Minggu, 29 Mei 2016

POMPA BENSIN, ANTARA TERIMA KASIH DAN KORUPSI DI LEMBOR MANGGARAI BARAT



Tanggal 5 Mei 2016, KM Tilong Kabila, merabat ke pelabuhan Labuan Bajo,tepat jam 08.15 menurut jam yang melingkar di tangan kami. Kami melanjutkan perjalan dari Labuan Bajo  menuju tujuan akhir yaitu kampung Wasewengke. Kami menumpang kendaraan salah seorang keluarga dari goloworok.  Kondisi jalan dari Labuan Bajo menuju Ruteng sangat bagus,  Setelah istirahat sejenak di rumah makan Lembor, kami lanjutkan perjalan, dan kira-kira 5 km pasca tempat istirahat terdapat satu-satunya  tempat pengisian bahan bakar minyak, pompa bensin masyarakat menyebutnya. Karena perjalanan masih jauh, sementara jarum takar bahan bakar mobil menunjukan angka harus diisi, maka kami singgah untuk isi bahan bakar. Kendaraan yang kami tumpangi menempati deretan paling belakang dari deretan kendaraan yang antri untuk isi bbm, kami mencoba hitung, persis yang ke 21, disaat yang sama lingkaran cirgen yang isinya kurang lebih 20 liter, mengelilingi tangki pengisian bbm. Saya keluar dari kendaraan dan menjepret dengan kamera jadulku, mengarsip gambar yang aneh menurutku, karena di Makassar tidak ditemukan suasana seperti ini. Pelayan di tempatpengisian ini memang Cuma 3 orang, seorang cewek tengah asik menghitung rupiah, seorang laki-laki muda sedang asik bercengkrama dengan para sopir dan pemilik Cirgen.
Saya termangu melihat situasi ini, oaduh daerahku begini kondisinya gumamku dalam hati.

TERIMA KASIH ATAU KORUPSI?

Saat kami menunggu giliran untuk mengisi bbm, saya bertanya kepada awak kendaraan, bos lama nanti kita menunggu disini? Ya, jawab sang awak kendaraan, tapi tenang saja kaka, disini mesti siap Rp 20.000,- setiap kali isi bbm. Untuk apa tanya saya? Untuk ucapan terima kasih kepada pegawai pengisi bensin. Mengapa demikian? Kalau tidak begitu, maka dia tidak akan cepat mengisi kendaraan kita. Nanti diisi setelah selesai semua cirgen itu diisi. Bahaya dong kalau begitu sahut saya. Ya.... demikian tradisi yang dibangun disini, sudah sejak lama.  Oah.... korupsi nih sahaut saya. Ya..... mau bagaimana lagi, kita tak ada pilihan lain, mereka ini semaunya saja disini. Apakah sudah pernah menyampaikan ke aparat yang berwenang? Ya.... kami tak tahu mau lapor kemana, buat kami yang penting kami bisa ini bbm.

PERHATIAN DARI PEMERINTAH.

Cukilan pengalaman ini, tentu sebagai masukkan bagi pemerintah agar pelayan masyarakat khususnya di fasilitas umum sebaiknya diawasi. Jangan biarkan masyarakat diperlakukan seenaknya oleh anggota masyarakat lain yang bertanggung jawab disitu.  Semoga bermanfaat.


Jumat, 27 Mei 2016

BERPIKIR, BERBUAT,TAHAN BANTING, PERCAYA TUHAN, TERUS LAKUKAN, ASAH ENTERPRENEUR

       Tanggal bersejarah dalam perjuangan hidupku adalah 19 Maret 2016, hal ini terkait dengan perayaan 25 tahun pengabdianku di Yayasan Joseph Yeemye, meski sebetulnya pencapaian 25 tahun itu sudah terjadi pada 1 Juli 2015. Artinya 19 Maret 2016 adalah perayaan seremonial saja, karena sesungguhnya tahun 2016 pengabdianku disini (Chara) sudah 26 tahun.  Entah sebuah kebetulan atau karena memang sengaja dirancang oleh Yayasan bahwa perayaan hari bakti Yayasan dibuat sedemikian wah, dimana seluruh unit persekolah Yayasan Joseph Yeemye  se sulselra di kumpul di Makassar, mulai dari Raha, Pomalaa, Toraja, dan tentu saja Makassar sendiri.  Dua mata acara yaitu  Retret suci yang berlangsung di Malino, dibawah bimbingan Rm Tery Panomban yang luar biasa, dilanjutkan di Makassar dengan mata acara hasil evalusi dari tim evaluator terhadap kinerja sekolah-sekolah dibawah naungan Yayasan Joseph Yeemye seSulSelRa.  Tiba juga giliranku untuk berbagi dengan teman-teman guru TK - SMP dari luar Makassar, untuk berbagi model pembelajaran yang atraktif untuk menarik minat para siswa dalam menerima pelajaran yang diberikan para guru. Model belajar yang kutemukan adalah model pembelajaran ESTAFET. Rupanya menarik minat para peserta yang kurang lebih 100 orang, hal ini dibuktikan dengan antusiasnya peserta bertanya. Saking banyaknya pertanyaan membuatku tambah antusias juga untuk mengeksplor lebih jauh tentang model pembelajran ini. Peserta sangat antusias untuk menerapkan model pembelajaran ini, setelah pulang dari Makassar. Selamat yah.....teman-teman, ini dipraktekan kepada siswa/i, jangan masuk di saku saja, tutup saat mengakhiri sesi ku.
      Berpikir, syukuran telah selesai, lalu selanjutnya melanjutkan hidup, dengan mengabdi kepada Chara ya, tapi usia pengabdian di Chara terbatas, hingga usia 60 tahun. Setelahnya apa yang hendak ku buat?  Ah melanjutkan hobiku yaitu membuka usaha kecil-kecilan. Usaha konvensional, berbeda dengan dunia usaha yang selama ini ku tekuni yaitu multi level marketing. Berpikir  keras, kira-kira usaha konvensional apa yang cocok.  Untuk mewujudkan pikiran ini, dicoba menjual minuman dingin Ziger yang kebetulan masih dalam grup MLM CNI. Maka pada acara Fancyfair Chara 2015, kelas kami menjual minuman ini, hasilnya sangat luar biasa.  Murid-muridku menggoda, bagus kalau pak guru membuka usaha ini, minumman ini sangat enak, menyegarkan dan  menyehatkan, karena semua bahan bakunya alamiah, halal, dapat izin dari Depkes RI.
      Tgl 8 Desember 2015, melakukan eksen perdana, dengan lokasi dipinggir jalan  Lamadukeleng, pintu tengah masuk Chara. Penjualannya lumayan bagus, hingga pertengahan Maret 2016, hampir tercapai titik impas modal atau orang bisnis katakan capai BEP. Kami sekeluarga sangat bersemangat, karena respon pasar terhadap minuman sangat bagus. Muncul masalah baru yaitu kami harus mencari tenaga untuk membantu jualan ini lebih baik. Maka tanggal 18 Januari 2016, kami mendapat seorang ibu, Eda diberi nama. Penjulan hingga 12 Maret 2016, meningkat secara signifikan setiap hari, kami bertambah semangat lagi, sehingga memesan satu both lagi untuk dtempat di SMAK Cenderwasih.  
Tanggal 14 Maret 2016, SatPol PP Kodya Makassar, merasia pedagang K5 disepanjang jalan lamadukeleng. Gerobak kami jadi target utama, dibredel. Tuhan rupanya masih sayang kami, salah seorang anggota SatPol PP menghampiri ibu Eda, dan mengatakan hentikan menjual karena banyak rekannya dalam perjalanan untuk merazia semua penjuak K5 di jalanan dalam rangke penertiban perayaan Adipura kota Makassar. Benar saja, 30 menit kemudian puluhan anggota SatPol PP, datang dan menyita seluruh barang milik pedagang K5, termasuk  kami. Gerobak kami segera masukkan dalam halaman sekolah dibantu oleh SatpAm SMA bpk Frans bersama ibu Eda. Sayangnya  terpal kami yang besar tak bisa kami selamatkan, dan dissita oleh SatPol PP.
     Pasca pembredelan tersebut, kami terguncang hebat, terutama ibu Rosalia, yang setiap saat berjualan bersama ibu Eda. Kita sudah habis........,kasian, dimana lagi kita menjual, sementara dalam kantin sekolah belum diijinkan untuk menjual. Setiap hari ibu Rosa sering uring-uringan dan meminta kepadaku agar gerobak tersebut biar dijual saja. Saya hanya terdiam, sambil berpikir keras apakah setuju untuk dijual atau mencari lokasi lain.   Saya mencoba menenangkan beliau, bahwa resiko seorang usahawan adalah seperti itu. Jadi tak boleh putus asa. Kami mencoba untuk meminta bantuan dari pemilik rumah makan samudera, untuk numpang sementara, dan puji Tuhan beliau menerima kami dengan tangan terbuka tanpa kompensasi apapun. Sayang hasilnya tak seperti apa yang diharapkan. Kami semakin tertekan karena sebelum pembredelan oleh satpol PP, kami sudah pesan satu booth lagi, dan standby di rumah. Kami sudah mencoba untuk melobi 3 tempat untuk kami pakai sebagai tempat jualan, yaitu SMA Katolik Cenderwasih, SMA Katolik Frater dan Univ. Atmajaya Makassar. Dari ketiga tempat tersebut yang menerima kami adalah SMA Kato dan Frater. Kedua tempat ini hingga saat ini tetap terbuka untuk menerima kami, sayangnya prospek usaha pada kedua tempat ini, kurang bagus karena jumlah siswa yang belum signifikan, juga daya beli siswanya belum memadai.
   Awal April 2016, kami melanjutkan lobi dengan Ibu Sarche di BPLP Barombong, setelah sebelumnya dilobi oleh ananda Ponsianus. Hasilnya kami dizinkan menjual disana, ikut nebeng pada Dharmawanita BPLB. Baru seminggu kami menjual, tiba-tiba tanggal 14 April 2016, ada perintah agar para penjual segera hentikan penjualannya karena kantin akan segera direnovasi. Tgl 15 April kami menghadap Bp Yuvens, untuk minta izin menjual di samping kantor Polisi Shabara, depan SMP Katolik Rajawali. Beliau menerima kami dengan tangan terbuka dengan sejumlah syarat yaitu harus membayar uang listrik sebulan Rp 600.000,- Setelah kami sepakat, maka tanggal 18 April 2016, kami mulai menjual disana.

Tuhan menjawab doa kami.
Tanggal 18 April dan tanggal 26 April adalah hari kiriman kado Paskah dari Tuhan untuk usaha kami. kedua tanggal tersebut titik balik dari usaha kami, dimana tgl 18 gerobak kami bisa jualan di dekat kantor Polisi, dan tanggal 26 April, yayasan mengizinkan kami untuk menjual dalam kantin SMAK Rajawali dengan ageemen lisan, bahwa  Gerobak tersebut jualan tersebut milik Yayasan dan setiap hari menyisihkan 20% dari total penjualan harian diserahkan ke Yayasan. Sujud syukur tak terhingga  kepada Tuhan atas rancanganNya yang indah pada waktunya. 

Cobaan datang lagi, tanggal 18 Mei 2016, tiba-tiba dapat pemberitahuan bahwa seluruh penjual di area kepolisian jalan Arif Rate, dihentikan, karena ada perintah dari Kapoltabes Makassar. Ah.... apa lagi rencana Tuhan untuk usaha ini.... entah lah.... biarlah laksana air mengalir ikut rencanaNya.
     

Jumat, 13 Mei 2016

ARIFNYA JOKO WIDODO (PRESIDEN KITA)

Tiga hari terakhir ini, media nasional memuat sikap segelintir anak bangsa yang membully Jokowi (Presiden) kita, mulai dari tak memiliki rasa sependeritaan dengan penderita kabus asap hingga yang hingar bingar terakhir diberbagai media massa nasional bahkan lebih hebat lagi media sosial rekayasa photo pertemuan dengan suku anak dalam.Ketika mengkritik kepergian Presiden ke luar negeri disaat sebagaian anak bangsa yang bertaruh nyawa menghadapi tebalnya kabut asap yang menghampiri paru-paru manusia yang terpapar. Rasa iba para pengkritik kepada anak bangsa yang terpapar asap justeru bukan mencari solusi yang bijak, seperti misalnya menggalang dana untuk para korban, tetapi, tetapi menempuh langkah yang bejad dengan menyalahkan Presiden sebagai kepala negara. Rupanya bangsa ini sudah mulai tergerus rasa santun dalam bertutur dan berprilaku terutama para komentator politik yang pintar itu, entah mempromosikan pikirannya yang bejad itu sehingga rakyat tambah tidak bersimpati padanya atau mungkin dalam hatinya mendapat dukungan dari masyarakat luas. Disadari benar bahwa komentator politik seperti ini akan mendapat hukuman sosial dari masyarakat umum, lihatlah faktanya poltisi yang blinger seperti ini tak dipercaya rakyat, kalau ia memiliki partai politik pastilah partainya dihukum dalam bentuk tak lolos ke senayan partainya apalagi politisinya.

Minggu, 18 Oktober 2015

CHARA BERENANG DI LAUT MERAH ATAU BIRU



Usia chara sudah lebih dari 60 tahun, saat ini tengah menikmati usia emas. Usia emas adalah terminologi yang kerap digunakan oleh seseorang atau lembaga dalam pencapaian yang sudah dicapai berkat perjuangan yang sudah dilakukan pada masa-masa sebelumnya. Perjuangan itu tentu saja penuh dengan tantangan yang luar biasa beratnya sehingga pencapaian pada masa 50 tahun dipandang sebagai masa puncak hidup atau karier atau usia seseorang. Itulah sebabnya ada istilah pesta emas, dalam pernikahan dari sebuah kelurga misalnya.  Ada dua arah yang didapat oleh suatu lembaga atau orang dalam usia seperti ini, ada yang mendapat hasil yang baik secara signifikan tetapi ada juga yang memperoleh hasil sebaliknya terbenam atau terkenang.  Dalam konteks itulah seharusnya 50 tahun harus menjadi tahun refleksi bagi orang atau lembaga untuk berbenah lebih baik atau sebaliknya memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik.

Chara berenang di laut merah?
 
Berenang di laut merah diperkenalkan oleh pakar manajemnen Indonesia Rhenald Kasali untuk melukiskan kompetisi dalam dunia usaha dimana persaingan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain saling menjegal dan mengahsilkan yang satu keluarga sebagai pemenang dengan mematikan perusahaan yang lainnya.  Keberhasilan sebuah perusahaan ditentukan oleh seberapa kuat di mematikan perushaan pesaing sehingga membuatnya tak berdaya alias mati.  Kematian dipihak lain menjadikan perusahaan pemenang sebagai perusahaan disegani, dihormati bahkan dijadikan rol model oleh perusahaan lain. Karena itu hasil dari kompetisi ini demikian luar biasa hancurnya, baik owner maupun para karyawannya.  Dalam kompetisi model ini segala macam cara dihalalkan, tidak lagi berpijak pada prinsip kemanusiaan, yang terpenting bagaimana mengalahkan lawan supaya tidak berdaya bahkan harus lenyap. Berenang dilaut merah digambarkan oleh Publius Flavius Vegetius Renatus: bahwa manusia dalah serigala bagi manusia lain karena itu kalau mau damai siaplah untuk perang (Civis pacem parabellum). Ciri khas kompetisi berenang dilaut merah adalah senang kalau kompetitor hancur/lenyap, menghalalkan segala cara untuk menghancurkan lawan, tidak mau mengakui kehebatan lawan, selalu berusaha mencari tahu kelebihan  dan kekurangan lawan dengan sistem spionase, mengabaikan kualitas, tidak mengakui kelemahan, menutup kelemahan dengan praktek kolusi dan nepotise.

Chara berenang di laut biru?

Dalam buku yang ditulis oleh Rhenald Kasali dengan judul Blue Ocean 1990, dilukiskan kompetisi dipandang sebagai hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan sustinabel usaha, sehingga akan bertahan lama. Kompetisi dipandang sebagai sesuatu yang wajib dilakukan untuk mendapat energi persaingan yang kompetitif, sehingga tumbuh energi perubahan dalam suasana usaha yang positif.  Ciri utama dari kompetisi blue ocean adalah kompetitor dipandang sebagai patner untuk perbaikan dalam berbagai aspek, membiarkan kompetitor berkembang, bekerjasama, kelebihan kompetitor dipandang sebagai area untuk belajar, kelemahan diakui secara jujur, dan menerima masukkan dari pihak lain, mengakui secara jujur keterbatasan, tidak memaksan keadaan jika terbatas kemampuannya.

Sejak perpisahannya dari sekolah induk SMA Katolik yang kini dikenal SMA Katolik Cenderwasih disingkat Kato tahun 1954, Chara menjalin relasi yang harmonis dengan sekolah induk, baik sistem adminsitrasi maupun tenaga pendidik masih bergantung pada sumbangsih sekolah induk. Kesepakatan yang disepakati kala itu adalah Chara melaksanakan pendidikan dengan menerima murid para perempuan saja. Kurang lebih 11 tahun Chara menjalankan kesepakatan ini dengan menerima murid hanya perempuan saja. Tahun 1965 an keatas secara pelan tapi pasti Chara berusaha untuk mandiri dengan melepaskan diri dari campur tangan sekolah induk. Untuk mewujudkan itu, para pemangku kepentingan terutama suster JMJ, berusaha memperbaiki sarana belajar dengan mendirikan bangunan sekolah yang memadai  dengan lantai dasar pengerasan dengan semen  berlantai satu sedangkan dindingnya dari papan kayu serta atap seng. Demikian juga administrasi sekolah dilaksanakan sendiri, serta urusan surat izin dari dinas pendidikan diurus dengan baik.  
Semenjak perpisahannya dengan SMA Kato, Chara secara terus menerus berusaha untuk meningkatkan citranya dengan baik selevel dengan sekolah induknya Kato. Usaha itu dimulai dari pembenahan sarana dan prasarana hingga pada peningkatan sumber daya tenaga kependidikan. Upaya itu salah satunya adalah pada tahun 1967  seorang guru legendari Chara Enock Kumendong diterima untuk menjadi tenaga pendidik oleh suster Alphonse. Suster juga dikenal  sebagai kepala sekolah legendaris Chara yang terkenal dengan disiplinnya. Beliau menerima pak Enock sebagai pendidik yang sangat  mendukung kedisiplinanan yang ditanamkan oleh suster Alphonse. Kedisiplinan yang ditanamkan suster Alphonse dikenang juga oleh para murid, sebagaimana dilukiskan oleh alumni Chara yang kini menjadi salah seorang guru besar Universitas Negeri Makassar, Prof.Dr. Hajah Rubiatun Idris, yang mengatakan” jika suster berdiri dihadapan anak-anak muridnya, tak ada yang berani bicara, semua diam” keteladanan beliau yang jarang bicara tapi tegas dalam mengambil tindakan menjadi karisma yang luar biasa pada pribadi beliau.
Tahun 1980, usaha untuk melepaskan diri dari Kato benar-benar terwujud setelah dikeluarkannya surat izin dari diknas untuk menyelenggarakan pendidikannya sendiri tanpa berafiliasi dengan Kato. Secara legalitas Chara baru didirikan tahun 1980. Pasca berdikari Chara mengeluarkan strategi perbaikan citra untuk melepaskan diri dari bayang-bayang ketenaran induknya. Untuk memuluskan strategi tersebut cultur sekolah diperkenalkan kepada pendidik dan para murid. Usaha itu terus menerus dikalakukan tanpa henti, meski mendapat resistensi dari segelintir siswa. Hasil dari konsistensi tersebut berbuah manis, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Chara meningkat secara singnifikan.

Sebagai sekolah yang dibidani oleh tarekat JMJ, ciri khas JMJ harus ditampilkan ke permukaan seperti Disiplin, Jujur, adil, ramah tamah, berintegritas, adil, terus meneruskan digaungkan sehingga seluruh civitas akademika wajib melaksanakan itu dan yang menjadi rol model adalah kepala sekolah. Tahun 1990 an perbaikan sarana pembelajaran dilakukan.dengan membangun gedung baru dan perbaikan gedung lama yang sudah tidak memadai. Penerimaan  tenaga guru dan karyawan juga diseleksi secara ketat tanpa melihat latar belakang suku, etnis, dan agama. Demikian juga penerimaan murid baru, diseleksi secara ketat  tanpa memperhatikan latar belakang entitias sosial dan budayanya. Kecuali satu hal yaitu ratio antara laki-laki dan perempuan harus lebih banyak perempuan.
Tahun 2000 an keatas buah perjuangan chara sudah menampakan hasil yang sangat manis, minat masyarakat untuk  menyekolahkan anaknya ke Chara meningkat  secara signikan, dari hanya  satu kelas saat didirikan, 3 kelas, dan tahun 1967  6 kelas, tahun 2000 an menjadi 19 kelas, dan kini Chara sudah berjumlah 30 kelas mulai dari kelas I hingga kelas III (X – XII). Sebuah perkembangan yang membanggakan. Tingkat kepercayaan masyarakat seperti ini, adalah akumulasi dari strategi jitu yayasan dan kepala sekolah, dimana tenaga pendidik dikirim untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan  oleh perguruan tinggi, dinas pendidikan bahkan didorong untuk mengambil program magister. Pada saat yang sama charakter JMJ disosialisasikan secara terus menerus kepada para suster, para pendidik, karyawan bahkan kepada pada peserta didik. Tahun 2014 secara resmi CharakterJMJ harus diguanakan pada setiap unit aktivitas JMJ baik unit pendidikan maupun kesehatan.  Adapun Charakter tersebut adalah tanggap, kasih sayang, adil, integritas, ramahtamah, disipin, kretif, tanggung jawab, rasa hormat. Inilah babak baru perjalan Chara dekade selanjutnya.

Pandangan Chara terhadap institusi pendidikan lain.


Relasi Chara dengan sekolah induk mengalami pasang surut pasca memisahkan diri. Hal ini dimaklumi karena mercusuarnya juga berbeda yang induk dibawah naungan keuskupan, yang filial dibawah naungan tarekat JMJ. Ada masa pasang, dimana suster JMJ diminta untuk menahkodai Kato, maka relasi keduanya  harmonis  seperti diadakannya acara pertandingan persahabatan. Tapi ada juga surutnya dimana suster JMJ menarik diri dari sana karena perbedaan charater dalam melaksanakan tugas. Perbedaan inilah yang dimaksud mengalami pasang surut. Meski demikian, relasi Kato dan Chara hingga kini berjalan baik-baik saja. Demikian juga dengan sekolah-sekolah lain, Chara menjalin relasi dengan baik, hal ini terwujud dalam masuknya Chara sebagai salah satu anggota asosiasi sekolah swasta kota Makassar. Bagaimana dengan sekolah negeri? Buat Chara sekolah negeri dan swasta adalah mitra sejajar, tempat belajar untuk lebih baik, lebih baik lagi. Karena itu mereka semua mitra yang harus berdiri sejajar, tak boleh saling mensubordinasi apalagi dikotomi sekolah swasta dan negeri, karena mencerdaskan bangsa bukan saja tanggung jawab pemerintah tetapi masyarakat secara umum (yayasan swasta).  Dari uraian diatas mari kita bermenung, Chara berenang dilaut merah atau laut biru? Terserah kita semua dan semoga bermanfaat.

Selasa, 06 Oktober 2015

DUNIA RISET PERLU DIPERKENALKAN SEJAK DINI

 
 Penelitian yang dilakukan oleh siswa/I   dimaksudkan untuk melatih sejak dini dunia peneltian kepada para siswa  sehingga ketika melanjutkan studi ke perguruan tinggi mereka sudah terbiasa untuk melakukannya.  Harus diakui bahwa didunia perguruan tinggi baik tingkat madya, strata, magister maupun  doctor, tuntutan pembuatan karya tulis  merupakan keharusan mutlak untuk dilakukan. Penulisan makalah, skripsi, tesis, disertasi mejadi momok yang menakutkan didunia pendidikan tinggi khususnya pada level madya dan strata. Kejujuran ilmiah kerap dikesampingkan oleh para calon sarjana, dengan cara memmbayar  orang lain untuk menulis karya tulisnya dalam rangka penyelesaian studinya. Menyedihkan, karena seorang calon intelektual malas menajamkan intelektualitasnya dengan mencari jalan pintas. Selain itu jumlah peneliti di Indoensia masih sangat rendah dibandingkan dengan Malaysia. Malaysia, setiap tahun mampu menerbitkan buku enam ribu hingga tujuh ribu( Dr Eng Mikrajuddin Abdullah,2004). Atas dasar kondisi ini, maka guru membimbing siswa/I SMA Katolik Rajawali untuk melakukan penelitian sejak awal yaitu SMA.
                Paradigma lama,  mengatakan bahwa dunai peneltian adalah dunia perguruan tinggi, sekarang  harus ada terobosan sejak dini, SMA harus mulai melakukan peneltian, mengapa demikian ya, agar tidak gagap di perguruan tinggi, dan juga di perguruan tinggi tinggal diperdalam.  Memang Sulawesi selatan belum terbiasa, pada hal secara nasional DikNas  sudah mendorong siswa /I untuk melakukan  penelitian. Banyak hasilnya, seperti bagaimana siswa/I di P Jawa melakukan peneltian” Jus yang terbuat dari biji Mangrov”,  Pengemis digrobogan yang mendapat penghasilan Rp 100.000,-/hari.  Biji rambutan lebih tinggi kwalitas gizinya dibandingkan dengan Tempe dan lain-lain. Mereka menulis dalam rangka mengikuti olimpiade  penelitian Nasional yang diadakan oleh Mendiknas. Sayangnya dikNas Sulawesi selatan belum mendorong ini ke sekolah-sekolah untuk dilakukan.
Guru berperan untuk memotivasi, memberi  dorongan, menjadi konsultan  dalam
melakukan penlitian dengan ilmu yang diperolehnya saat belajar di perguruan tinggi.  Selain itu memang guru wajib memahami  dunia penelitian, karena tuntuan kurikulum menghendakinya khususnya mata ajar sosiologi.
Sampel yang diambil tak boleh jauh-jauh, karena kegiatan peneltian ini terintegras dengan kegiatan kurikuler, dalam konteks peneltiain yang dilakukan siswa/I SMA Katolik Rajawali, populasi dan sampelnya adalah siswa/I SMA Katolik sendiri.
Penelitian ini melibatkan kelas  dua belas saja, akan tetapi  konsep penelitiannya sudah diberikan pada saat mereka kelas sepuluh melalui  mata ajar Karya Ilmiah Remaja (KIR). Hal ini dilakukan agar ketika mereka kulih urusan makalah dan menyusun karya tulis itu sudah menjadi hal yang biasa.
Hasil  peneltian ini digunakan untuk kepentingan  siswa/I setelah menyelesaikan studi di SMA Katolik Rajawali  saat di perguruan tinggi. Dan yang terpenting adalah untuk kami pakai di sekolah, seperti penguatan aturan sekolah. Contohnya dua tahun sebelum sekarang ini, siswa/I melakukan penelitan  dengan judul “ Pengaruh penggunaan HP di sekolah terhadap prestasi belajar siswa di SMA Katolik Rajawali”. Hasilnya tidak signifikan, karena itu disarankan, boleh membawa HP ke sekolah, tapi harus disimpan dilocker kelas, dan stelah selesai pelajaran, boleh diambil kembali.
Demikian juga saat ini, sekelompk siswa melakukan penelitian dengan judul “ Prilaku School Bullying terhadap siswa/I SMA Katolik Rajawali ” yang melibatkan 5 orang siswi. Tema yang diangkat adalah pengaruh prilaku school bullying  terhadap  tata pergaulan siswa/I SMA Katolik Rajawali tahun 2012.  Mereka mengambil sampel sejumlah seratus orang dari  seribu orang populasi dan semuanya adalah sisw/I SMA Katolik Rajawali.
Metode yang digunakan dalam peneltian mereka adalah wawancara dan penyebaran angket sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan. Hasil  wawancara dan angket disandingkan dan ternyata apa yang ditemukan dalam wawancara juga didukung oleh hasil angket.
Hasil penelitiannya mencengangkan, ternyata sekolah sedisiplin SMA Katolik Rajawali masih ada prilaku school bullying, meski dalam taraf iseng, seperti membentak adik kelas oleh kakak kelas, persaingan. Meski demikian ini kan masukkan yang berharga bagi sekolah, agar ke depan harus meperhatikan hal ini, karena prilaku kekerasan kerap berawal dari hal-hal sepele seperti iseng.

Jumat, 02 Oktober 2015

TULUS BERBUAH SYUKUR,SEBUAH REFLEKSI



Kegembiraan ayah ibu (keluarga) ketika putra putrinya menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Tak heran orang berusaha ekstra keras untuk mendapat uang membiayai anaknya untuk kuliah, terlebih lagi ketika anaknya masuk tahap akhir penyelesian studi di perguruan tinggi. Semangat untuk mengumpulkan uang lebih hebat lagi, berapapun banyaknya. Orang tua yang tempat tinggalnya didesa terjauhpun berusaha untuk hadir dalam ritual yang namanya wisuda sarjana untuk anaknya. Penampakan wajah yang sumringah tatkala menyaksikan anaknya menggunakan pakain khusus wisudawan yang dinomenkan toga. Apa yang kami alami adalah bagian dari rasa yang dialami oleh kami ketika menghadiri wisuda putra pertama dan putri semata wayang tanggal 24 Juni 2015.
Tgl 11 September 2015, kegembiaraan lebih lagi kami alami, ketika sang putri diterima untuk bekerja pada sebuah kantor swasta yang cukup terkenal di Makassar. Rasa syukur kami tak pernah hentikan kami sampaikan kepada Tuhan, oleh karena semua itu sduah dirancangNya untuk keluarga kami secara khusus untuk putri kami. Pasca diterima untuk bekerja, kami memperhatikan semangat pengabdiannya mulai muncul ditengah-tengah kecapehan yang dialami selamat seharian bekerja. Kami tetap memberi support bahwa itulah dunia pengabdian yang nyata dalam masyarakat, ada senangnya, ada tantangannya, tetap harus dijalani.

 Tanggal 30 September 2015, malam hari jam 08.15, ketiak situasi santai di rumah, datanglah putriku, dengan senyumnya yang khas, sambil membawa kantong kresek berwarna hitam meletakannya saja begitu diatas meja makan, sepintas pandanganku mengarah ke meja makan, tapi menahan tanya, membiarkannya untuk masuk ke kamar ganti pakainnya.  Akhirnya setelah ganti pakaian, dia menghampiriku, sambil membawa 6 lembar uang berwarna merah, keluar dari mulut mungilnya, papa, ini gaji pertama ku, ini bagiannya papa, ini baginnya mama, tak lupa juga menhmpiri kakaknya dan  menyodor selembar uang berwarna biru. Aku terharu dan merangkulnya serta mengajaknya untuk naikkan doa syukur kehadirat Tuhan.Doa itu dilantunkan sambil meneteskan air mata haru, gembira atas semua yang Tuhan berikan ini. Terima kasih anak ku, terima kasih Tuhan, atas kebaikan MU untuk kelaurga kami. Rasanya semua pengorbanan yang sudah kami alami selama mereka masih dalam kandungan hingga saat ini sudah terbalas semua. Terima kasih.