Paradigma
lama, mengatakan bahwa dunai peneltian
adalah dunia perguruan tinggi, sekarang
harus ada terobosan sejak dini, SMA harus mulai melakukan peneltian,
mengapa demikian ya, agar tidak gagap di perguruan tinggi, dan juga di perguruan
tinggi tinggal diperdalam. Memang Sulawesi
selatan belum terbiasa, pada hal secara nasional DikNas sudah mendorong siswa /I untuk melakukan penelitian. Banyak hasilnya, seperti
bagaimana siswa/I di P Jawa melakukan peneltian” Jus yang terbuat dari biji
Mangrov”, Pengemis digrobogan yang mendapat
penghasilan Rp 100.000,-/hari. Biji
rambutan lebih tinggi kwalitas gizinya dibandingkan dengan Tempe dan lain-lain.
Mereka menulis dalam rangka mengikuti olimpiade
penelitian Nasional yang diadakan oleh Mendiknas. Sayangnya dikNas
Sulawesi selatan belum mendorong ini ke sekolah-sekolah untuk dilakukan.
Guru berperan untuk memotivasi,
memberi dorongan, menjadi konsultan dalam
melakukan penlitian dengan ilmu yang
diperolehnya saat belajar di perguruan tinggi.
Selain itu memang guru wajib memahami
dunia penelitian, karena tuntuan kurikulum menghendakinya khususnya mata
ajar sosiologi.
Sampel yang diambil tak boleh jauh-jauh,
karena kegiatan peneltian ini terintegras dengan kegiatan kurikuler, dalam
konteks peneltiain yang dilakukan siswa/I SMA Katolik Rajawali, populasi dan
sampelnya adalah siswa/I SMA Katolik sendiri.
Penelitian ini melibatkan kelas dua belas saja, akan tetapi konsep penelitiannya sudah diberikan pada
saat mereka kelas sepuluh melalui mata
ajar Karya Ilmiah Remaja (KIR). Hal ini dilakukan agar ketika mereka kulih
urusan makalah dan menyusun karya tulis itu sudah menjadi hal yang biasa.
Hasil
peneltian ini digunakan untuk kepentingan siswa/I setelah menyelesaikan studi di SMA
Katolik Rajawali saat di perguruan
tinggi. Dan yang terpenting adalah untuk kami pakai di sekolah, seperti
penguatan aturan sekolah. Contohnya dua tahun sebelum sekarang ini, siswa/I
melakukan penelitan dengan judul “
Pengaruh penggunaan HP di sekolah terhadap prestasi belajar siswa di SMA
Katolik Rajawali”. Hasilnya tidak signifikan, karena itu disarankan, boleh
membawa HP ke sekolah, tapi harus disimpan dilocker kelas, dan stelah selesai
pelajaran, boleh diambil kembali.
Demikian juga saat ini, sekelompk siswa
melakukan penelitian dengan judul “ Prilaku School Bullying terhadap siswa/I
SMA Katolik Rajawali ” yang melibatkan 5 orang siswi. Tema yang diangkat adalah
pengaruh prilaku school bullying
terhadap tata pergaulan siswa/I
SMA Katolik Rajawali tahun 2012. Mereka
mengambil sampel sejumlah seratus orang dari
seribu orang populasi dan semuanya adalah sisw/I SMA Katolik Rajawali.
Metode yang digunakan dalam peneltian
mereka adalah wawancara dan penyebaran angket sesuai dengan kriteria yang sudah
ditentukan. Hasil wawancara dan angket
disandingkan dan ternyata apa yang ditemukan dalam wawancara juga didukung oleh
hasil angket.
Hasil penelitiannya mencengangkan, ternyata
sekolah sedisiplin SMA Katolik Rajawali masih ada prilaku school bullying,
meski dalam taraf iseng, seperti membentak adik kelas oleh kakak kelas,
persaingan. Meski demikian ini kan masukkan yang berharga bagi sekolah, agar ke
depan harus meperhatikan hal ini, karena prilaku kekerasan kerap berawal dari
hal-hal sepele seperti iseng.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar