Minggu, 18 Oktober 2015

CHARA BERENANG DI LAUT MERAH ATAU BIRU



Usia chara sudah lebih dari 60 tahun, saat ini tengah menikmati usia emas. Usia emas adalah terminologi yang kerap digunakan oleh seseorang atau lembaga dalam pencapaian yang sudah dicapai berkat perjuangan yang sudah dilakukan pada masa-masa sebelumnya. Perjuangan itu tentu saja penuh dengan tantangan yang luar biasa beratnya sehingga pencapaian pada masa 50 tahun dipandang sebagai masa puncak hidup atau karier atau usia seseorang. Itulah sebabnya ada istilah pesta emas, dalam pernikahan dari sebuah kelurga misalnya.  Ada dua arah yang didapat oleh suatu lembaga atau orang dalam usia seperti ini, ada yang mendapat hasil yang baik secara signifikan tetapi ada juga yang memperoleh hasil sebaliknya terbenam atau terkenang.  Dalam konteks itulah seharusnya 50 tahun harus menjadi tahun refleksi bagi orang atau lembaga untuk berbenah lebih baik atau sebaliknya memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik.

Chara berenang di laut merah?
 
Berenang di laut merah diperkenalkan oleh pakar manajemnen Indonesia Rhenald Kasali untuk melukiskan kompetisi dalam dunia usaha dimana persaingan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain saling menjegal dan mengahsilkan yang satu keluarga sebagai pemenang dengan mematikan perusahaan yang lainnya.  Keberhasilan sebuah perusahaan ditentukan oleh seberapa kuat di mematikan perushaan pesaing sehingga membuatnya tak berdaya alias mati.  Kematian dipihak lain menjadikan perusahaan pemenang sebagai perusahaan disegani, dihormati bahkan dijadikan rol model oleh perusahaan lain. Karena itu hasil dari kompetisi ini demikian luar biasa hancurnya, baik owner maupun para karyawannya.  Dalam kompetisi model ini segala macam cara dihalalkan, tidak lagi berpijak pada prinsip kemanusiaan, yang terpenting bagaimana mengalahkan lawan supaya tidak berdaya bahkan harus lenyap. Berenang dilaut merah digambarkan oleh Publius Flavius Vegetius Renatus: bahwa manusia dalah serigala bagi manusia lain karena itu kalau mau damai siaplah untuk perang (Civis pacem parabellum). Ciri khas kompetisi berenang dilaut merah adalah senang kalau kompetitor hancur/lenyap, menghalalkan segala cara untuk menghancurkan lawan, tidak mau mengakui kehebatan lawan, selalu berusaha mencari tahu kelebihan  dan kekurangan lawan dengan sistem spionase, mengabaikan kualitas, tidak mengakui kelemahan, menutup kelemahan dengan praktek kolusi dan nepotise.

Chara berenang di laut biru?

Dalam buku yang ditulis oleh Rhenald Kasali dengan judul Blue Ocean 1990, dilukiskan kompetisi dipandang sebagai hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan sustinabel usaha, sehingga akan bertahan lama. Kompetisi dipandang sebagai sesuatu yang wajib dilakukan untuk mendapat energi persaingan yang kompetitif, sehingga tumbuh energi perubahan dalam suasana usaha yang positif.  Ciri utama dari kompetisi blue ocean adalah kompetitor dipandang sebagai patner untuk perbaikan dalam berbagai aspek, membiarkan kompetitor berkembang, bekerjasama, kelebihan kompetitor dipandang sebagai area untuk belajar, kelemahan diakui secara jujur, dan menerima masukkan dari pihak lain, mengakui secara jujur keterbatasan, tidak memaksan keadaan jika terbatas kemampuannya.

Sejak perpisahannya dari sekolah induk SMA Katolik yang kini dikenal SMA Katolik Cenderwasih disingkat Kato tahun 1954, Chara menjalin relasi yang harmonis dengan sekolah induk, baik sistem adminsitrasi maupun tenaga pendidik masih bergantung pada sumbangsih sekolah induk. Kesepakatan yang disepakati kala itu adalah Chara melaksanakan pendidikan dengan menerima murid para perempuan saja. Kurang lebih 11 tahun Chara menjalankan kesepakatan ini dengan menerima murid hanya perempuan saja. Tahun 1965 an keatas secara pelan tapi pasti Chara berusaha untuk mandiri dengan melepaskan diri dari campur tangan sekolah induk. Untuk mewujudkan itu, para pemangku kepentingan terutama suster JMJ, berusaha memperbaiki sarana belajar dengan mendirikan bangunan sekolah yang memadai  dengan lantai dasar pengerasan dengan semen  berlantai satu sedangkan dindingnya dari papan kayu serta atap seng. Demikian juga administrasi sekolah dilaksanakan sendiri, serta urusan surat izin dari dinas pendidikan diurus dengan baik.  
Semenjak perpisahannya dengan SMA Kato, Chara secara terus menerus berusaha untuk meningkatkan citranya dengan baik selevel dengan sekolah induknya Kato. Usaha itu dimulai dari pembenahan sarana dan prasarana hingga pada peningkatan sumber daya tenaga kependidikan. Upaya itu salah satunya adalah pada tahun 1967  seorang guru legendari Chara Enock Kumendong diterima untuk menjadi tenaga pendidik oleh suster Alphonse. Suster juga dikenal  sebagai kepala sekolah legendaris Chara yang terkenal dengan disiplinnya. Beliau menerima pak Enock sebagai pendidik yang sangat  mendukung kedisiplinanan yang ditanamkan oleh suster Alphonse. Kedisiplinan yang ditanamkan suster Alphonse dikenang juga oleh para murid, sebagaimana dilukiskan oleh alumni Chara yang kini menjadi salah seorang guru besar Universitas Negeri Makassar, Prof.Dr. Hajah Rubiatun Idris, yang mengatakan” jika suster berdiri dihadapan anak-anak muridnya, tak ada yang berani bicara, semua diam” keteladanan beliau yang jarang bicara tapi tegas dalam mengambil tindakan menjadi karisma yang luar biasa pada pribadi beliau.
Tahun 1980, usaha untuk melepaskan diri dari Kato benar-benar terwujud setelah dikeluarkannya surat izin dari diknas untuk menyelenggarakan pendidikannya sendiri tanpa berafiliasi dengan Kato. Secara legalitas Chara baru didirikan tahun 1980. Pasca berdikari Chara mengeluarkan strategi perbaikan citra untuk melepaskan diri dari bayang-bayang ketenaran induknya. Untuk memuluskan strategi tersebut cultur sekolah diperkenalkan kepada pendidik dan para murid. Usaha itu terus menerus dikalakukan tanpa henti, meski mendapat resistensi dari segelintir siswa. Hasil dari konsistensi tersebut berbuah manis, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Chara meningkat secara singnifikan.

Sebagai sekolah yang dibidani oleh tarekat JMJ, ciri khas JMJ harus ditampilkan ke permukaan seperti Disiplin, Jujur, adil, ramah tamah, berintegritas, adil, terus meneruskan digaungkan sehingga seluruh civitas akademika wajib melaksanakan itu dan yang menjadi rol model adalah kepala sekolah. Tahun 1990 an perbaikan sarana pembelajaran dilakukan.dengan membangun gedung baru dan perbaikan gedung lama yang sudah tidak memadai. Penerimaan  tenaga guru dan karyawan juga diseleksi secara ketat tanpa melihat latar belakang suku, etnis, dan agama. Demikian juga penerimaan murid baru, diseleksi secara ketat  tanpa memperhatikan latar belakang entitias sosial dan budayanya. Kecuali satu hal yaitu ratio antara laki-laki dan perempuan harus lebih banyak perempuan.
Tahun 2000 an keatas buah perjuangan chara sudah menampakan hasil yang sangat manis, minat masyarakat untuk  menyekolahkan anaknya ke Chara meningkat  secara signikan, dari hanya  satu kelas saat didirikan, 3 kelas, dan tahun 1967  6 kelas, tahun 2000 an menjadi 19 kelas, dan kini Chara sudah berjumlah 30 kelas mulai dari kelas I hingga kelas III (X – XII). Sebuah perkembangan yang membanggakan. Tingkat kepercayaan masyarakat seperti ini, adalah akumulasi dari strategi jitu yayasan dan kepala sekolah, dimana tenaga pendidik dikirim untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan  oleh perguruan tinggi, dinas pendidikan bahkan didorong untuk mengambil program magister. Pada saat yang sama charakter JMJ disosialisasikan secara terus menerus kepada para suster, para pendidik, karyawan bahkan kepada pada peserta didik. Tahun 2014 secara resmi CharakterJMJ harus diguanakan pada setiap unit aktivitas JMJ baik unit pendidikan maupun kesehatan.  Adapun Charakter tersebut adalah tanggap, kasih sayang, adil, integritas, ramahtamah, disipin, kretif, tanggung jawab, rasa hormat. Inilah babak baru perjalan Chara dekade selanjutnya.

Pandangan Chara terhadap institusi pendidikan lain.


Relasi Chara dengan sekolah induk mengalami pasang surut pasca memisahkan diri. Hal ini dimaklumi karena mercusuarnya juga berbeda yang induk dibawah naungan keuskupan, yang filial dibawah naungan tarekat JMJ. Ada masa pasang, dimana suster JMJ diminta untuk menahkodai Kato, maka relasi keduanya  harmonis  seperti diadakannya acara pertandingan persahabatan. Tapi ada juga surutnya dimana suster JMJ menarik diri dari sana karena perbedaan charater dalam melaksanakan tugas. Perbedaan inilah yang dimaksud mengalami pasang surut. Meski demikian, relasi Kato dan Chara hingga kini berjalan baik-baik saja. Demikian juga dengan sekolah-sekolah lain, Chara menjalin relasi dengan baik, hal ini terwujud dalam masuknya Chara sebagai salah satu anggota asosiasi sekolah swasta kota Makassar. Bagaimana dengan sekolah negeri? Buat Chara sekolah negeri dan swasta adalah mitra sejajar, tempat belajar untuk lebih baik, lebih baik lagi. Karena itu mereka semua mitra yang harus berdiri sejajar, tak boleh saling mensubordinasi apalagi dikotomi sekolah swasta dan negeri, karena mencerdaskan bangsa bukan saja tanggung jawab pemerintah tetapi masyarakat secara umum (yayasan swasta).  Dari uraian diatas mari kita bermenung, Chara berenang dilaut merah atau laut biru? Terserah kita semua dan semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar: