Selasa, 06 Oktober 2015

DUNIA RISET PERLU DIPERKENALKAN SEJAK DINI

 
 Penelitian yang dilakukan oleh siswa/I   dimaksudkan untuk melatih sejak dini dunia peneltian kepada para siswa  sehingga ketika melanjutkan studi ke perguruan tinggi mereka sudah terbiasa untuk melakukannya.  Harus diakui bahwa didunia perguruan tinggi baik tingkat madya, strata, magister maupun  doctor, tuntutan pembuatan karya tulis  merupakan keharusan mutlak untuk dilakukan. Penulisan makalah, skripsi, tesis, disertasi mejadi momok yang menakutkan didunia pendidikan tinggi khususnya pada level madya dan strata. Kejujuran ilmiah kerap dikesampingkan oleh para calon sarjana, dengan cara memmbayar  orang lain untuk menulis karya tulisnya dalam rangka penyelesaian studinya. Menyedihkan, karena seorang calon intelektual malas menajamkan intelektualitasnya dengan mencari jalan pintas. Selain itu jumlah peneliti di Indoensia masih sangat rendah dibandingkan dengan Malaysia. Malaysia, setiap tahun mampu menerbitkan buku enam ribu hingga tujuh ribu( Dr Eng Mikrajuddin Abdullah,2004). Atas dasar kondisi ini, maka guru membimbing siswa/I SMA Katolik Rajawali untuk melakukan penelitian sejak awal yaitu SMA.
                Paradigma lama,  mengatakan bahwa dunai peneltian adalah dunia perguruan tinggi, sekarang  harus ada terobosan sejak dini, SMA harus mulai melakukan peneltian, mengapa demikian ya, agar tidak gagap di perguruan tinggi, dan juga di perguruan tinggi tinggal diperdalam.  Memang Sulawesi selatan belum terbiasa, pada hal secara nasional DikNas  sudah mendorong siswa /I untuk melakukan  penelitian. Banyak hasilnya, seperti bagaimana siswa/I di P Jawa melakukan peneltian” Jus yang terbuat dari biji Mangrov”,  Pengemis digrobogan yang mendapat penghasilan Rp 100.000,-/hari.  Biji rambutan lebih tinggi kwalitas gizinya dibandingkan dengan Tempe dan lain-lain. Mereka menulis dalam rangka mengikuti olimpiade  penelitian Nasional yang diadakan oleh Mendiknas. Sayangnya dikNas Sulawesi selatan belum mendorong ini ke sekolah-sekolah untuk dilakukan.
Guru berperan untuk memotivasi, memberi  dorongan, menjadi konsultan  dalam
melakukan penlitian dengan ilmu yang diperolehnya saat belajar di perguruan tinggi.  Selain itu memang guru wajib memahami  dunia penelitian, karena tuntuan kurikulum menghendakinya khususnya mata ajar sosiologi.
Sampel yang diambil tak boleh jauh-jauh, karena kegiatan peneltian ini terintegras dengan kegiatan kurikuler, dalam konteks peneltiain yang dilakukan siswa/I SMA Katolik Rajawali, populasi dan sampelnya adalah siswa/I SMA Katolik sendiri.
Penelitian ini melibatkan kelas  dua belas saja, akan tetapi  konsep penelitiannya sudah diberikan pada saat mereka kelas sepuluh melalui  mata ajar Karya Ilmiah Remaja (KIR). Hal ini dilakukan agar ketika mereka kulih urusan makalah dan menyusun karya tulis itu sudah menjadi hal yang biasa.
Hasil  peneltian ini digunakan untuk kepentingan  siswa/I setelah menyelesaikan studi di SMA Katolik Rajawali  saat di perguruan tinggi. Dan yang terpenting adalah untuk kami pakai di sekolah, seperti penguatan aturan sekolah. Contohnya dua tahun sebelum sekarang ini, siswa/I melakukan penelitan  dengan judul “ Pengaruh penggunaan HP di sekolah terhadap prestasi belajar siswa di SMA Katolik Rajawali”. Hasilnya tidak signifikan, karena itu disarankan, boleh membawa HP ke sekolah, tapi harus disimpan dilocker kelas, dan stelah selesai pelajaran, boleh diambil kembali.
Demikian juga saat ini, sekelompk siswa melakukan penelitian dengan judul “ Prilaku School Bullying terhadap siswa/I SMA Katolik Rajawali ” yang melibatkan 5 orang siswi. Tema yang diangkat adalah pengaruh prilaku school bullying  terhadap  tata pergaulan siswa/I SMA Katolik Rajawali tahun 2012.  Mereka mengambil sampel sejumlah seratus orang dari  seribu orang populasi dan semuanya adalah sisw/I SMA Katolik Rajawali.
Metode yang digunakan dalam peneltian mereka adalah wawancara dan penyebaran angket sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. Hasil  wawancara dan angket disandingkan dan ternyata apa yang ditemukan dalam wawancara juga didukung oleh hasil angket.
Hasil penelitiannya mencengangkan, ternyata sekolah sedisiplin SMA Katolik Rajawali masih ada prilaku school bullying, meski dalam taraf iseng, seperti membentak adik kelas oleh kakak kelas, persaingan. Meski demikian ini kan masukkan yang berharga bagi sekolah, agar ke depan harus meperhatikan hal ini, karena prilaku kekerasan kerap berawal dari hal-hal sepele seperti iseng.

Tidak ada komentar: