Usia chara sudah lebih dari 60
tahun, saat ini tengah menikmati usia emas. Usia emas adalah terminologi yang
kerap digunakan oleh seseorang atau lembaga dalam pencapaian yang sudah dicapai
berkat perjuangan yang sudah dilakukan pada masa-masa sebelumnya. Perjuangan
itu tentu saja penuh dengan tantangan yang luar biasa beratnya sehingga
pencapaian pada masa 50 tahun dipandang sebagai masa puncak hidup atau karier
atau usia seseorang. Itulah sebabnya ada istilah pesta emas, dalam pernikahan
dari sebuah kelurga misalnya. Ada dua
arah yang didapat oleh suatu lembaga atau orang dalam usia seperti ini, ada yang
mendapat hasil yang baik secara signifikan tetapi ada juga yang memperoleh
hasil sebaliknya terbenam atau terkenang.
Dalam konteks itulah seharusnya 50 tahun harus menjadi tahun refleksi
bagi orang atau lembaga untuk berbenah lebih baik atau sebaliknya memperbaiki
diri untuk menjadi lebih baik.
Chara berenang di laut merah?
Berenang
di laut merah diperkenalkan oleh pakar manajemnen Indonesia Rhenald Kasali
untuk melukiskan kompetisi dalam dunia usaha dimana persaingan antara satu perusahaan
dengan perusahaan lain saling menjegal dan mengahsilkan yang satu keluarga
sebagai pemenang dengan mematikan perusahaan yang lainnya. Keberhasilan sebuah perusahaan ditentukan
oleh seberapa kuat di mematikan perushaan pesaing sehingga membuatnya tak
berdaya alias mati. Kematian dipihak
lain menjadikan perusahaan pemenang sebagai perusahaan disegani, dihormati
bahkan dijadikan rol model oleh perusahaan lain. Karena itu hasil dari
kompetisi ini demikian luar biasa hancurnya, baik owner maupun para
karyawannya. Dalam kompetisi model ini
segala macam cara dihalalkan, tidak lagi berpijak pada prinsip kemanusiaan,
yang terpenting bagaimana mengalahkan lawan supaya tidak berdaya bahkan harus
lenyap. Berenang dilaut merah digambarkan oleh Publius
Flavius Vegetius Renatus: bahwa manusia dalah serigala bagi manusia lain karena
itu kalau mau damai siaplah untuk perang (Civis pacem parabellum). Ciri khas
kompetisi berenang dilaut merah adalah senang kalau kompetitor hancur/lenyap,
menghalalkan segala cara untuk menghancurkan lawan, tidak mau mengakui
kehebatan lawan, selalu berusaha mencari tahu kelebihan dan kekurangan lawan dengan sistem spionase,
mengabaikan kualitas, tidak mengakui kelemahan, menutup kelemahan dengan
praktek kolusi dan nepotise.
Chara berenang di laut biru?
Semenjak perpisahannya dengan SMA
Kato, Chara secara terus menerus berusaha untuk meningkatkan citranya dengan
baik selevel dengan sekolah induknya Kato. Usaha itu dimulai dari pembenahan
sarana dan prasarana hingga pada peningkatan sumber daya tenaga kependidikan. Upaya
itu salah satunya adalah pada tahun 1967
seorang guru legendari Chara Enock Kumendong diterima untuk menjadi tenaga
pendidik oleh suster Alphonse. Suster juga dikenal sebagai kepala sekolah legendaris Chara yang
terkenal dengan disiplinnya. Beliau menerima pak Enock sebagai pendidik yang
sangat mendukung kedisiplinanan yang
ditanamkan oleh suster Alphonse. Kedisiplinan yang ditanamkan suster Alphonse
dikenang juga oleh para murid, sebagaimana dilukiskan oleh alumni Chara yang
kini menjadi salah seorang guru besar Universitas Negeri Makassar, Prof.Dr.
Hajah Rubiatun Idris, yang mengatakan” jika suster berdiri dihadapan anak-anak
muridnya, tak ada yang berani bicara, semua diam” keteladanan beliau yang
jarang bicara tapi tegas dalam mengambil tindakan menjadi karisma yang luar
biasa pada pribadi beliau.
Tahun 1980, usaha untuk
melepaskan diri dari Kato benar-benar terwujud setelah dikeluarkannya surat
izin dari diknas untuk menyelenggarakan pendidikannya sendiri tanpa berafiliasi
dengan Kato. Secara legalitas Chara baru didirikan tahun 1980. Pasca berdikari
Chara mengeluarkan strategi perbaikan citra untuk melepaskan diri dari
bayang-bayang ketenaran induknya. Untuk memuluskan strategi tersebut cultur
sekolah diperkenalkan kepada pendidik dan para murid. Usaha itu terus menerus
dikalakukan tanpa henti, meski mendapat resistensi dari segelintir siswa. Hasil
dari konsistensi tersebut berbuah manis, tingkat kepercayaan masyarakat
terhadap Chara meningkat secara singnifikan.
Sebagai sekolah yang dibidani
oleh tarekat JMJ, ciri khas JMJ harus ditampilkan ke permukaan seperti
Disiplin, Jujur, adil, ramah tamah, berintegritas, adil, terus meneruskan
digaungkan sehingga seluruh civitas akademika wajib melaksanakan itu dan yang
menjadi rol model adalah kepala sekolah. Tahun 1990 an perbaikan sarana
pembelajaran dilakukan.dengan membangun gedung baru dan perbaikan gedung lama
yang sudah tidak memadai. Penerimaan
tenaga guru dan karyawan juga diseleksi secara ketat tanpa melihat latar
belakang suku, etnis, dan agama. Demikian juga penerimaan murid baru, diseleksi
secara ketat tanpa memperhatikan latar
belakang entitias sosial dan budayanya. Kecuali satu hal yaitu ratio antara
laki-laki dan perempuan harus lebih banyak perempuan.
Tahun 2000 an keatas buah
perjuangan chara sudah menampakan hasil yang sangat manis, minat masyarakat
untuk menyekolahkan anaknya ke Chara
meningkat secara signikan, dari
hanya satu kelas saat didirikan, 3
kelas, dan tahun 1967 6 kelas, tahun
2000 an menjadi 19 kelas, dan kini Chara sudah berjumlah 30 kelas mulai dari
kelas I hingga kelas III (X – XII). Sebuah perkembangan yang membanggakan.
Tingkat kepercayaan masyarakat seperti ini, adalah akumulasi dari strategi jitu
yayasan dan kepala sekolah, dimana tenaga pendidik dikirim untuk mengikuti
pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan
oleh perguruan tinggi, dinas pendidikan bahkan didorong untuk mengambil
program magister. Pada saat yang sama charakter JMJ disosialisasikan secara
terus menerus kepada para suster, para pendidik, karyawan bahkan kepada pada
peserta didik. Tahun 2014 secara resmi CharakterJMJ harus diguanakan pada
setiap unit aktivitas JMJ baik unit pendidikan maupun kesehatan. Adapun Charakter tersebut adalah tanggap,
kasih sayang, adil, integritas, ramahtamah, disipin, kretif, tanggung jawab,
rasa hormat. Inilah babak baru perjalan Chara dekade selanjutnya.
Pandangan Chara terhadap institusi
pendidikan lain.
Relasi Chara dengan sekolah induk
mengalami pasang surut pasca memisahkan diri. Hal ini dimaklumi karena
mercusuarnya juga berbeda yang induk dibawah naungan keuskupan, yang filial
dibawah naungan tarekat JMJ. Ada masa pasang, dimana suster JMJ diminta untuk
menahkodai Kato, maka relasi keduanya
harmonis seperti diadakannya acara
pertandingan persahabatan. Tapi ada juga surutnya dimana suster JMJ menarik
diri dari sana karena perbedaan charater dalam melaksanakan tugas. Perbedaan
inilah yang dimaksud mengalami pasang surut. Meski demikian, relasi Kato dan
Chara hingga kini berjalan baik-baik saja. Demikian juga dengan sekolah-sekolah
lain, Chara menjalin relasi dengan baik, hal ini terwujud dalam masuknya Chara
sebagai salah satu anggota asosiasi sekolah swasta kota Makassar. Bagaimana
dengan sekolah negeri? Buat Chara sekolah negeri dan swasta adalah mitra
sejajar, tempat belajar untuk lebih baik, lebih baik lagi. Karena itu mereka
semua mitra yang harus berdiri sejajar, tak boleh saling mensubordinasi apalagi
dikotomi sekolah swasta dan negeri, karena mencerdaskan bangsa bukan saja
tanggung jawab pemerintah tetapi masyarakat secara umum (yayasan swasta). Dari uraian diatas mari kita bermenung, Chara
berenang dilaut merah atau laut biru? Terserah kita semua dan semoga
bermanfaat.


