa, dilanjutkan di Makassar dengan mata acara hasil evalusi dari tim evaluator terhadap kinerja sekolah-sekolah dibawah naungan Yayasan Joseph Yeemye seSulSelRa. Tiba juga giliranku untuk berbagi dengan teman-teman guru TK - SMP dari luar Makassar, untuk berbagi model pembelajaran yang atraktif untuk menarik minat para siswa dalam menerima pelajaran yang diberikan para guru. Model belajar yang kutemukan adalah model pembelajaran ESTAFET. Rupanya menarik minat para peserta yang kurang lebih 100 orang, hal ini dibuktikan dengan antusiasnya peserta bertanya. Saking banyaknya pertanyaan membuatku tambah antusias juga untuk mengeksplor lebih jauh tentang model pembelajran ini. Peserta sangat antusias untuk menerapkan model pembelajaran ini, setelah pulang dari Makassar. Selamat yah.....teman-teman, ini dipraktekan kepada siswa/i, jangan masuk di saku saja, tutup saat mengakhiri sesi ku.
Berpikir, syukuran telah selesai, lalu selanjutnya melanjutkan hidup, dengan mengabdi kepada Chara ya, tapi usia pengabdian di Chara terbatas, hingga usia 60 tahun. Setelahnya apa yang hendak ku buat? Ah melanjutkan hobiku yaitu membuka usaha kecil-kecilan. Usaha konvensional, berbeda dengan dunia usaha yang selama ini ku tekuni yaitu multi level marketing. Berpikir keras, kira-kira usaha konvensional apa yang cocok. Untuk mewujudkan pikiran ini, dicoba menjual minuman dingin Ziger yang kebetulan masih dalam grup MLM CNI. Maka pada acara Fancyfair Chara 2015, kelas kami menjual minuman ini, hasilnya sangat luar biasa. Murid-muridku menggoda, bagus kalau pak guru membuka usaha ini, minumman ini sangat enak, menyegarkan dan menyehatkan, karena semua bahan bakunya alamiah, halal, dapat izin dari Depkes RI.
Tgl 8 Desember 2015, melakukan eksen perdana, dengan lokasi dipinggir jalan Lamadukeleng, pintu tengah masuk Chara. Penjualannya lumayan bagus, hingga pertengahan Maret 2016, hampir tercapai titik impas modal atau orang bisnis katakan capai BEP. Kami sekeluarga sangat bersemangat, karena respon pasar terhadap minuman sangat bagus. Muncul masalah baru yaitu kami harus mencari tenaga untuk membantu jualan ini lebih baik. Maka tanggal 18 Januari 2016, kami mendapat seorang ibu, Eda diberi nama. Penjulan hingga 12 Maret 2016, meningkat secara signifikan setiap hari, kami bertambah semangat lagi, sehingga memesan satu both lagi untuk dtempat di SMAK Cenderwasih.
Tanggal 14 Maret 2016, SatPol PP Kodya Makassar, merasia pedagang K5 disepanjang jalan lamadukeleng. Gerobak kami jadi target utama, dibredel. Tuhan rupanya masih sayang kami, salah seorang anggota SatPol PP menghampiri ibu Eda, dan mengatakan hentikan menjual karena banyak rekannya dalam perjalanan untuk merazia semua penjuak K5 di jalanan dalam rangke penertiban perayaan Adipura kota Makassar. Benar saja, 30 menit kemudian puluhan anggota SatPol PP, datang dan menyita seluruh barang milik pedagang K5, termasuk kami. Gerobak kami segera masukkan dalam halaman sekolah dibantu oleh SatpAm SMA bpk Frans bersama ibu Eda. Sayangnya terpal kami yang besar tak bisa kami selamatkan, dan dissita oleh SatPol PP.
Pasca pembredelan tersebut, kami terguncang hebat, terutama ibu Rosalia, yang setiap saat berjualan bersama ibu Eda. Kita sudah habis........,kasian, dimana lagi kita menjual, sementara dalam kantin sekolah belum diijinkan untuk menjual. Setiap hari ibu Rosa sering uring-uringan dan meminta kepadaku agar gerobak tersebut biar dijual saja. Saya hanya terdiam, sambil berpikir keras apakah setuju untuk dijual atau mencari lokasi lain. Saya mencoba menenangkan beliau, bahwa resiko seorang usahawan adalah seperti itu. Jadi tak boleh putus asa. Kami mencoba untuk meminta bantuan dari pemilik rumah makan samudera, untuk numpang sementara, dan puji Tuhan beliau menerima kami dengan tangan terbuka tanpa kompensasi apapun. Sayang hasilnya tak seperti apa yang diharapkan. Kami semakin tertekan karena sebelum pembredelan oleh satpol PP, kami sudah pesan satu booth lagi, dan standby di rumah. Kami sudah mencoba untuk melobi 3 tempat untuk kami pakai sebagai tempat jualan, yaitu SMA Katolik Cenderwasih, SMA Katolik Frater dan Univ. Atmajaya Makassar. Dari ketiga tempat tersebut yang menerima kami adalah SMA Kato dan Frater. Kedua tempat ini hingga saat ini tetap terbuka untuk menerima kami, sayangnya prospek usaha pada kedua tempat ini, kurang bagus karena jumlah siswa yang belum signifikan, juga daya beli siswanya belum memadai.
Awal April 2016, kami melanjutkan lobi dengan Ibu Sarche di BPLP Barombong, setelah sebelumnya dilobi oleh ananda Ponsianus. Hasilnya kami dizinkan menjual disana, ikut nebeng pada Dharmawanita BPLB. Baru seminggu kami menjual, tiba-tiba tanggal 14 April 2016, ada perintah agar para penjual segera hentikan penjualannya karena kantin akan segera direnovasi. Tgl 15 April kami menghadap Bp Yuvens, untuk minta izin menjual di samping kantor Polisi Shabara, depan SMP Katolik Rajawali. Beliau menerima kami dengan tangan terbuka dengan sejumlah syarat yaitu harus membayar uang listrik sebulan Rp 600.000,- Setelah kami sepakat, maka tanggal 18 April 2016, kami mulai menjual disana.
Tuhan menjawab doa kami.
Tanggal 18 April dan tanggal 26 April adalah hari kiriman kado Paskah dari Tuhan untuk usaha kami. kedua tanggal tersebut titik balik dari usaha kami, dimana tgl 18 gerobak kami bisa jualan di dekat kantor Polisi, dan tanggal 26 April, yayasan mengizinkan kami untuk menjual dalam kantin SMAK Rajawali dengan ageemen lisan, bahwa Gerobak tersebut jualan tersebut milik Yayasan dan setiap hari menyisihkan 20% dari total penjualan harian diserahkan ke Yayasan. Sujud syukur tak terhingga kepada Tuhan atas rancanganNya yang indah pada waktunya.
Cobaan datang lagi, tanggal 18 Mei 2016, tiba-tiba dapat pemberitahuan bahwa seluruh penjual di area kepolisian jalan Arif Rate, dihentikan, karena ada perintah dari Kapoltabes Makassar. Ah.... apa lagi rencana Tuhan untuk usaha ini.... entah lah.... biarlah laksana air mengalir ikut rencanaNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar